InternasionalJakarta

Iran Siap Perang 6 Bulan Lawan AS–Israel, Rudal Baru Disiapkan, Konflik Timur Tengah Kian Melebar

133
×

Iran Siap Perang 6 Bulan Lawan AS–Israel, Rudal Baru Disiapkan, Konflik Timur Tengah Kian Melebar

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Konflik bersenjata antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel semakin memanas dan memasuki pekan kedua dengan eskalasi yang meluas ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Di tengah intensitas serangan yang terus meningkat, militer Iran menegaskan kesiapan menghadapi perang jangka panjang bahkan hingga enam bulan ke depan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Ali Mohammad Naini pada Minggu (8/3/2026). Ia menyatakan Iran masih memiliki kemampuan militer yang jauh lebih besar dari yang telah digunakan sejauh ini.

Menurut Naini, serangan balasan Iran selama beberapa hari terakhir baru menggunakan rudal generasi pertama dan kedua. Artinya, Iran masih menyimpan teknologi persenjataan yang lebih canggih jika konflik terus meningkat.

“Republik Islam mampu mempertahankan perang intensif hingga enam bulan dengan tingkat pertempuran seperti saat ini,” ujar Naini, seperti dikutip dari laporan AFP.

Baca Juga:  Ramadan Berdarah: Pakistan Gempur Afghanistan, Puluhan Warga Sipil Tewas

Serangan Meluas ke Beirut dan Negara Teluk

Ketegangan regional semakin meningkat setelah militer Israel melancarkan serangan presisi di sebuah hotel tepi laut di pusat Beirut, ibu kota Lebanon. Target serangan disebut merupakan sejumlah komandan senior dari Pasukan Quds, unit operasi luar negeri IRGC.

Serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang, menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon. Insiden ini menjadi salah satu operasi lintas negara paling signifikan sejak konflik meletus.

Di saat yang hampir bersamaan, ketegangan juga terasa di kawasan Teluk Persia. Pemerintah Arab Saudi mengumumkan berhasil mencegat sejumlah drone yang menuju berbagai target strategis, termasuk kawasan diplomatik di ibu kota Riyadh.

Sementara itu, Kuwait melaporkan sebuah serangan drone menghantam tangki bahan bakar di bandara internasional negara tersebut. Serangan terhadap fasilitas energi ini meningkatkan kekhawatiran tentang dampak konflik terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

Baca Juga:  Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI – Diterima Semua Partai, Kemampuan Melengkapi

Ancaman terhadap Jalur Energi Global

Kekhawatiran global semakin meningkat setelah perusahaan minyak nasional Kuwait mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah. Langkah itu diambil menyusul meningkatnya ancaman keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.

Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya diperkirakan akan terasa langsung pada pasar energi global, termasuk lonjakan harga minyak.

Di dalam negeri Iran sendiri, pemerintah menuduh aliansi AS–Israel telah menyerang depot minyak di ibu kota Teheran pada Sabtu (7/3/2026). Serangan tersebut disebut sebagai serangan pertama yang menyasar infrastruktur minyak Iran sejak konflik pecah.

Militer Israel kemudian mengonfirmasi operasi tersebut dan menyatakan targetnya adalah fasilitas penyimpanan bahan bakar yang diduga digunakan untuk mendukung operasi militer Iran.

Netanyahu: Operasi Militer Akan Dilanjutkan

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menghentikan operasi militernya terhadap Iran.

Baca Juga:  Menghadapi Rupiah Sentuh Rp17.500/US$, Menkeu: Jangan Panik, Fondasi Ekonomi Indonesia Beda Jauh dengan Masa Krisis 1998

Menurut Netanyahu, negaranya akan melanjutkan perang “dengan seluruh kekuatan yang dimiliki”.

Pernyataan keras ini muncul setelah serangan gabungan AS–Israel pekan lalu dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebuah peristiwa yang memicu gelombang eskalasi militer di kawasan.

Ancaman Perang Regional

Pengamat menilai konflik yang awalnya terbatas antara Iran dan Israel kini berpotensi berubah menjadi perang regional yang melibatkan banyak negara di Timur Tengah.

Dengan serangan yang sudah menjangkau Lebanon, negara-negara Teluk, serta ancaman terhadap jalur energi global, konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan tetapi juga ekonomi dunia.

Jika eskalasi terus meningkat dan teknologi senjata yang lebih canggih mulai digunakan, Timur Tengah berpotensi memasuki fase konflik yang lebih panjang dan kompleks dibandingkan sebelumnya.
Redaksi Sulut1News