InternasionalJakarta

90 Persen Anjlok, Kini Bergerak Lagi: Hormuz Jadi Taruhan Energi Dunia

124
×

90 Persen Anjlok, Kini Bergerak Lagi: Hormuz Jadi Taruhan Energi Dunia

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta kebijakan blokade maritim yang diumumkan Presiden , lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pergerakan—meski masih jauh dari kondisi normal.

Data LSEG yang dikutip CNBC International, Kamis (16/4/2026), mencatat setidaknya sembilan kapal tanker telah melintasi jalur vital tersebut sepanjang pekan ini. Angka ini memang menjadi sinyal bahwa aktivitas belum sepenuhnya lumpuh, namun volume pergerakan masih sangat terbatas dan penuh risiko.

Salah satu kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier (VLCC), RHN, terpantau memasuki selat dari Teluk Oman pada Rabu. Dengan kapasitas angkut mencapai sekitar 2 juta barel minyak mentah, nilai muatan kapal ini diperkirakan menyentuh US$160 juta atau setara Rp2,72 triliun. VLCC lain, Alicia, juga tercatat melintasi jalur yang sama sehari sebelumnya menuju Teluk Persia. Secara keseluruhan, hanya empat kapal tanker berbagai ukuran yang keluar-masuk selat pada hari tersebut.

Baca Juga:  Ramadan Berdarah: Pakistan Gempur Afghanistan, Puluhan Warga Sipil Tewas

Anjlok Hingga 90 Persen, Risiko Keamanan Jadi Faktor Utama

Meski ada pergerakan, aktivitas pelayaran masih anjlok drastis. Pada Selasa, jumlah kapal tanker yang melintas tercatat turun lebih dari 90 persen dibandingkan kondisi normal sebelum eskalasi konflik pada akhir Februari, tepat sebelum serangan militer AS dan Israel ke Iran.

Penurunan tajam ini tidak lepas dari meningkatnya ancaman keamanan, termasuk potensi serangan balasan dari Iran. Bahkan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada 7 April, kepercayaan pelaku industri pelayaran belum pulih sepenuhnya.

Situasi ini menegaskan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menahan pemulihan distribusi energi global.

Blokade AS dan Klaim Trump Picu Ketidakpastian

Baca Juga:  AS menyalahkan Rusia atas jatuhnya pesawat tak berawak di Laut Hitam, Moskow menyangkal

Di sisi lain, dinamika politik justru semakin kompleks. Pemerintah AS dilaporkan menerapkan blokade terhadap lalu lintas maritim yang terhubung dengan pelabuhan Iran setelah negosiasi damai gagal. Namun, pernyataan Presiden justru memunculkan interpretasi berbeda di pasar.

Trump mengklaim telah “membuka Selat Hormuz secara permanen” dan menyebut langkah tersebut dilakukan demi kepentingan global, termasuk China. Ia juga menyatakan bahwa Presiden China telah sepakat untuk tidak mengirim senjata ke Iran—klaim yang belum terverifikasi secara independen.

Pernyataan yang berubah-ubah dari Trump sejak awal konflik turut menambah ketidakpastian. Bahkan, regulator pasar saham AS kini dikabarkan tengah menyelidiki potensi transaksi mencurigakan yang terjadi menjelang pengumuman-pengumuman terkait konflik Iran.

Baca Juga:  AS SETUJU PENJUALAN SENJATA Rp250 TRILIUN KE ARAB SAUDI DAN ISRAEL, DITENGGAH TEGANGAN DENGAN IRAN

Selat Hormuz: Nadi Energi Dunia dalam Ancaman

Selat Hormuz merupakan salah satu choke point energi paling krusial di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi menciptakan disrupsi besar dalam rantai pasok energi internasional.

Kondisi saat ini menggambarkan situasi yang rapuh: jalur belum sepenuhnya tertutup, tetapi jauh dari aman. Kapal-kapal masih beroperasi, namun dengan jumlah terbatas dan di bawah bayang-bayang risiko tinggi.

Pasar global kini berada dalam posisi siaga. Setiap eskalasi tambahan di Selat Hormuz tidak hanya berpotensi menghambat distribusi minyak, tetapi juga memicu lonjakan harga energi dunia—yang dampaknya bisa menjalar hingga ke inflasi dan stabilitas ekonomi global.

Redaksi