ManadoSulut

Festival Bantik, Tahlis Gallang: Semangat Wolter Mongisidi Jangan Hilang di Generasi Baru

31
×

Festival Bantik, Tahlis Gallang: Semangat Wolter Mongisidi Jangan Hilang di Generasi Baru

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Manado — Sejarah tidak selalu harus tersimpan dalam buku. Bagi masyarakat Bantik di Sulawesi Utara, sejarah justru dihidupkan melalui seni, adat, pertemuan antarkampung hingga cerita perjuangan yang diwariskan kepada generasi muda.

Pesan itu terasa kuat dalam Festival Seni Budaya Bantik sekaligus Peringatan ke-77 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi, yang digelar Jumat, (05/09/2026).

Kegiatan yang mempertemukan perwakilan 11 Kampung Bantik se-Sulawesi Utara tersebut bukan hanya menjadi panggung pertunjukan budaya. Festival ini menjadi ruang untuk mempertemukan kembali identitas, sejarah perjuangan dan masa depan generasi Bantik.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus diwakili Sekretaris Provinsi Sulut, Tahlis Gallang, memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Bantik menjaga warisan leluhur sekaligus merawat semangat perjuangan Wolter Mongisidi.

Atas nama Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, Tahlis menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurutnya, kehadiran 11 kampung dengan kekayaan adat dan seni masing-masing menunjukkan bahwa budaya Bantik memiliki kekuatan besar untuk terus dikembangkan.

“Ternyata orang Bantik sudah menyebar dan mendunia, ada di Papua, Australia, Amerika. Ini kesempatan menyaksikan dua momentum yang bernilai manfaat bagi masyarakat dan pemerintah,” ujar Tahlis.

Baca Juga:  Victor Mailangkay: Sekolah Rakyat Bukan Sekadar Sekolah, Tapi Jalan Putus Rantai Kemiskinan

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa identitas Bantik tidak berhenti pada batas wilayah kampung. Komunitas Bantik telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara.

Karena itu, menurut Tahlis, pelestarian budaya menjadi semakin penting agar generasi yang tumbuh di tengah perubahan zaman tidak kehilangan akar sejarah dan identitas leluhurnya.

Ia menegaskan, festival seni budaya seperti ini sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam mendorong pelestarian seni dan budaya daerah.

Momentum festival semakin bermakna karena berlangsung bertepatan dengan peringatan gugurnya Robert Wolter Mongisidi, putra Bantik yang menjadi salah satu simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tahlis mengajak generasi muda mengambil nilai perjuangan yang diwariskan Wolter Mongisidi.

“Semangat yang ditorehkan putra terbaik, putra Bantik ini kiranya dapat kita tularkan ke generasi yang ada saat ini. Mari kita ambil makna momentum ini, gelora setia hingga akhir dalam keyakinan,” katanya.

Wolter Mongisidi atau yang akrab disapa Bote, gugur pada usia 24 tahun setelah dieksekusi Belanda di Makassar pada 5 September 1949.

Ia memilih tetap mempertahankan keyakinan dan perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia daripada mengkhianati perjuangan tersebut.

Baca Juga:  Harapan Besar Pemprov Sulut: Pertumbuhan Ekonomi Kuat Berujung pada Kesejahteraan Merata Seluruh Masyarakat

Nilai itulah yang kini berusaha terus dihidupkan masyarakat Bantik, bukan melalui slogan semata, tetapi dengan menghadirkan kembali kisah perjuangan tersebut dalam ruang yang dekat dengan generasi muda.

Salah satunya melalui pertunjukan teater bertajuk “Surat Terakhir Bote”, yang mengangkat perjalanan perjuangan sang pahlawan.

Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bagian paling penting dalam festival karena sejarah tidak hanya disampaikan melalui pidato atau seremoni, tetapi diterjemahkan ke dalam seni pertunjukan yang dapat dirasakan langsung oleh penonton.

Ketua Panitia Pelaksana Albert Mokodongan, S.E., mengatakan festival merupakan bagian dari upaya masyarakat Bantik memastikan warisan leluhur tetap dikenal dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Semangat perjuangan Robert Wolter Mongisidi terus kami kenang sebagai inspirasi untuk mencintai tanah air dan menjaga persatuan,” ujarnya.

Menurutnya, peringatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan. Festival menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, seni, adat dan generasi muda.

Hal tersebut terlihat dari rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan panitia sejak Januari 2026. Berbagai perlombaan digelar dan para pemenangnya kemudian mendapatkan penghargaan serta hadiah dalam rangkaian puncak kegiatan.

Dengan demikian, festival tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga memberi ruang bagi generasi muda untuk berpartisipasi, berprestasi dan mengenal kembali kebudayaan mereka sendiri.

Baca Juga:  TIFF 2026 Jadi Etalase Dunia, Yulius Undang Wisatawan ke Tomohon

Sementara itu, Wakil Wali Kota Manado Richard Sualang memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh masyarakat Bantik yang telah menjaga keberlangsungan festival.

Ia berharap generasi muda Bantik dapat terus bersinergi dengan Pemerintah Kota Manado dalam menjalankan berbagai program pembangunan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Festival tersebut turut dihadiri Letkol Purn Robby Monginsidi, adik kandung Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.

Sejumlah pejabat juga hadir, di antaranya Kepala BKAD Sulut Clay Dondokambey, Kepala Dinas Sosial Wanda Musu, Kepala Biro Umum Putu Ani, serta jajaran TNI dan Polri.

Bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, pelestarian budaya dan penghormatan terhadap sejarah perjuangan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Sebab, mengenang Wolter Mongisidi bukan hanya mengingat bagaimana seorang pemuda Bantik gugur di usia muda. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa keberanian, kesetiaan pada keyakinan dan kecintaan terhadap tanah air merupakan nilai yang harus tetap hidup di tengah generasi baru.

Dan melalui Festival Seni Budaya Bantik, pesan itu kembali menemukan panggungnya: sejarah dirawat, budaya ditampilkan, dan semangat perjuangan diwariskan.
(EL)