ManadoSulut

Wagub Victor Mailangkay Temukan Makna Kepemimpinan dalam Perjamuan Kudus: “Di Hadapan Tuhan, Semua Sama”

182
×

Wagub Victor Mailangkay Temukan Makna Kepemimpinan dalam Perjamuan Kudus: “Di Hadapan Tuhan, Semua Sama”

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Manado – Di tengah padatnya agenda pemerintahan, Wakil Gubernur Sulawesi Utara, , justru menemukan makna mendalam tentang kepemimpinan dan kerendahan hati dalam sebuah momen sederhana: Perjamuan Kudus triwulan bersama jemaat, Sabtu (4/4/2026).

Bukan sekadar menghadiri ibadah sebagai rutinitas, kehadiran Wagub bersama sang istri berubah menjadi pengalaman spiritual yang reflektif dan penuh makna. Ia datang sebagai jemaat biasa, namun tanpa diduga turut terlibat langsung dalam pelayanan ibadah—sebuah momen yang menurutnya menjadi pengingat kuat akan esensi kepemimpinan sejati.

Dalam prosesi yang sarat simbol iman, keduanya mengikuti ritual basuh kaki secara bergantian. Tradisi ini dalam kekristenan melambangkan kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama tanpa memandang status atau kedudukan.

Baca Juga:  Gubernur YSK Instruksikan OPD Perkuat Koordinasi Antisipasi Cuaca Ekstrem Akhir Tahun

“Di hadapan Tuhan tidak ada jabatan dan tidak ada posisi. Yang ada hanyalah kerendahan hati dan ketulusan untuk saling melayani,” ungkap Mailangkay, menegaskan nilai universal yang ia rasakan dalam ibadah tersebut.

Ia juga menuturkan, melalui simbol roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus, dirinya kembali diingatkan pada kasih dan pengorbanan bagi umat manusia. Sementara prosesi basuh kaki menjadi refleksi bahwa pelayanan sejati tidak bergantung pada pengakuan, melainkan ketulusan hati.

Menurut Mailangkay, pengalaman ini menjadi semacam “ruang jeda” di tengah tekanan dan dinamika pemerintahan—tempat di mana nilai-nilai spiritual kembali meneguhkan arah hidup dan kepemimpinan.

“Kesibukan boleh padat, tanggung jawab boleh besar, tapi manusia tetap membutuhkan Tuhan sebagai sumber kekuatan,” ujarnya.

Baca Juga:  Wagub Victor Mailangkay: Pembangunan Sulut Harus Dimulai dari Empati kepada Penyandang Disabilitas

Lebih jauh, ia berharap pengalaman rohani tersebut tidak hanya berhenti sebagai refleksi pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Ia mengajak semua pihak untuk terus menghidupi nilai kasih, kerendahan hati, dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Momen ini menegaskan bahwa di balik jabatan publik, seorang pemimpin tetaplah manusia yang membutuhkan pembaruan iman—dan justru dari kesederhanaan itulah lahir kekuatan untuk melayani dengan lebih tulus.

(EL)