Jakarta

Pasar Keuangan RI Beragam: IHSG Tipis Menguat, Rupiah Lanjutkan Tren Positif hingga Lima Hari, Obligasi Terjual

152
×

Pasar Keuangan RI Beragam: IHSG Tipis Menguat, Rupiah Lanjutkan Tren Positif hingga Lima Hari, Obligasi Terjual

Sebarkan artikel ini
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 85?

Sulut1news.com – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan performa beragam pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat tipis meskipun sempat tertekan di awal sesi, sementara rupiah memperpanjang tren penguatan menjadi lima hari berturut-turut. Sebaliknya, pasar obligasi mengalami aksi jual yang membuat imbal hasil melonjak. Proyeksi sentimen perdagangan hari ini (Rabu/28/1)

IHSG Naik 0,05% ke 8.980,23, Sektor Energi dan Teknologi Jadi Penggerak

IHSG menutup perdagangan naik 4,89 poin ke level 8.980,23 atau tumbuh 0,05%. Indeks ini berhasil balik arah setelah sempat turun hingga 1,13% pada sepuluh menit pertama perdagangan.

Dari 803 saham yang diperdagangkan, 441 saham turun, 232 naik, dan 130 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp15,11 triliun dengan volume 33,24 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net outflow sebesar Rp1,61 triliun.

Baca Juga:  Tak Lagi Bebas, Medsos Kini Wajib Lindungi Anak

Melansir data Refinitiv, mayoritas sektor bergerak positif dengan kenaikan tertinggi pada sektor energi dan teknologi. Sebaliknya, sektor konsumer primer dan finansial menjadi yang paling tertekan.

Beberapa emiten menjadi penggerak utama kenaikan IHSG:

– PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): naik 4,88% dengan kontribusi 19,11 poin indeks
– PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO): tumbuh 8,33% menyumbang 9,87 poin indeks
– PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): naik 2,34% berkontribusi 9,47 poin indeks
– PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR): melonjak 14,60% dengan kontribusi 8,82 poin indeks

Di sisi lain, saham blue chip mengalami tekanan besar. PT Astra International Tbk (ASII) turun 8,36% ke Rp6.300 per saham dengan kontribusi pelemahan 23,55 poin indeks. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga dilego investor jelang pengumuman laporan tahunan, turun 1,96% ke Rp7.500 per saham dan menekan indeks hingga 14,21 poin. Selain itu, hampir seluruh saham sektor pertambangan dan perdagangan emas mengalami koreksi setelah menguat pada sesi sebelumnya.

Baca Juga:  Pertama di Indonesia, Sulut Raih Akreditasi Pelatihan Nilai A dari BPK RI

Rupiah Menguat 0,06% ke Rp16.760/US$, Tren Positif Hingga Lima Hari

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menutup menguat 0,06% ke level Rp16.760/US. Performa ini memperpanjang tren penguatan menjadi lima hari perdagangan beruntun. Sepanjang sesi, rupiah sempat melemah hingga Rp16.180/US sebelum kembali menguat hingga penutupan.

Penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pengganti Juda Agung. Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, penetapan ini dapat memberi sinyal positif terkait koordinasi fiskal-moneter mengingat latar belakang Thomas di Kementerian Keuangan dan kedekatannya dengan Presiden. Ia juga menekankan pentingnya menjaga independensi kebijakan moneter untuk mempertahankan kepercayaan investor asing.

Baca Juga:  Era Baru Pembangunan: Persetujuan RTRW Sulut Dapatkan Lampu Hijau dari Pemerintah Pusat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat lebih jauh. Menurutnya, faktor pendorongnya antara lain tren pelemahan dolar AS di pasar global yang juga memengaruhi pergerakan mata uang lainnya. “Kalau kita pintar-pintar dikit harusnya rupiah menguat lebih jauh dari level sekarang,” ujarnya di Jakarta.

Pasar Obligasi Tertekan, Imbal Hasil SBN 10 Tahun Naik 0,49%

Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik sebesar 0,49% ke level 6,364%, dari 6,333% pada hari sebelumnya. Peningkatan imbal hasil menunjukkan harga SBN turun akibat aksi jual dari investor.
Redaksi Sulut1NewsÂ