Sulut1news.com, Gorontalo – Hanya dalam waktu empat jam, Presiden Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto mengubah kunjungan singkat menjadi momentum bersejarah bagi sektor pertanian dan kelautan nasional. Di tengah antusiasme puluhan ribu petani dan nelayan dari seluruh penjuru Nusantara, Kepala Negara hadir langsung menutup Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS) XVII 2026 di Sport Center Limboto, Rabu (24/6/2026).
Kunjungan ini berlangsung sangat padat namun bermakna mendalam. Pesawat Kepresidenan mendarat pukul 10.21 WITA, disambut jajaran Forkopimda Provinsi Gorontalo, sebelum langsung bergerak menuju lokasi acara. Begitu tiba pukul 11.18 WITA, Presiden tampak mengenakan Upiya Karanji—penutup kepala khas Gorontalo—sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal, disambut sorak sorai ribuan peserta yang telah menanti sejak pagi.
Mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional”, PENAS XVII bukan sekadar pertemuan rutin. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan, ajang ini mempertemukan perwakilan dari 38 provinsi dan lebih dari 400 kabupaten/kota—mewakili 162 juta petani dan 14 juta nelayan beserta keluarga mereka, atau total sekitar 178 juta jiwa yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan Indonesia.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah gambaran nyata kekuatan besar yang kita miliki untuk mewujudkan swasembada pangan yang mandiri dan berkelanjutan,” tegas Andi Amran.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan ikatan emosional yang telah terjalin lama. Sebagai mantan prajurit, ia menyadari bahwa perjuangan bangsa tak lepas dari dukungan penuh para petani dan nelayan.
“Sejak lahirnya Tentara Indonesia, kami selalu didukung dan dibantu oleh saudara-saudara sekalian. Itulah sebabnya saya merasa memiliki kedekatan yang sangat kuat, dan kehadiran saya hari ini adalah bentuk penghormatan dan komitmen untuk terus mendukung kemajuan sektor ini,” ujarnya dengan penuh semangat.
Tak hanya berorasi, Presiden juga turun langsung meninjau berbagai inovasi yang dipamerkan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Teknologi Budidaya Padi Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan tanpa mengorbankan kelestarian alam.
“Transformasi teknologi bukan pilihan, melainkan keharusan. Agar petani dan nelayan kita tidak hanya bertahan, tetapi mampu bersaing dan meningkatkan taraf hidup,” tambahnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir pukul 12.50 WITA. Presiden dan rombongan segera kembali ke Bandara Djalaluddin dan lepas landas pukul 14.00 WITA menuju Jakarta. Meskipun singkat, kunjungan ini meninggalkan pesan tegas: perhatian pemerintah terhadap pangan dan kesejahteraan produsennya tidak akan pernah tergantikan oleh jarak maupun waktu.
Redaksi






