Sulut1news.com, Jakarta – Gejolak pasar keuangan global kembali mengguncang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah—khususnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel—menjadi pemicu utama pergerakan pasar yang fluktuatif, bahkan cenderung melemah tajam sebelum akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, IHSG tercatat mengalami tekanan signifikan. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4), indeks sempat turun ke level 6.989, merosot dari posisi psikologis 7.000. Data perdagangan menunjukkan tekanan jual masih dominan, dengan 412 saham melemah, hanya 255 yang menguat, dan 151 stagnan.
Padahal, sebelum konflik memanas, tepatnya pada 27 Februari, IHSG masih berada di level tinggi 8.235. Artinya, dalam kurun waktu lebih dari satu bulan, pasar saham Indonesia mengalami koreksi cukup dalam.
Namun, harapan mulai muncul. Pada Rabu (8/4), IHSG bangkit signifikan dengan lonjakan 308,18 poin atau 4,42 persen ke level 7.279. Kenaikan ini dipicu kabar positif terkait kesepakatan gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat selama dua pekan.
Efek Domino Perang: Minyak Naik, Rupiah Tertekan
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa konflik yang menyasar sektor strategis seperti pupuk dan infrastruktur berdampak langsung pada lonjakan harga energi global, terutama minyak mentah.
Kenaikan harga minyak yang sempat menembus US$113 per barel memicu efek domino terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Harga barang impor meningkat tajam, sementara nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga melewati Rp17.000 per dolar AS.
“Ketika harga minyak naik, otomatis biaya impor ikut melonjak. Pemerintah harus menyiapkan cadangan dolar lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,” jelas Ibrahim.
Tak hanya itu, tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh faktor domestik, seperti periode pembagian dividen kuartal I 2026 serta kekhawatiran terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berpotensi melampaui 3 persen.
Gencatan Senjata Picu Euforia Pasar
Kesepakatan gencatan senjata menjadi katalis positif yang memicu rebound pasar. Aktivitas distribusi minyak global, khususnya melalui Selat Hormuz, kembali berjalan normal—memberi angin segar bagi investor.
“Euforia terjadi karena jalur logistik energi kembali aman. Investor yang sebelumnya keluar mulai masuk lagi ke pasar dan mengambil posisi beli,” ujar Ibrahim.
Tak hanya IHSG, penguatan juga terjadi pada nilai tukar rupiah yang ikut rebound seiring membaiknya sentimen global.
Strategi Investor: Jangan Terjebak ‘Drama Pasar’
Di tengah kondisi pasar yang naik-turun tajam, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, mengingatkan investor—khususnya ritel—agar tidak terjebak dalam kepanikan atau euforia sesaat.
Menurutnya, volatilitas justru bisa menjadi peluang jika disikapi dengan strategi yang tepat.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Fokus pada fundamental perusahaan, bukan rumor atau sentimen sesaat
- Pilih saham dengan arus kas kuat dan utang terkendali, seperti sektor perbankan, consumer goods, dan energi
- Hindari overtrading, karena volatilitas tinggi sering menjebak investor ritel
- Gunakan strategi averaging, yaitu membeli secara bertahap saat harga terkoreksi
- Diversifikasi portofolio dan siapkan dana cadangan (cash buffer)
“Investor yang matang melihat volatilitas sebagai diskon, bukan ancaman,” tegas Ronny.
PR OJK dan BEI: Jaga Stabilitas dan Kepercayaan
Lebih lanjut, Ronny menilai otoritas pasar seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar.
Tiga hal utama yang perlu dilakukan yakni:
- Memperkuat kepercayaan pasar melalui transparansi dan respons cepat terhadap isu negatif
- Memperluas basis investor domestik, agar tidak terlalu bergantung pada dana asing
- Meningkatkan kualitas emiten, termasuk memperketat tata kelola dan mencegah praktik manipulatif
“Ketergantungan pada investor asing membuat pasar rentan. Saat mereka keluar, IHSG langsung goyah,” ungkapnya.
Momentum atau Ancaman?
Dengan dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, arah IHSG ke depan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan stabilitas ekonomi domestik.
Namun satu hal yang pasti, di balik gejolak selalu tersimpan peluang. Bagi investor yang cermat dan disiplin, kondisi ini bisa menjadi momentum untuk mengakumulasi aset berkualitas dengan harga yang lebih menarik.
Redaksi






