Sulut1news.com, Jembrana — Presiden RI Prabowo Subianto meluncurkan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt peak (GWp) dengan target yang sangat ambisius: rampung dalam waktu kurang dari tiga tahun, bahkan bisa dipangkas menjadi dua tahun. Langkah ini bukan sekadar proyek energi, melainkan fondasi kedaulatan energi nasional yang mengubah peta kelistrikan Indonesia secara menyeluruh.
Peresmian Launching and Groundbreaking Program PLTS 100 GWp digelar di Monumen Operasi Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026). Prabowo secara langsung menantang jajaran Menteri dan pimpinan BUMN energi untuk mengejar target tersebut lebih cepat dari jadwal.
📊 Skala yang Mengubah Peta Kelistrikan
Angka 100 GW bukan sekadar angka besar — kapasitas ini melebihi total kapasitas pembangkit listrik nasional yang saat ini baru sekitar 88 GW. Artinya, dalam waktu kurang dari tiga tahun, Indonesia akan menambah kapasitas listrik baru dari satu sumber terbarukan yang melebihi seluruh kapasitas yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
“Kita akan membangun 100 GW. Dan kita tidak main-main. Target kita adalah 100 GW dalam tiga tahun,” tegas Prabowo.
Presiden mengambil pelajaran dari keberhasilan program swasembada pangan yang ditargetkan 4 tahun namun tuntas dalam 1 tahun. Jika itu bisa terjadi di sektor pangan, hal serupa diyakini bisa terulang di sektor energi.
“Kalau berhasil 2 tahun, tim energi dapat bintang lagi, saya kasih tanda kehormatan,” ucapnya memacu semangat jajaran.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan bahwa tahap awal pembangunan mencakup 5,3 GW, di mana Bali mendapat porsi 1.000 MW yang dilengkapi sistem penyimpanan baterai. Langkah ini memanfaatkan tanah negara untuk mempercepat pelaksanaan, sekaligus mengakhiri ketergantungan Bali pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
– Harga listrik yang dihasilkan: 5–6 sen dolar AS per kWh (belum termasuk biaya baterai)
– Efisiensi di Bali saja: 0,6 juta kiloliter solar per tahun terhemat
– Total investasi: US$ 73 miliar (lebih dari Rp 1.140 triliun)
– Penghematan subsidi energi: Rp 73,9 triliun per tahun
– Penyerapan tenaga kerja: 5,52 juta orang
Di balik angka-angka tersebut, ada tujuan strategis yang lebih besar:
– Menghentikan impor minyak mentah — tidak lagi menguras devisa negara untuk bahan bakar fosil
– Menghentikan impor LPG — kedaulatan energi rumah tangga
– Transisi energi berkelanjutan — mengurangi emisi karbon sekaligus menurunkan biaya listrik masyarakat
– Keterlibatan swasta dan BUMN — melalui skema IPP dan peran Danantara jika harga belum kompetitif
Target ini tentu sangat ambisius. Pembangunan kapasitas sebesar itu dalam waktu singkat menuntut:
– Percepatan perizinan dan pembebasan lahan
– Ketersediaan rantai pasok panel surya dunia
– Pendanaan raksasa yang harus disiapkan secara berkelanjutan
– Penyiapan jaringan transmisi agar listrik bisa sampai ke konsumen
Namun, jika berhasil, dampaknya akan terasa hingga ke tingkat daya beli masyarakat — biaya energi yang lebih murah, devisa negara lebih hemat, dan ketergantungan pada fluktuasi harga minyak dunia berkurang drastis. (EL)






