Sulut1news.com, Jakarta – Putaran terbaru perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa membuka peluang baru bagi meredanya krisis nuklir yang telah bertahun-tahun mengguncang stabilitas Timur Tengah. Namun di balik sinyal “lebih konstruktif” dari Teheran, bayang-bayang konfrontasi militer justru semakin menguat.
Pembicaraan selama tiga setengah jam yang dimediasi Oman itu disebut menjadi kemajuan dibanding pertemuan pertama pada 6 Februari lalu. Menteri Luar Negeri Iran, , menyebut kedua pihak telah menyepakati “prinsip-prinsip panduan umum” menuju kerangka kesepakatan.
“Suasana lebih konstruktif. Kemajuan yang baik telah dicapai dibandingkan pertemuan pertama. Jalan menuju kesepakatan telah dimulai, tetapi itu tidak berarti kita bisa segera mencapainya,” ujar Araghchi.
Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari delegasi Amerika Serikat.
Trump: Ingin Kesepakatan, Tapi Armada Ditambah
Sinyal diplomasi itu datang di tengah pesan berlapis dari Presiden AS, . Ia menyatakan optimisme bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan, tetapi secara bersamaan meningkatkan kehadiran militer Amerika di sekitar Teluk.
Kehadiran kapal perang AS di lepas pantai Oman memicu respons keras dari Pemimpin Tertinggi Iran, . Ia menegaskan bahwa Washington tidak akan mampu menghancurkan Republik Islam.
“Kapal perang memang berbahaya, tetapi lebih berbahaya lagi senjata yang bisa mengirimkannya ke dasar laut,” kata Khamenei dalam pernyataan bernada ancaman.
Iran bahkan mengumumkan penutupan sebagian Selat Hormuz untuk latihan tembak langsung angkatan laut. Jika jalur vital itu benar-benar ditutup penuh, dampaknya dapat melumpuhkan arus perdagangan energi global, mengingat sekitar sepertiga pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut.
Isu Kunci: Uranium 60% dan Verifikasi IAEA
Di meja perundingan, isu paling sensitif adalah pengayaan uranium Iran yang telah mencapai 60 persen — tingkat yang mendekati kualitas senjata dan tidak dibutuhkan untuk program nuklir sipil.
Sebagai kompromi, Iran menawarkan:
- Mengencerkan stok 40 kilogram uranium yang diperkaya 60 persen
- Memberikan akses ke fasilitas nuklir yang rusak akibat pemboman
- Bekerja sama lebih erat dengan
Araghchi sebelumnya telah bertemu Direktur Jenderal IAEA, , untuk membahas mekanisme verifikasi. Delegasi AS juga melakukan pertemuan terpisah dengan Grossi, menegaskan bahwa sistem inspeksi menjadi pusat negosiasi.
Namun, Iran tetap bersikukuh tidak akan membahas program rudal balistik dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan. Teheran juga menolak tuntutan utama Washington untuk menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya di dalam negeri.
Tekanan Domestik dan Retakan Politik Iran
Perundingan ini berlangsung di tengah tekanan domestik yang meningkat. Ribuan warga menghadiri peringatan 40 hari korban tewas dalam gelombang protes terbaru — momen yang sarat emosi dalam tradisi Syiah.
Presiden Iran, , terlihat terpukul saat menghadiri upacara di Mashhad. Khamenei sendiri mengakui adanya warga sipil yang menjadi korban.
Di sisi lain, dinamika politik internal semakin bergerak. Sebuah komite eksekutif untuk membentuk “front penyelamatan nasional” diumumkan, merujuk pada gagasan mantan perdana menteri yang telah 16 tahun menjalani tahanan rumah. Prinsipnya: nonintervensi asing, penolakan despotisme internal, dan transisi demokratis damai.
Nama , putra mantan Shah, juga kembali mencuat sebagai figur alternatif transisi. Namun hingga kini Washington belum menunjukkan dukungan terbuka.
Diplomasi atau Strategi Tekan-Menekan?
Menariknya, Iran disebut menawarkan “paket kemakmuran” dan bahkan pakta nonagresi kepada AS — kemungkinan juga melibatkan Israel — sebagai insentif politik bagi Trump.
Namun realitasnya, kedua pihak masih berada dalam posisi saling curiga:
- AS ingin jaminan verifikasi penuh dan pembatasan jangka panjang
- Iran ingin pengakuan hak pengayaan uranium dan pencabutan sanksi
Putaran berikutnya dijadwalkan dua pekan mendatang, dengan rencana pertukaran draf teks kesepakatan.
Pertanyaannya kini: apakah diplomasi benar-benar sedang bergerak maju, atau ini hanya fase baru dalam strategi tekanan maksimum yang dikemas dalam bahasa negosiasi?
Di tengah pengerahan kapal perang dan latihan militer di Selat Hormuz, satu kesalahan kalkulasi saja bisa mengubah ruang diplomasi menjadi medan konfrontasi terbuka.
Untuk saat ini, harapan masih ada — tetapi berjalan di atas garis yang sangat tipis.
(EL)
Sumber CNBC Indonesia






