JakartaNasional

RUPIAH REKOR TERLEMAH DI LEVEL Rp16.945/US$, MESKI DOLAR GLOBAL TERKOREKSI

207
×

RUPIAH REKOR TERLEMAH DI LEVEL Rp16.945/US$, MESKI DOLAR GLOBAL TERKOREKSI

Sebarkan artikel ini

Pelemahan terjadi jelang hasil RDG BI, sementara ancaman tarif Trump dorong aksi jual aset AS
Sulut1news.com, Jakarta – Rupiah Indonesia melaju ke zona rekor baru setelah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (20/1/2026). Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah berakhir di level Rp16.945 per dolar AS atau terdepresiasi 0,06% pada hari itu – posisi yang menjadi level terlemah sepanjang masa dalam sejarah nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Pergerakan Volatil, Hampir Sentuh Rp17.000

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah menunjukkan gerakan yang fluktuatif dan terus tertekan sejak pembukaan. Pada awal perdagangan, mata uang lokal dibuka melemah 0,18% di level Rp16.965/US, bahkan sempat menyentuh titik terlemah intraday di Rp16.985/US sebelum akhirnya sedikit pulih pada penutupan.

Baca Juga:  Ekonomi AS 2026: Data Stabil, Dompet Warga Tertekan — Muncul Fenomena “E-Shaped Economy”

Pernyataan menarik muncul mengingat indeks dolar AS (DXY) justru mengalami koreksi cukup signifikan di pasar global. Per pukul 15.00 WIB, DXY tercatat turun 0,54% ke level 98,846 – menjadikan pelemahan rupiah sebagai fenomena yang patut diperhatikan karena terjadi meskipun mata uang utama saingannya sedang melemah.

Fokus Pasar Padat RDG BI, Suku Bunga Diprediksi Tetap

Tekanan pada rupiah diperkuat dengan fokus pelaku pasar yang kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang telah dimulai hari ini dan akan mengumumkan hasil kebijakan pada Rabu (21/1/2026).

Pasar secara luas memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% dengan pendekatan hati-hati. Meskipun inflasi domestik terkendali dengan baik di kisaran 2,92% – berada dalam target BI – ruang untuk pelonggaran suku bunga dinilai terbatas. Hal ini dikarenakan tekanan eksternal yang masih tinggi serta kebutuhan untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing.

Baca Juga:  Menuju Era B50: KAI Siapkan Lokomotif, Buktikan Kereta Api Tekan Emisi Hingga 90%

Ancaman Tarif Trump Dorong “Sell America”

Di sisi eksternal, koreksi DXY terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland. Kebijakan ini memicu aksi jual terhadap aset-aset AS secara luas.

Sentimen tersebut menghidupkan kembali fenomena “Sell America”, di mana investor mulai melepaskan saham, obligasi pemerintah AS, serta dolar AS. Kekhawatiran berkembang terkait ketidakpastian kebijakan, kemungkinan pemburukan hubungan aliansi, hingga percepatan tren dedolarisasi di beberapa negara.

Namun demikian, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati menjelang pembukaan kembali pasar AS yang sebelumnya ditutup untuk merayakan hari libur Martin Luther King Jr. Day. Selain itu, arah kebijakan moneter The Federal Reserve juga menjadi perhatian utama.

Baca Juga:  Perayaan Natal & K3 Kawanua: Meriahkan Budaya, Menyentuh Hati dengan Aksi Sosial untuk Korban Bencana Sulut

Menurut CME Group FedWatch Tool, kontrak berjangka Fed funds mencerminkan probabilitas sekitar 94,5% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Komite Pembuka Pasar Terbuka (FOMC) pekan depan.
Redaksi Sulut1News