InternasionalJakarta

Dari Yerusalem ke Teheran: Kanal Telegram Mossad Menyasar Warga Iran

121
×

Dari Yerusalem ke Teheran: Kanal Telegram Mossad Menyasar Warga Iran

Sebarkan artikel ini

Berikut adalah versi berita yang telah direvisi menjadi lebih menarik, profesional, lengkap, dan dengan **angle** yang lebih tajam: **”Perang Psikologis Mossad: Upaya Rahasia Israel ‘Membajak’ Hati Rakyat Iran di Tengah Kekacauan Pasca-Kematian Khamenei”**.

**Sulut1News.com, Jakarta/Manado –** Di tengah kobaran perang terbuka antara Israel (didukung Amerika Serikat) dan Iran yang telah merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, badan intelijen Israel Mossad membuka front baru yang tak biasa: **perang psikologis dan perekrutan digital langsung ke warga Iran**.

Dalam langkah berani yang jarang terlihat dari agen mata-mata, Mossad meluncurkan kanal Telegram berbahasa Persia (Farsi) resmi yang kini menjadi magnet bagi puluhan ribu warga Iran yang kecewa dengan rezim. Kanal tersebut, yang tautannya dipromosikan langsung di situs web resmi Mossad, menawarkan pesan hangat sekaligus provokatif:

*”Selamat datang! Jika Anda sampai di sini, kemungkinan besar Anda ingin menghubungi kami. Kami senang mendengarnya. Ada peluang bagus bagi kita untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama kita.”*

Pesan pinned itu disertai panduan langkah demi langkah untuk komunikasi aman, termasuk cara menghindari pengawasan rezim. Hingga pertengahan Maret 2026, kanal tersebut telah mengumpulkan sekitar **48.000 pengikut** dan secara aktif mendorong warga Iran mengirimkan laporan lapangan, foto, serta video dari dalam negeri.

Baca Juga:  Perwira Polisi Terseret Jaringan Narkoba KE, Aliran Dana Rp2,8 Miliar Terungkap

Pada 6 Maret 2026, salah satu postingan Mossad menyatakan:
*”Terus kirimkan laporan lapangan kalian. Kalian adalah pencerita kebenaran. Kami akan terus berjuang hingga kemenangan!”*

Strategi ini bukan sekadar propaganda satu arah. Mossad juga memperluas jangkauan melalui pendekatan **multi-platform**: akun perekrutan di Instagram, Facebook, dan LinkedIn dalam bahasa Ibrani, Inggris, serta Arab—semuanya terhubung ke kanal Telegram utama. Pendekatan ini menunjukkan upaya sistematis untuk menembus firewall informasi Iran dan menyasar generasi muda serta kelompok oposisi yang selama ini tertekan.

**Latar Belakang Eskalasi Dramatis**
Kematian Khamenei pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara besar-besaran gabungan Israel-AS ke Teheran menjadi titik balik konflik. Pemimpin Tertinggi berusia 86 tahun itu tewas bersama beberapa petinggi tinggi lainnya, memicu serangan balasan Iran berupa rentetan rudal dan drone ke target di Teluk Persia serta wilayah Israel. Putranya, Mojtaba Khamenei, ditunjuk sebagai pengganti, namun transisi kepemimpinan ini justru memicu ketidakstabilan internal.

Di saat rezim berjuang mempertahankan legitimasi, Mossad memanfaatkan momentum kekacauan untuk “membajak” narasi. Kanal Telegram tersebut diluncurkan beberapa minggu sebelum perang meletus (sekitar akhir Desember 2025), namun intensitasnya melonjak pasca-serangan fatal tersebut.

Baca Juga:  Kabar 3 Desa Nunukan Jadi Wilayah Malaysia? Mensesneg: Kami Akan Cek Lapangan Langsung

**Jejak Digital Lebih Luas: Dari X hingga “Mossad Farsi”**
Bahkan sebelum kanal Telegram resmi, akun X (sebelumnya Twitter) bernama **”Mossad Farsi”** muncul sekitar Juni 2025—tepat setelah gelombang konflik sebelumnya mereda. Dengan sekitar 60.000 pengikut, akun itu memposting sindiran tajam terhadap pemimpin Iran, tawaran konsultasi medis gratis bagi warga Iran yang sakit (melalui spesialis Israel), hingga jajak pendapat tentang solusi krisis air kronis di Iran.

Saat protes massal meletus akhir Desember 2025, akun tersebut menyerukan:
*”Ayo turun ke jalan bersama-sama. Waktunya telah tiba. Kami bersama kalian—bukan hanya dari kejauhan atau lewat kata-kata. Kami juga berada di lapangan bersama kalian.”*

Pasca-kematian Khamenei, akun itu langsung menyindir:
*”Rezim ulama telah runtuh, dan sang pangeran berubah menjadi raja tanpa kerajaan maupun masa depan.”*

Menashe Amir, penyiar radio Israel kelahiran Teheran yang telah menyiarkan dalam bahasa Persia selama lebih dari enam dekade, mengonfirmasi keterlibatan Mossad dalam akun tersebut. Video pertamanya bersama Mossad mencatat **2,2 juta penayangan**.

**Analisis Para Ahli: Strategi Lama dalam Kemasan Baru**
Yossi Melman, pakar intelijen Israel, menilai ini sebagai kelanjutan tradisi panjang Mossad.
*”Mereka telah melakukan pekerjaan semacam ini selama puluhan tahun, hanya saja sekarang memanfaatkan teknologi digital,”* ujarnya.

Baca Juga:  Nadiem Dituntut 18 Tahun: Kuasa Google & Rugi Negara Rp2,1 Triliun

Menurut Melman, Mossad—seperti CIA dan badan intelijen lain—telah lama mendanai radio, penerbitan, dan kini platform sosial untuk menjangkau masyarakat musuh. Penjatuhan selebaran propaganda di Lebanon (saat konflik dengan Hizbullah) dan Gaza juga bagian dari playbook yang sama.

**Implikasi Lebih Luas**
Upaya ini menandakan pergeseran: dari operasi rahasia memburu target militer/nuklir, Mossad kini secara terbuka mengajak rakyat biasa Iran untuk menjadi “aset” internal. Di tengah ketegangan kawasan yang memanas, strategi “soft power” berbasis intelijen ini bisa mempercepat disintegrasi dari dalam—atau justru memicu represi lebih keras dari Teheran terhadap warganya sendiri.

Apakah “suara dari Yerusalem” ini akan mengguncang fondasi Republik Islam, atau hanya menjadi babak baru dalam perang informasi? Waktu akan menjawab, sementara puluhan ribu warga Iran terus memantau kanal tersebut dalam diam.

Redaksi Sulut1News
(Sumber: AFP, The Times of Israel, Jerusalem Post, dan analisis intelijen terkini – 20 Maret 2026)