Minahasa

Di Tengah Bising Dunia Digital, Uskup Manado Serukan “Kembali Bertemu”: Family Gathering Komsos Jadi Ruang Merawat Wajah Asli Gereja

102
×

Di Tengah Bising Dunia Digital, Uskup Manado Serukan “Kembali Bertemu”: Family Gathering Komsos Jadi Ruang Merawat Wajah Asli Gereja

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Warembungan – Di tengah zaman ketika komunikasi serba cepat, serba virtual, dan sering kali kehilangan sentuhan kemanusiaan, Uskup Manado, , justru mengajak umat untuk kembali pada hal paling mendasar: perjumpaan manusia yang nyata.

Pesan itu disampaikan dalam pembukaan kegiatan Family Gathering Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Manado ke-6 yang berlangsung di Paroki Santo Petrus Rasul Warembungan, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan ini mempertemukan delegasi pegiat komunikasi Gereja dari 52 paroki se-Keuskupan Manado dalam suasana penuh persaudaraan, refleksi, dan kebersamaan lintas generasi.

Di hadapan para pegiat media Gereja, Uskup Rolly mengingatkan bahwa teknologi memang membantu mempercepat komunikasi, namun tidak pernah mampu menggantikan kehadiran manusia secara utuh.

“Kita menghargai perkembangan luar biasa, penemuan modern, dan teknologi. Tapi itu tidak bisa menggantikan yang asli ini. Yang asli ini adalah dengan wajah asli dan suara yang asli,” ujar Uskup Manado.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah realitas dunia digital saat ini, ketika relasi sosial sering kali dibangun lewat layar, dipoles oleh filter, dan kehilangan kedalaman emosional. Menurut Uskup, Gereja justru dipanggil menghadirkan komunikasi yang memanusiakan, bukan sekadar komunikasi yang cepat.

Baca Juga:  Yulius Selvanus Gaspol Benahi Pariwisata Sulawesi Utara

Ia menyinggung pemikiran Bapa Suci tentang pentingnya komunikasi yang lahir dari perjumpaan personal atau person-to-person encounter. Dunia maya, kata dia, tidak jarang dipenuhi citra-citra artifisial yang menjauhkan manusia dari keaslian dirinya.

“Penting bagi kita untuk berjumpa secara pribadi, secara asli, dari wajah ke wajah. Bukan hanya di dunia maya dengan segala modifikasi dan artifisialnya,” tegasnya.

Dalam konteks itu, Family Gathering Komsos kali ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan atau ajang silaturahmi biasa. Lebih jauh, kegiatan ini dipandang sebagai ruang membangun kembali spiritualitas komunikasi Gereja: komunikasi yang hadir, mendengar, dan berjalan bersama umat.

Uskup Rolly kemudian mengaitkan semangat tersebut dengan arah besar Gereja Katolik dunia saat ini, yakni membangun Gereja yang Sinodal.

Ia menjelaskan bahwa istilah “Sinodal” berasal dari bahasa Yunani, Syn-Hodos, yang berarti “berjalan bersama”. Bagi Uskup, komunikasi Gereja sejatinya bukan soal siapa paling cepat memberitakan sesuatu, melainkan bagaimana seluruh umat dapat berjalan bersama dalam semangat persaudaraan.

“Syn berarti bersama, Hodos berarti berjalan. Marilah kita tetap membangun ini, Gereja yang bergerak, berjalan bersama, sebab kalau kita jalan bersama-sama, maka kita jadi kuat,” ungkapnya.

Menurutnya, kekuatan Gereja tidak dibangun dari popularitas digital semata, tetapi dari kemampuan umat menjaga kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari—dimulai dari keluarga, komunitas kecil, wilayah rohani, hingga paroki.

“Saya yakin dan percaya mukjizat itu nyata dalam kehidupan sehari-hari kalau kita menjaga ini: jalan bersama,” tambahnya.

Menariknya, suasana pembukaan kegiatan berlangsung hangat dan jauh dari kesan formal kaku. Sesekali, tawa peserta pecah ketika Uskup Rolly menyelipkan cerita ringan tentang Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manado, .

Baca Juga:  BPK Mulai Pemeriksa Keuangan Kabupaten Minahasa, Wakil Bupati Vanda Janjikan Dukungan Penuh untuk Transparansi

Ia mengisahkan candaan seorang rekan imam yang membandingkan masa jabatan Ketua Komsos di keuskupan lain yang sangat panjang.

“Bisa jadi, Bapak Uskup, mungkin perlu diperpanjang masa jabatan Romo Made ini. Di Keuskupan Agung Palembang, Ketua Komsosnya dijabat sejak masih diakon sampai menjadi pastor dan meninggal dunia,” ujarnya sambil tertawa, disambut riuh peserta.

Momen tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi Gereja tidak melulu soal produksi konten dan pemberitaan, tetapi juga soal membangun kedekatan, kehangatan, dan rasa memiliki satu sama lain.

Di akhir sambutannya, Uskup juga memberi apresiasi khusus kepada tim pendamping pelayanan pastoralnya, termasuk sopir yang ia juluki sebagai “pilot”, karena kesetiaannya menembus medan pelayanan Keuskupan Manado yang luas dan menantang.

Baca Juga:  Wagub Victor Mailangkay: Revitalisasi Sekolah Bukti Nyata Sinergi Pusat dan Daerah

Pembukaan Family Gathering Komsos ke-6 ditandai dengan pemukulan tetengkoren—alat musik tradisional Minahasa—oleh Uskup Manado bersama Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI , Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manado Pastor Yohanes I Made Pantyasa Pr, Pastor Paroki Santo Petrus Rasul Warembungan Pastor Windy Tangkuman Pr, Plh Hukum Tua Warembungan, Kapolsek Pineleng, Ketua Panitia Jimmy Senduk, serta perwakilan peserta.

Simbol itu menjadi penanda dimulainya sebuah perjumpaan yang bukan hanya merayakan kebersamaan, tetapi juga menegaskan arah baru komunikasi Gereja di era digital: tetap modern, namun tidak kehilangan wajah manusiawinya.

Di tengah dunia yang semakin sibuk membangun koneksi virtual, Family Gathering Komsos Keuskupan Manado justru mengingatkan satu hal penting: Gereja tetap hidup lewat perjumpaan nyata, langkah bersama, dan suara asli umatnya. (EL)