Sulut1news.com, Manado – Semangat persatuan dan dukungan terhadap program strategis bangsa mewarnai halaman depan Gedung DPRD Sulawesi Utara, Kamis (25/6/2026). Ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Mapalus ProGibran menggelar aksi damai yang tidak hanya sekadar menyampaikan dukungan, melainkan menjadi cerminan kesadaran kolektif bahwa keberhasilan pembangunan membutuhkan dukungan lintas perbedaan.
Mengusung semangat kebersamaan khas budaya Sulut, massa menyuarakan dukungan tegas terhadap agenda utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Fokus utama tertuju pada dua program unggulan: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, yang dinilai menjadi tulang punggung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Dukungan Melampaui Batas Pilihan Politik
Koordinator aksi, Steven Kembuan, menegaskan bahwa dukungan ini berdiri di atas kepentingan bersama, bukan afiliasi politik semata.
“Kita mungkin berbeda pilihan saat pemilu, tapi saat ini kita punya tujuan yang sama: melihat daerah dan negeri ini maju. Presiden dan Wakil Presiden adalah pemimpin yang sah, maka tugas kita mendukung program yang terbukti membawa manfaat,” ujarnya.
Aspirasi tersebut diterima langsung oleh Anggota DPRD Sulut, Louis Carl Schramm dan Amir Liputo. Keduanya menyatakan komitmen kuat untuk mengawal setiap poin yang disampaikan hingga ke tingkat pembuat kebijakan nasional.
Program Bagus, Jangan Dibuang Hanya Karena Oknum
Salah satu poin pandangan yang menonjol disampaikan Amir Liputo, yang menggunakan perumpamaan tegas untuk menjelaskan prinsip pengawasan yang sehat.
“Kalau ada tikus di lumbung padi, yang ditangkap adalah tikusnya, bukan lumbungnya yang dibakar. Program MBG dan Koperasi Merah Putih ini sudah terbukti manfaatnya. Jika ada kekurangan atau oknum yang menyalahgunakan, yang diperbaiki adalah sistem dan pelakunya, bukan menghentikan program yang sudah dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” tegasnya disambut sorak dukungan massa.
Sementara itu, Louis Schramm menekankan dampak strategis program tersebut. “MBG tidak sekadar memberi makan, tapi membangun kualitas SDM, menekan stunting, dan membuka pasar langsung bagi petani, nelayan, serta pelaku usaha lokal—memutus rantai tengkulak agar hasil jerih payah mereka lebih adil,” tambahnya.
Lebih dari Sekadar Dua Program
Aksi ini juga menjadi wadah penyampaian aspirasi yang lebih luas. Massa mendukung penuh pelaksanaan Asta Cita, menyerukan percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset Koruptor sebagai senjata baru memberantas korupsi, serta mendesak transparansi pengelolaan dana publik termasuk di bawah Badan Gizi Nasional.
Tak kalah penting, dukungan juga ditujukan kepada Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay dalam memperjuangkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Menurut mereka, kepastian hukum di sektor ini akan membuka peluang ekonomi sekaligus melindungi penambang kecil dari praktik yang merugikan.
“Kami terus mendesak agar izin ini segera terbit. Sudah ada dukungan resmi dari DPRD untuk disampaikan ke pusat, agar masyarakat penambang bisa bekerja dengan tenang dan hasilnya dinikmati bersama,” jelas Amir Liputo.
Harapan Keterbukaan Wakil Rakyat
Di sisi lain, koordinator aksi Peps Kembuan menyampaikan catatan halus terkait keterwakilan. Ia menyayangkan tidak banyak anggota dewan yang hadir langsung menemui massa.
“Gedung ini adalah rumah rakyat. Kami datang dengan damai, membawa aspirasi yang baik. Kami harap ke depannya lebih banyak wakil rakyat yang terbuka mendengar dan memperjuangkan suara konstituennya,” ujarnya.
Setelah bertukar pandangan dan mendapatkan tanggapan positif, massa berencana melanjutkan penyampaian aspirasi ke Kantor Gubernur dan Polda Sulut. Sepanjang kegiatan, situasi tetap aman, tertib, dan penuh semangat persatuan. (MARS)






