Sulut1news.com, Jakarta – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa nilai-nilai kewartawanan harus tetap dijaga dalam setiap peran pengabdian kepada bangsa dan negara. Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi pengurus inti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat terkait persiapan Hari Pers Nasional yang dipimpin Ketua Umum PWI Akhmad Munir, di Ruang Ketua MPR RI, Selasa (13/2/2026).
“Saya ini seorang wartawan Indonesia yang sejati dan seorang pejuang. Bedanya, dulu saya menulis, sekarang ada hal-hal yang perlu dan tidak perlu diungkapkan. Tapi hati kami tetap seperti wartawan semuanya,” kata Muzani.
Menurutnya, esensi menjadi wartawan adalah memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Nilai itu, kata dia, harus terus hidup meski seseorang telah berpindah peran.
“Wartawan itu memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Mengembangkan kepentingan bersama, bukan kepentingan diri,” ujarnya.
Muzani menyebut, menjadi wartawan kerap kali merupakan pilihan hidup. Ada yang ingin sepanjang hidupnya tetap menjadi reporter karena profesi itu dianggap sebagai bentuk pengabdian sekaligus kesucian profesi.
“Reporter itu saksi sejarah. Sejarah politik dunia ini banyak disaksikan oleh wartawan. Mereka bisa bercerita dengan cara yang lebih genuine dibandingkan politisi,” katanya.
Ia mengisahkan bagaimana reporter mampu merekam peristiwa-peristiwa penting bangsa secara langsung, mulai dari dinamika politik nasional hingga perjalanan para tokoh besar. Menurut Muzani, catatan seorang reporter sering kali lebih hidup karena lahir dari pengalaman lapangan.
Dalam konteks kekinian, Muzani juga menyinggung perubahan lanskap media, di mana peran reporter kini banyak dijalankan oleh para kreator digital dan YouTuber.
“Sekarang ini reporter itu banyak diwakili oleh YouTuber. Meski tanpa surat kabar dan tanpa kantor,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa risiko profesi kewartawanan tetap sama, bahkan bisa semakin besar. Ancaman terhadap keselamatan bisa datang dari isi pemberitaan maupun medan liputan yang berbahaya.
“Risiko reporter itu nyawa. Bisa karena pemberitaannya, bisa juga karena medan yang diliput. Banyak yang bekerja dengan alat terbatas, tapi tetap berani menyampaikan fakta,” kata Muzani.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kearifan dalam menyikapi perbedaan gaya pemberitaan. Menurutnya, perbedaan gaya hanyalah soal teknis, sementara substansinya tetap sama, yakni membantu menyelesaikan persoalan masyarakat berdasarkan kejadian yang sebenarnya.
Muzani juga mengingatkan bahwa dalam sejarah, organisasi pers termasuk PWI pernah mengalami pasang surut dan dinamika internal. Namun, hal terpenting adalah menjaga idealisme sebagai insan pers dan pejuang bangsa.
“Wadah bisa berubah, dinamika bisa terjadi. Tapi yang paling penting adalah kita tetap menjaga idealisme kita sebagai pejuang kebenaran dan pencinta Indonesia,” pungkasnya.
(EL)






