Sulut

Sulut Raih Dua Penghargaan Nasional, Revitalisasi Museum dan Pelestarian Budaya Jadi Bukti Arah Kepemimpinan Yulius Selvanus

82
×

Sulut Raih Dua Penghargaan Nasional, Revitalisasi Museum dan Pelestarian Budaya Jadi Bukti Arah Kepemimpinan Yulius Selvanus

Sebarkan artikel ini

SULUT1NEWS.COM, MANADO – Pembangunan daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, maupun investasi. Kemampuan menjaga identitas, merawat warisan sejarah, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya juga menjadi bagian penting dari kemajuan sebuah daerah.

Prinsip inilah yang mulai mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berhasil memboyong dua penghargaan dalam ajang Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI, Jumat (6/11/2026).

Dua penghargaan tersebut menjadi catatan penting bagi Sulawesi Utara. Bukan hanya karena berhasil mendapatkan pengakuan nasional dalam dua kategori sekaligus, tetapi juga karena capaian itu mencerminkan upaya pemerintah daerah menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari agenda pembangunan.

Penghargaan pertama diberikan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam kategori Pemerintah Daerah untuk bidang promosi dan pengembangan kebudayaan daerah. Sementara penghargaan kedua diberikan kepada Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara dalam kategori Museum untuk bidang pelestarian sejarah dan warisan budaya daerah.

Penghargaan diserahkan langsung Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta. Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH, menerima penghargaan kategori Pemerintah Daerah, sedangkan kategori Museum diterima Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Sulut, Yorry Rommy Lesawengen, M.Tr.A.P.

Yulius Selvanus dan Perubahan Paradigma Pembangunan Kebudayaan

Di balik capaian tersebut, perhatian tertuju pada kebijakan Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, yang mendorong penguatan sektor kebudayaan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan warisan budaya daerah.

Baca Juga:  Gerindra Sulut Perkuat Tiga Daerah Strategis, Yulius Tegaskan: Rapatkan Barisan hingga Akar Rumput

Salah satu langkah yang menjadi sorotan adalah revitalisasi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara.

Langkah ini penting karena museum selama ini kerap dipandang sebatas tempat menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu. Padahal, museum memiliki fungsi lebih luas sebagai ruang pendidikan, pusat pengetahuan, tempat membangun kesadaran sejarah, sekaligus sarana memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.

Di bawah penguatan kebijakan tersebut, museum mulai diarahkan menjadi ruang publik yang lebih hidup dan dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.

Dampaknya mulai terlihat dari angka kunjungan. Hingga Oktober 2026, Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara telah mencatat sekitar 27.000 pengunjung.

Angka ini menjadi salah satu indikator bahwa keberadaan museum semakin mendapat perhatian masyarakat. Sejarah dan kebudayaan tidak lagi hanya menjadi materi dalam buku pelajaran, tetapi dapat dikenali dan dipelajari secara langsung melalui koleksi serta ruang edukasi museum.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Sulut, Yorry Rommy Lesawengen, menyebut keberhasilan meraih dua penghargaan nasional tersebut tidak terlepas dari perhatian dan kebijakan Gubernur Yulius Selvanus, khususnya dalam mendorong revitalisasi museum.

Menurutnya, penghargaan itu bukan hasil kerja satu instansi semata, melainkan buah kolaborasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, pemerintah kabupaten/kota, seniman, budayawan, akademisi, organisasi, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan kebudayaan.

29 Warisan Budaya Takbenda, Rekor Pengakuan Kekayaan Tradisi Sulut

Selain revitalisasi museum, capaian penting lainnya terlihat dalam upaya pelindungan warisan budaya.

Hingga 2026, sebanyak 29 karya budaya Sulawesi Utara telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Jumlah tersebut menjadi rekor penetapan bagi Sulawesi Utara sekaligus memperkuat pengakuan nasional terhadap kekayaan tradisi dan identitas budaya daerah.

Baca Juga:  Catatan Redaksi: Kominfo Sulut dan Tantangan Komunikasi Politik di Era Yulius–Victor

Sulawesi Utara juga berhasil mencatat satu Cagar Budaya Nasional sebagai bagian dari upaya menjaga peninggalan sejarah yang mempunyai nilai penting bagi perjalanan peradaban bangsa.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan tidak cukup hanya dengan menggelar festival atau pertunjukan seni. Diperlukan langkah konkret untuk mendokumentasikan, melindungi, mengembangkan, dan memastikan warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ruang Seni Diperluas, Infrastruktur Kebudayaan Diperkuat

Pemprov Sulut juga memperluas ruang ekspresi bagi para pelaku seni dan budaya melalui sejumlah agenda, antara lain Rona Budaya, Festival Warisan Budaya, dan Rally Teater.

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi seniman, komunitas, dan generasi muda untuk memperkenalkan karya, mengembangkan kreativitas, serta menjaga kesinambungan ekosistem seni daerah.

Penguatan sektor ini turut didukung melalui revitalisasi Gedung Kesenian dan Taman Budaya. Kehadiran fasilitas yang lebih representatif diharapkan mampu membuka ruang lebih luas bagi aktivitas berkesenian, pertunjukan, dan pengembangan kreativitas masyarakat.

Sebelumnya, revitalisasi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara juga mendapat apresiasi Menteri Kebudayaan Fadli Zon ketika meresmikan wajah baru museum tersebut pada Mei 2026.

Saat itu, Fadli menilai museum Sulawesi Utara memiliki potensi untuk berkembang menjadi salah satu museum terbaik dan menjadi kebanggaan masyarakat daerah.

Ia juga mengingatkan bahwa museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan bagian penting dari infrastruktur kebudayaan, sumber pengetahuan dan inspirasi, bahkan dapat menjadi penggerak ekonomi budaya.

Baca Juga:  BULD DPD RI Dorong Reformasi Koperasi, S B.A.N Liow: Fokus pada Kualitas dan Dampak Ekonomi Daerah

Fadli Zon: Museum Berperan Strategis bagi Peradaban Bangsa

Dalam sambutannya pada penganugerahan AKI 2026, Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima penghargaan. Menurutnya, Anugerah Kebudayaan Indonesia merupakan bentuk penghargaan negara kepada individu, kelompok, komunitas, dan lembaga yang telah berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan Indonesia.

Pada tahun ini, sebanyak 63 penghargaan diberikan dalam tujuh kategori, yakni Indonesianis, Diaspora, Pemerintah Daerah, Taman Budaya, anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah, Media, dan Museum.

Secara khusus, Fadli menekankan posisi museum sebagai etalase budaya dan peradaban bangsa yang memiliki peran strategis dalam pembangunan kebudayaan nasional.

Bagi Sulawesi Utara, dua penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya yang telah dilakukan sekaligus tantangan untuk menjaga konsistensi pembangunan kebudayaan ke depan.

Sebab, ukuran keberhasilan pelestarian budaya bukan hanya terletak pada banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan sejauh mana generasi muda mengenal sejarahnya, masyarakat bangga terhadap identitas daerahnya, dan warisan budaya tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus, penguatan kebudayaan diharapkan tidak berhenti pada capaian seremonial. Kebudayaan harus menjadi kekuatan pembangunan, sumber kreativitas, penggerak ekonomi masyarakat, sekaligus fondasi identitas Sulawesi Utara.

Dua penghargaan nasional ini pun menjadi momentum bagi Sulawesi Utara untuk membuktikan bahwa daerah yang maju bukan hanya daerah yang membangun masa depan, tetapi juga daerah yang tidak melupakan sejarah dan akar budayanya.