Sulut1news.com, Manado – Dinamika demokrasi di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara memasuki fase paling menentukan. Setelah resmi ditutup pada Rabu (9/3/2026) pukul 00.00 Wita, proses pendaftaran calon Ketua PWI Sulut dan Ketua Dewan Kehormatan kini bergeser ke tahap verifikasi, yang akan menjadi pintu awal penyaringan kualitas kepemimpinan organisasi wartawan tertua di Indonesia ini.
Ketua Steering Committee (SC), Jimmy Senduk, menegaskan bahwa seluruh proses pendaftaran berlangsung terbuka dan kompetitif. Empat figur resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua PWI Sulut, yakni John Paransi, Merson Simbolon, Faruk Langaru, dan Sintia Bojoh. Kehadiran langsung para kandidat ke Sekretariat PWI Sulut dinilai sebagai sinyal kuat keseriusan mereka dalam memperebutkan posisi strategis tersebut.
“Seluruh berkas sudah kami terima dan akan segera diproses ke tahap berikutnya. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari mekanisme untuk memastikan calon yang maju benar-benar memenuhi syarat organisasi,” ujar Senduk.
Tak kalah menarik, persaingan di kursi Ketua Dewan Kehormatan juga menghadirkan tiga nama: Fernando Adam, Satrin Lasena, dan Reymond Wowor. Posisi ini dinilai krusial karena berperan menjaga marwah dan etika profesi wartawan di daerah.
Total tujuh kandidat yang masuk dalam kontestasi ini mencerminkan tingginya antusiasme sekaligus meningkatnya kesadaran akan pentingnya arah kepemimpinan PWI Sulut ke depan—di tengah tantangan industri media yang semakin kompleks, mulai dari disrupsi digital hingga isu kredibilitas jurnalisme.
Tahap selanjutnya, seluruh nama akan dikirim ke PWI Pusat untuk menjalani verifikasi akhir. Proses ini menjadi filter penting, tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga rekam jejak, integritas, dan komitmen terhadap kode etik jurnalistik.
Momentum ini dipandang sebagai peluang bagi PWI Sulut untuk melakukan reposisi peran. Bukan hanya sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai garda depan dalam menjaga kualitas informasi publik di era banjir konten.
Konferensi PWI Sulut mendatang pun diprediksi tidak sekadar menjadi ajang pemilihan, melainkan arena adu gagasan tentang masa depan jurnalisme di daerah. Publik dan insan pers kini menanti, siapa sosok yang tak hanya lolos verifikasi, tetapi juga mampu membawa energi baru—menguatkan profesionalisme, solidaritas, dan kehormatan profesi wartawan di Sulawesi Utara.
(EL)






