Sulut1news.com, Manado — Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 tidak sekadar menjadi perhelatan yang menghadirkan buku, pameran dan kegiatan membaca. Selama tiga hari, festival ini berkembang menjadi ruang perjumpaan gagasan, budaya, seni dan kreativitas yang mempertemukan ribuan orang dari berbagai kalangan.
Festival yang berlangsung di Museum Negeri Sulawesi Utara tersebut resmi ditutup Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, Minggu (4/10/2026).
Mengusung tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”, Festival Literasi Sulut 2026 melibatkan sekitar 3.400 peserta. Mereka berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, pegiat literasi, budayawan, seniman, komunitas, pelaku UMKM hingga masyarakat umum.
Besarnya partisipasi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa gerakan literasi di Sulawesi Utara memiliki ruang tumbuh yang semakin luas. Literasi tidak lagi ditempatkan hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, tetapi mulai diposisikan sebagai bagian dari kehidupan sosial, kebudayaan dan pembentukan karakter masyarakat.
Di hadapan peserta dan para pegiat literasi, Gubernur Yulius Selvanus menegaskan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Menurut YSK, generasi muda harus dibekali kemampuan untuk membaca keadaan, memahami persoalan, berpikir kritis, menganalisis informasi dan kemudian melahirkan gagasan yang dapat memberikan solusi.
Karena itu, budaya membaca dan menulis perlu terus dibangun bersamaan dengan kemampuan berpikir dan berkarya.
“Belajar dari kekurangan dan kelemahan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan,” pesan YSK.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya menjadikan literasi sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah, kampus, keluarga, komunitas hingga ruang publik dinilai memiliki peran penting dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Bagi pemerintah daerah, penguatan literasi juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi Sulawesi Utara agar mampu menghadapi perubahan zaman dengan pengetahuan, kreativitas dan karakter yang kuat.
Menariknya, Festival Literasi Sulut 2026 memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dikemas dalam berbagai bentuk.
Selama pelaksanaan festival, masyarakat tidak hanya disuguhkan kegiatan yang berkaitan dengan membaca dan menulis, tetapi juga pameran seni, booth komunitas, pertunjukan teater, kegiatan kreatif hingga Grand Final Pemilihan Putra-Putri Literasi Sulut 2026.
Pertunjukan teater Isbima, pameran seni dan aktivitas berbagai komunitas menjadi bagian dari wajah lain literasi Sulawesi Utara.
Pesan yang ingin dibangun pun menjadi lebih luas: membaca budaya, memahami sejarah, mengenal kearifan lokal, mengapresiasi seni dan mampu menciptakan karya juga merupakan bagian dari literasi.
Museum Negeri Sulawesi Utara sebagai lokasi kegiatan semakin memperkuat suasana tersebut. Ruang yang menyimpan berbagai jejak sejarah dan budaya daerah itu selama tiga hari berubah menjadi ruang interaksi antara pengetahuan, kreativitas dan generasi muda.
Ketua Umum Literasi Sulawesi Utara, Standius Bara Prima M.IKom, menegaskan bahwa momentum Festival Literasi Sulut 2026 harus menjadi bagian dari gerakan yang terus berlangsung, bukan berhenti setelah kegiatan berakhir.
Menurutnya, masih banyak aspek literasi yang dapat dikembangkan di Sulawesi Utara, mulai dari literasi budaya, seni, digital, sosial hingga kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, kolaborasi berbagai pihak menjadi penting agar gerakan literasi dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Festival Literasi Sulut 2026, kata dia, menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai unsur tersebut dalam satu ekosistem kreatif.
Kehadiran komunitas, seniman, budayawan, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum memperlihatkan bahwa literasi dapat tumbuh melalui kolaborasi lintas bidang.
Penutupan Festival Literasi Sulut 2026 turut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. Johanis Victor Mailangkay SH MH, Ketua DPRD Bolaang Mongondow Samsudin Dama, para budayawan, pegiat literasi, komunitas seni dan sejumlah undangan lainnya.
Berakhirnya festival selama tiga hari tersebut tidak dimaknai sebagai berakhirnya gerakan literasi.
Sebaliknya, festival diharapkan menjadi pemantik agar budaya membaca, menulis, berpikir kritis dan berkarya terus berkembang di tengah masyarakat.
Dengan keterlibatan sekitar 3.400 peserta, Festival Literasi Sulut 2026 telah menunjukkan bahwa gerakan literasi memiliki basis masyarakat yang luas.
Tantangan berikutnya adalah membawa semangat festival tersebut keluar dari ruang Museum Negeri Sulawesi Utara dan menjadikannya kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi diharapkan terus hidup di sekolah, kampus, keluarga, komunitas dan ruang-ruang publik.
Sebab, ketika masyarakat mampu membaca perubahan, memahami akar persoalan, menghargai budaya dan berani menciptakan narasi sendiri, literasi tidak lagi sekadar program atau festival.
Literasi menjadi kekuatan untuk membentuk masa depan Sulawesi Utara.
Semangat “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban” pun diharapkan tidak berhenti ketika panggung festival ditutup, tetapi terus menjadi gerakan bersama untuk membangun masyarakat Sulawesi Utara yang berpengetahuan, kreatif, berbudaya dan mampu menjawab tantangan zaman.






