InternasionalJakarta

Lebih Baik Mati daripada Wajib Militer”: Ribuan Haredim Geruduk Rumah Jenderal, Suasana Israel Memanas

150
×

Lebih Baik Mati daripada Wajib Militer”: Ribuan Haredim Geruduk Rumah Jenderal, Suasana Israel Memanas

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Yerusalem – Suasana di Israel kembali memanas. Ribuan warga komunitas Yahudi Ultra-Ortodoks, yang dikenal sebagai Haredim, menggelar demonstrasi besar-besaran yang berujung pada kerusuhan dan penyerbuan. Aksi ini merupakan bentuk penolakan ekstrem terhadap rencana pemerintah yang mewajibkan kalangan mereka turut serta dalam dinas militer.

Situasi semakin tegang ketika ratusan demonstran nekat menerobos masuk ke kediaman pribadi Kepala Polisi Militer Israel, Yuval Yamin, di Kota Ashkelon, pada Selasa malam. Aksi ini dilakukan sebagai protes atas penangkapan warga Haredim yang diduga melanggar aturan wajib militer.

Menurut laporan Radio Angkatan Darat Israel, massa yang diperkirakan mencapai sekitar 200 orang tersebut bertindak sangat agresif. Mereka memanjat pagar dan berhasil masuk ke halaman rumah pejabat tinggi keamanan negara tersebut. Ironisnya, saat kejadian, Yuval Yamin tidak berada di tempat, namun istri dan anak-anaknya ada di dalam rumah, membuat insiden ini semakin memilukan dan dianggap sebagai pelanggaran batas yang serius.

Baca Juga:  PWI Pusat Rencanakan Natal Bersama Wartawan Kristiani

Polisi mengaku kewalahan menghadapi massa yang jumlahnya besar dan emosional, sehingga upaya pengamanan gagal mencegah penyerbuan tersebut.

Perang Nilai: Taurat vs Negara

Inti dari kemarahan ribuan warga Haredim ini adalah rencana revisi undang-undang yang menghapuskan status pengecualian wajib militer bagi mereka yang sedang menuntut ilmu agama.

Bagi komunitas Haredim, mempelajari Taurat bukan sekadar hobi atau pendidikan biasa, melainkan bentuk pengabdian suci tertinggi. Mereka meyakini bahwa kewajiban spiritual ini jauh lebih utama daripada kewajiban membela negara secara fisik.

Dalam unjuk rasa yang sempat memblokade jalanan utama di Yerusalem dan memicu bentrokan dengan aparat, mereka meneriakkan prinsip yang sangat keras: “Lebih baik mati daripada ikut wajib militer.”

Baca Juga:  Awal Manis FIFA Series 2026 di Jakarta, Erick Thohir: Momentum Bangkitnya Timnas Indonesia di Panggung Dunia

Mereka menuntut agar tradisi keagamaan dan hak eksklusif untuk fokus belajar agama tetap dihormati dan dilindungi oleh hukum negara.

Peringatan Keras

Media Israel, Hayom, menilai gelombang protes kali ini bukan lagi sekadar aksi demonstrasi biasa. Eskalasi yang mencapai titik penyerbuan rumah pejabat tinggi negara menandakan bahwa ketegangan antara pemerintah dan komunitas Ultra-Ortodoks telah mencapai level yang sangat berbahaya dan sulit diredam.

Pemerintah kini dihadapkan pada dilema pelik: memaksakan kesetaraan kewajiban sipil bagi seluruh warga negara, atau menghormati kebebasan beragama yang berpotensi memecah belah bangsa Israel dari dalam.