Sulut1news.com, Tomohon – Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE ingin Tomohon International Flower Festival (TIFF) tidak berhenti sebagai perhelatan pariwisata yang menyuguhkan kemegahan parade bunga.
Di balik warna-warni kendaraan hias dan ribuan bunga yang memenuhi pusat Kota Tomohon, Yulius melihat peluang yang jauh lebih besar: menjadikan TIFF sebagai penggerak ekonomi rakyat, ruang investasi, sekaligus etalase potensi Sulawesi Utara ke dunia internasional.
Pesan tersebut disampaikan Yulius saat memberikan sambutan pada Tournament of Flowers (Flower Parade) TIFF 2026 di kawasan Menara Alfa Omega, Tomohon, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Yulius, keberhasilan sebuah festival tidak cukup diukur dari kemeriahan acara. Yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
“Festival ini juga menjadi motor kebangkitan ekonomi kreatif masyarakat yang dampaknya dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Yulius.
Pada TIFF 2026, sebanyak 37 petani bunga lokal secara swadaya menyiapkan sekitar 353 ribu pohon krisan. Sementara 35 kendaraan hias yang mengikuti Tournament of Flowers, terdiri dari 17 float besar dan 18 float kecil, diperkirakan menyerap lebih dari 210 ribu pohon bunga segar.
Dari aktivitas tersebut, perputaran ekonomi yang masuk ke tingkat petani diperkirakan mencapai lebih dari Rp840 juta.
Bagi Yulius, angka tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata dapat menjadi instrumen yang langsung menghubungkan event dengan ekonomi masyarakat.
Bukan hanya petani bunga yang mendapatkan manfaat. Pergerakan ekonomi dari TIFF juga berpotensi mengalir kepada perajin, dekorator, pelaku kuliner, hotel, transportasi dan berbagai sektor usaha lainnya.
“Angka ini merupakan bukti nyata bagaimana kolaborasi seni dan pariwisata memberikan dampak domino langsung bagi peningkatan pendapatan petani, perajin, dekorator, hingga sektor usaha kuliner, perhotelan dan transportasi,” ujar Yulius.
Gubernur Yulius tidak ingin TIFF hanya dikenal karena parade bunganya.
Ia mendorong festival yang tahun ini memasuki edisi ke-14 dan tetap menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 tersebut untuk terus berkembang menjadi kekuatan strategis bagi pembangunan pariwisata Sulawesi Utara.
Menurut Yulius, TIFF memiliki peluang untuk membuka investasi baru, memperkenalkan agrowisata unggulan Tomohon, serta memperkuat hubungan dan diplomasi budaya dengan negara-negara peserta.
“Melalui festival ini, kita tidak hanya mempertontonkan keindahan dan keberagaman flora, tetapi juga membuka peluang investasi baru, mempromosikan potensi agrowisata unggulan, serta mempererat persahabatan dan diplomasi budaya antarnegara,” tegasnya.
Yulius menilai kolaborasi harus menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan TIFF. Pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku seni, dunia usaha, UMKM hingga media harus bergerak bersama.
Di sinilah, menurut Yulius, nilai Mapalus atau gotong royong masyarakat Sulawesi Utara menemukan relevansinya.
Mapalus bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk menghubungkan potensi lokal dengan panggung internasional.
Bagi Yulius, kekuatan TIFF sesungguhnya berada pada kemampuan mengubah potensi lokal menjadi nilai ekonomi.
Tomohon memiliki identitas kuat sebagai Kota Bunga dan salah satu produsen bunga utama di Sulawesi Utara. Karena itu, bunga tidak boleh berhenti sebagai ornamen festival, tetapi harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi dan pariwisata yang lebih luas.
Konsep tersebut sekaligus membuka ruang pengembangan agrowisata, ekonomi kreatif dan peluang investasi yang berbasis pada potensi lokal.
Namun Yulius mengingatkan, pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Penguatan Tomohon sebagai Kota Bunga harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam dan ekosistem.
Karena itu, Yulius berharap TIFF terus mendapat dukungan dan dikembangkan, baik melalui main event maupun side event.
Targetnya jelas: menjadikan TIFF bukan hanya kebanggaan Tomohon, tetapi ikon Sulawesi Utara dan Indonesia di kancah internasional.
Dengan visi tersebut, pesan Gubernur Yulius pada TIFF 2026 menjadi lebih dari sekadar ajakan menikmati parade bunga.
Ia ingin setiap bunga yang menghiasi kendaraan parade memiliki cerita ekonomi; setiap wisatawan yang datang membawa peluang usaha; dan setiap festival yang digelar meninggalkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebab bagi Yulius, ketika pariwisata mampu menggerakkan petani, UMKM, pekerja kreatif, hotel, kuliner hingga transportasi, maka TIFF bukan lagi sekadar festival.
TIFF menjadi bagian dari strategi membangun ekonomi Sulawesi Utara dari potensi yang dimiliki daerah sendiri. (EL)






