Jakarta

Mahasiswa Kepung Mabes Polri, Desak Copot Kapolri hingga Reformasi Total Usai Tewasnya Siswa SMP di Maluku

185
×

Mahasiswa Kepung Mabes Polri, Desak Copot Kapolri hingga Reformasi Total Usai Tewasnya Siswa SMP di Maluku

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Gelombang desakan reformasi kepolisian kembali menguat. Aliansi mahasiswa dari , , dan menggelar aksi di depan Mabes Polri, Jakarta, menuntut pertanggungjawaban atas tewasnya siswa SMP berinisial AT yang diduga dianiaya anggota Brimob Polda Maluku, Bripda Mesias Siahaya.

Aksi yang berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa itu ditutup sekitar pukul 18.35 WIB. Namun, tuntutan yang mereka gaungkan disebut tidak berhenti di hari itu.

Ketua BEM UI, Yatalathof Mashum, dalam pernyataan sikapnya menyampaikan kritik keras terhadap institusi Polri.

“Di bulan suci Ramadan, kita bertempat di tempat yang sayangnya tidak suci, kita melaksanakan aksi dengan tagar aparat keparat,” ujarnya lantang di hadapan massa aksi.

Baca Juga:  Berstatus Tersangka Sejak November 2025, Roy Suryo dan Dokter Tifa Akhirnya Ditangkap Terkait Dugaan Fitnah Ijazah Jokowi

Lima Tuntutan Mahasiswa

Dalam aksi tersebut, aliansi mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama:

  1. Mendesak hukuman pidana seberat-beratnya terhadap pelaku penganiayaan yang menyebabkan tewasnya AT, serta penindakan terhadap aparat yang melakukan tindakan represif.
  2. Menuntut pencopotan Kapolri dan Kapolda Maluku dari jabatannya.
  3. Mendesak pembebasan seluruh tahanan politik yang dikriminalisasi.
  4. Menuntut penegakan batasan kewenangan serta penarikan anggota Polri dari jabatan-jabatan sipil.
  5. Meminta hasil konkret reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental melalui komisi percepatan reformasi Polri.

Menurut Yatalathof, kasus kematian AT bukan sekadar insiden individual, melainkan cerminan persoalan mendasar dalam sistem pengawasan dan kultur institusi kepolisian.

Kecewa Tak Ditemui Kapolri

Kekecewaan mewarnai akhir aksi. Massa mengaku tidak mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Kapolri.

Baca Juga:  Stok BBM RI Hanya 20–23 Hari, Pemerintah Akui Keterbatasan Storage Jadi Tantangan di Tengah Konflik Timur Tengah

“Pada hari ini, kami massa aksi tidak dapat menemui Kapolri. Bahkan sedikitpun, kami dikecewakan sekali lagi. Aspirasi-aspirasi yang kami suarakan tidak lagi didengar oleh mereka,” tegas Yatalathof.

Ketiadaan dialog langsung dengan pimpinan tertinggi Polri dinilai memperkuat kesan tertutupnya ruang komunikasi antara masyarakat sipil dan institusi kepolisian.

Ancaman Aksi Lebih Besar

Aliansi mahasiswa memastikan aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar akan digelar dalam waktu dekat.

“Kami akan kembali dalam kekuatan-kekuatan yang lebih besar, dalam aksi-aksi yang lebih besar dan lebih masif. Kami akan bertransformasi menjadi kekuatan yang lebih kuat,” ujarnya.

Gelombang protes ini menambah daftar panjang sorotan publik terhadap institusi Polri dalam beberapa tahun terakhir. Desakan reformasi struktural kembali mengemuka, terutama menyangkut akuntabilitas, transparansi penanganan kasus kekerasan oleh aparat, serta batasan kewenangan dalam ranah sipil.

Baca Juga:  Krisis Avtur Mengancam Asia: Filipina Siapkan Skenario Darurat, Penerbangan Bisa Lumpuh

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Mabes Polri terkait tuntutan massa aksi tersebut.

(Sumber: CNN Indonesia, diolah)