Sulut

62 Tahun Sulut, Yulius Selvanus Menoleh ke Para Pendahulu: Sejarah Jadi Kompas Melanjutkan Pembangunan

142
×

62 Tahun Sulut, Yulius Selvanus Menoleh ke Para Pendahulu: Sejarah Jadi Kompas Melanjutkan Pembangunan

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta — Di tengah perjalanan Provinsi Sulawesi Utara memasuki usia ke-62 tahun, Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE memilih menengok kembali jejak para pemimpin yang pernah meletakkan fondasi pemerintahan dan pembangunan daerah.

Bukan melalui seremoni di pusat pemerintahan, melainkan dengan berziarah dan menaburkan bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Jumat (18/09/2026).

Di tempat tersebut, Yulius memberikan penghormatan kepada empat mantan Gubernur Sulawesi Utara yang dimakamkan di TMP Kalibata, yakni F.J. Tumbelaka, A.A. Baramuli, G.H. Mantik, dan Willy Lasut.

Ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara. Namun bagi Yulius, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar agenda tahunan.

Di hadapan makam para pendahulunya, Gubernur Yulius mengingatkan bahwa Sulawesi Utara yang ada saat ini tidak dibangun dalam satu masa kepemimpinan. Ada rangkaian pengabdian, keputusan, perjuangan, dan kerja keras para pemimpin terdahulu yang menjadi bagian dari perjalanan panjang daerah.

Baca Juga:  Ferdinand Novi Mewengkang Aklamasi Terpilih Jadi Ketua PWRI Sulut Periode 2026-2030

“Ini adalah cara kita untuk tidak melupakan sejarah. Fondasi yang kita nikmati hari ini adalah hasil perjuangan dan kerja keras para pemimpin sebelum kita,” kata Yulius.

Pesan tersebut menjadi penting ketika Sulawesi Utara memasuki usia 62 tahun. Pergantian kepemimpinan, menurut semangat yang disampaikan dalam ziarah itu, tidak berarti memutus mata rantai sejarah pembangunan.

Sebaliknya, setiap generasi pemerintahan memiliki tanggung jawab untuk memahami apa yang telah diwariskan, mempertahankan hal-hal yang baik, sekaligus melanjutkan pembangunan sesuai tantangan zamannya.

Empat mantan gubernur yang diziarahi merupakan bagian dari sejarah kepemimpinan Sulawesi Utara. Penghormatan yang diberikan Yulius sekaligus menjadi simbol bahwa pembangunan daerah hari ini memiliki keterkaitan dengan perjalanan pemerintahan pada masa-masa sebelumnya.

Bagi jajaran Pemerintah Provinsi Sulut, momentum tersebut juga menjadi ruang refleksi. Pengabdian kepada daerah tidak berhenti ketika seseorang tidak lagi memegang jabatan, tetapi meninggalkan nilai dan jejak yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Baca Juga:  Sulut Terbaik di Pulau Sulawesi, IPM Tembus 76,32: Fondasi SDM Kian Kokoh di Era Kepemimpinan Yulius Selvanus

Yulius menempatkan penghormatan kepada para pendahulu sebagai bagian dari semangat untuk terus bekerja membangun Sulawesi Utara.

Nilai keberanian, pengabdian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air yang melekat dalam perjalanan para tokoh terdahulu diharapkan tetap menjadi energi bagi pemerintahan saat ini dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, ziarah di TMP Kalibata tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ada pesan tentang masa depan yang ingin dibawa pulang: bahwa pembangunan membutuhkan kesinambungan, sementara kepemimpinan membutuhkan kesadaran terhadap sejarah.

“Penghormatan terhadap para pendahulu diharapkan menjadi bagian dari semangat kita untuk melanjutkan pembangunan Sulawesi Utara,” ujar Yulius.

Peringatan HUT ke-62 Sulawesi Utara menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk melihat perjalanan daerah secara utuh—dari apa yang telah dibangun, apa yang telah diwariskan, hingga tantangan yang harus dijawab ke depan.

Baca Juga:  Wakil Gubernur Victor Mailangkay Hadiri Penamatan Ranotana Adventist School: MBG Bantu Siswa Lebih Fokus Belajar

Dalam konteks itu, ziarah menjadi simbol bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan capaian ekonomi, tetapi juga dari kemampuan generasi sekarang menghargai sejarah serta meneruskan nilai-nilai pengabdian.

Bagi generasi hari ini, mengenang para pendahulu bukan berarti berhenti pada masa lalu. Justru dari sejarah, pemerintah dan masyarakat dapat menemukan nilai yang relevan untuk menghadapi tantangan baru.

Memasuki usia 62 tahun, Sulawesi Utara diharapkan tidak hanya bertambah usia, tetapi juga semakin matang dalam membangun daerah, memperkuat pelayanan publik, menjaga persatuan, dan menghadirkan pembangunan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Dari TMP Kalibata, pesan itu kembali ditegaskan: sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi kompas bagi generasi yang melanjutkan perjalanan Sulawesi Utara.