SulutTomohon

Bukan Sekadar Parade, TIFF 2026 Putar Rp840 Juta untuk Petani Bunga Tomohon

168
×

Bukan Sekadar Parade, TIFF 2026 Putar Rp840 Juta untuk Petani Bunga Tomohon

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Tomohon – Gemerlap Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 ternyata menyimpan cerita ekonomi yang jauh lebih besar dari sekadar parade kendaraan berhias bunga.

Di balik 35 float yang melintas di pusat Kota Tomohon, ada kerja keras puluhan petani lokal yang sejak jauh hari menyiapkan ratusan ribu bunga krisan. Dari festival inilah, sedikitnya Rp840 juta diperkirakan berputar langsung di tingkat petani bunga.

Fakta tersebut menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE saat memberikan sambutan pada Tournament of Flowers (Flower Parade) TIFF 2026 di Menara Alfa Omega, Tomohon, Sabtu (8/8/2026).

Bagi Gubernur Yulius, ukuran keberhasilan TIFF tidak semata-mata terletak pada seberapa meriah parade digelar atau seberapa indah bunga menghiasi kendaraan. Yang lebih penting adalah sejauh mana festival mampu menciptakan nilai ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.

“TIFF menjadi motor kebangkitan ekonomi kreatif masyarakat yang dampaknya dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Yulius.

Sebanyak 37 petani bunga lokal secara swadaya menyiapkan sekitar 353 ribu pohon krisan untuk mendukung penyelenggaraan TIFF 2026. Sementara itu, sebanyak 35 float, terdiri dari 17 float besar dan 18 float kecil, diperkirakan menyerap lebih dari 210 ribu pohon bunga segar.

Baca Juga:  30 Tahun Otonomi Daerah: Gubernur Yulius Selvanus Tekankan Sinergi dan Efisiensi Wujudkan Asta Cita

Dari kebutuhan tersebut, estimasi perputaran ekonomi di tingkat petani mencapai lebih dari Rp840 juta.

Bagi pemerintah provinsi, angka tersebut menunjukkan bahwa sebuah festival pariwisata dapat menjadi instrumen ekonomi yang bekerja dari bawah—dimulai dari kebun petani, bergerak ke tangan perajin dan dekorator, lalu mengalir ke sektor kuliner, perhotelan hingga transportasi.

Yulius menyebut kondisi itu sebagai efek domino dari pertemuan antara seni, pariwisata dan ekonomi masyarakat.

“Angka ini merupakan bukti nyata bagaimana kolaborasi seni dan pariwisata memberikan dampak domino langsung bagi peningkatan pendapatan petani, perajin, dekorator, hingga sektor usaha kuliner, perhotelan dan transportasi,” ujarnya.

TIFF 2026 dengan tema “Collaboration of Spirit” tidak hanya membawa pesan tentang kolaborasi antarinstansi, tetapi juga mencoba menempatkan kekuatan lokal sebagai bagian penting dari panggung internasional.

Dalam sambutannya, Gubernur Yulius menekankan bahwa kolaborasi TIFF melibatkan banyak unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku seni, sektor swasta, UMKM hingga media.

Semangat tersebut kemudian dikaitkan dengan nilai Mapalus—tradisi gotong royong masyarakat Sulawesi Utara yang menurut Yulius dapat menjadi jembatan antara budaya lokal dan dunia internasional.

Dengan pendekatan itu, TIFF tidak hanya diposisikan sebagai agenda pariwisata, tetapi sebagai ruang untuk mempertemukan potensi daerah dengan peluang ekonomi yang lebih luas.

Baca Juga:  Gubernur Yulius Pastikan PKB 2026 Tak Naik, Hapus Pajak Progresif dan Beri Diskon 25 Persen

Apalagi, penyelenggaraan tahun ini merupakan edisi ke-14 TIFF dan tetap masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Festival ini juga berlangsung pada momentum Agustus, ketika Indonesia tengah menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Bagi Tomohon, bunga bukan sekadar identitas kota. Bunga adalah komoditas, kreativitas, sekaligus modal pariwisata.

Gubernur Yulius juga melihat TIFF memiliki ruang pengembangan yang jauh lebih besar.

Menurutnya, festival ini dapat menjadi pintu masuk untuk membuka peluang investasi baru, mempromosikan potensi agrowisata, sekaligus memperkuat diplomasi budaya dengan negara-negara peserta.

Artinya, ketika wisatawan datang menyaksikan parade bunga, yang ditawarkan bukan hanya tontonan. Di belakangnya terdapat potensi kebun bunga, produk UMKM, industri kreatif, kuliner, jasa transportasi, perhotelan hingga berbagai destinasi wisata yang dapat dikembangkan.

“Melalui festival ini, kita tidak hanya mempertontonkan keindahan dan keberagaman flora, tetapi juga membuka peluang investasi baru, mempromosikan potensi agrowisata unggulan, serta mempererat persahabatan dan diplomasi budaya antarnegara,” ujar Yulius.

Karena itu, ia berharap TIFF tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Main event maupun side event-nya perlu terus diperkuat agar festival tersebut berkembang semakin besar dan mampu menjadi ikon Tomohon, Sulawesi Utara hingga Indonesia di mata dunia.

Di tengah ambisi membawa TIFF semakin mendunia, Yulius juga mengingatkan bahwa pertumbuhan pariwisata harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Baca Juga:  Yulius Selvanus Geser Anggaran Lambat, Prioritaskan Program yang Berdampak ke Rakyat

Tomohon sebagai Kota Bunga sekaligus salah satu produsen bunga utama di Sulawesi Utara memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan alam dan ekosistemnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena kekuatan utama TIFF justru bertumpu pada sumber daya alam dan kreativitas masyarakat lokal. Karena itu, pengembangan festival tidak boleh hanya mengejar jumlah wisatawan dan kemeriahan acara, tetapi juga harus menjaga fondasi lingkungan yang menjadi bagian dari daya tarik Tomohon.

Dengan demikian, TIFF 2026 menghadirkan wajah lain dari sebuah festival bunga.

Di permukaan, masyarakat melihat parade kendaraan penuh warna. Namun di baliknya terdapat rantai ekonomi yang bergerak dari petani, perajin, dekorator, pelaku UMKM hingga sektor jasa.

Bunga-bunga yang menghiasi jalanan Tomohon hari ini bukan hanya mempercantik kota. Ia juga membawa uang berputar ke tangan masyarakat.

Dan dengan 353 ribu pohon krisan yang disiapkan petani serta lebih dari 210 ribu bunga segar yang terserap untuk parade, TIFF 2026 menunjukkan bahwa ketika pariwisata, budaya dan ekonomi rakyat bergerak dalam satu irama, sebuah festival dapat menjadi lebih dari sekadar pertunjukan—ia bisa menjadi mesin penggerak ekonomi daerah. (EL)