Sulut1news.com, Jakarta, 14 Februari 2026 – Di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung untuk menyelesaikan krisis nuklir Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya sedang bersiap dengan dua wajah: satu tangan mengejar kesepakatan, sementara tangan lainnya mempersiapkan “operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu” jika negosiasi gagal. Kabar persiapan militer ini membuat dunia khawatir akan muncul konflik yang lebih parah daripada semua bentrokan sebelumnya antara kedua negara.
Beberapa pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan rencana tersebut kepada Reuters, menjadikan situasi saat ini sebagai taruhan tinggi bagi masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Diplomasi Alot di Oman, Trump Sebut Sulit Capai Kesepakatan
Hanya pekan lalu, kedua negara telah bertemu di Oman untuk memulai kembali negosiasi nuklir yang terhenti selama beberapa waktu. Namun, putaran pertama pembicaraan dinilai sangat alot, dengan kedua belah pihak masih bersikeras pada posisi masing-masing. Putaran kedua diperkirakan akan segera digelar.
Dalam pidatonya kepada pasukan AS pada Jumat (13/2), Trump menyampaikan pandangannya tentang kesulitan mencapai kesepakatan dengan Iran. “Terkadang Anda harus merasa takut. Hanya itulah yang benar-benar akan menyelesaikan situasi ini,” tegasnya, yang dianggap oleh banyak pihak sebagai sinyal keras terhadap Tehran.
Juru bicara yang mewakili kepala staf Gedung Putih, Kelly, menjelaskan bahwa keputusan akhir akan tetap berada di tangan Trump. “Dia mendengarkan berbagai perspektif tentang setiap isu, tetapi membuat keputusan akhir berdasarkan apa yang terbaik untuk negara dan keamanan nasional kita,” katanya.
Sementara itu, Pentagon menolak memberikan komentar ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Iran.
Armada Raksasa AS Menuju Timur Tengah, Kapal Induk Terbesar di Dunia Bergabung
Untuk memperkuat posisinya, Trump telah mengirimkan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, dari wilayah Karibia menuju Timur Tengah. Kapal yang membutuhkan waktu sekitar tiga pekan untuk tiba akan bergabung dengan kelompok tempur USS Abraham Lincoln yang telah berada di sekitar wilayah Iran sejak Januari lalu.
Penguatan armada ini datang setelah Trump mengancam akan melakukan serangan yang “jauh lebih buruk” jika Iran tidak mau mundur dari posisinya. Presiden tersebut merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu sebagai bukti komitmennya terhadap kebijakan keras.
Posisi Iran Tetap Kokoh: Kurangi Pengayaan Nuklir Jika Sanksi Dicabut
Di sisi lain, Iran telah menyampaikan kondisi jelas untuk mencapai perdamaian. Negara tersebut bersedia mengurangi aktivitas pengayaan nuklirnya, namun dengan syarat AS mencabut semua sanksi ekonomi dan politik yang telah diterapkan selama bertahun-tahun.
Namun, Tehran tegas menolak dua tuntutan utama AS: terkait pembatasan program rudal balistik mereka dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.
(EL)
Sumber CNBC Indonesia






