InternasionalJakarta

Ekonomi AS 2026: Data Stabil, Dompet Warga Tertekan — Muncul Fenomena “E-Shaped Economy”

148
×

Ekonomi AS 2026: Data Stabil, Dompet Warga Tertekan — Muncul Fenomena “E-Shaped Economy”

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Gambaran ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2026 semakin sulit dijelaskan dengan label sederhana “baik” atau “buruk”. Di atas kertas, berbagai indikator ekonomi menunjukkan kondisi relatif stabil. Namun di tingkat rumah tangga, banyak warga justru merasakan tekanan finansial yang semakin berat.

Fenomena tersebut mendorong para ekonom memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan kondisi ekonomi saat ini: “E-shaped economy”—sebuah pola pemulihan ekonomi yang sangat timpang antara kelompok kaya dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menjelaskan bahwa pola ekonomi yang sebelumnya dikenal sebagai “K-shaped economy” kini berkembang menjadi bentuk yang lebih ekstrem.

“Ketimpangan ekonomi semakin terlihat jelas. Kelompok kaya tetap kuat dan terus berbelanja, sementara kelompok lain harus berjuang menyesuaikan pengeluaran mereka,” ujar Long.


Inflasi Turun, Tetapi Harga Tetap Mahal

Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan inflasi yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) sempat melonjak hingga sekitar 9% pada Juni 2022, sebelum perlahan turun dan stabil di kisaran 3% sejak pertengahan 2023.

Sementara itu, indikator inflasi lain yang menjadi acuan bank sentral AS, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, berada di sekitar 2,9% pada akhir 2025.

Baca Juga:  Srikandi PLN Gerakkan 40 Ribu Penerima Manfaat, Perempuan Jadi Motor Ekonomi

Meski tren inflasi menurun, kenyataannya harga barang dan jasa masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi pada 2020. Dalam periode yang sama, kenaikan upah riil relatif stagnan.

Kondisi tersebut membuat banyak konsumen merasa daya beli mereka menurun.

Survei University of Michigan bahkan mencatat indeks kepercayaan konsumen turun hampir 13% secara tahunan hingga Februari 2026, mencerminkan meningkatnya kecemasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.


Konsumsi Didominasi Kelompok Kaya

Dalam struktur E-shaped economy, konsumsi rumah tangga di AS semakin ditopang oleh kelompok berpenghasilan tinggi.

Analisis Moody’s Analytics menunjukkan 20% rumah tangga terkaya menyumbang hampir 60% dari total belanja konsumen nasional.

Kelompok ini relatif tidak terlalu terdampak kenaikan harga, sehingga tetap menjadi motor penggerak ekonomi.

Tren tersebut bahkan mendorong banyak perusahaan memperkuat segmen produk premium untuk menarik konsumen kelas atas.

Sebagai contoh, kartu kredit premium seperti Chase Sapphire Reserve dan American Express Platinum Card menaikkan biaya tahunan masing-masing menjadi sekitar US$795 dan US$895. Meski mahal, produk tersebut tetap diminati kalangan berpendapatan tinggi yang memiliki daya beli kuat.

Baca Juga:  SERANGAN RUDAL BALISTIK IRAN HANTAM ISRAEL: 6 ORANG TEWAS, PARUH MILYARAN KILOMETER BALAS DENDAM BERAKHIR MEMBAKAR PERMUKIMAN

Kelas Menengah Mulai Tertekan

Berbeda dengan kelompok kaya, kelas menengah mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan ekonomi.

Heather Long menyebut fenomena ini sebagai “Costco economy”, merujuk pada perilaku konsumen yang semakin sering mencari harga lebih murah di toko grosir atau diskon seperti Costco dan Walmart.

Mereka masih mampu memenuhi kebutuhan dasar, namun harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

“Kelas menengah sekarang berbelanja dengan rasa cemas. Mereka mencoba memaksimalkan setiap dolar dengan membeli dalam jumlah besar atau mencari harga paling murah,” jelas Long.

Data Bank of America menunjukkan sekitar 24% rumah tangga pada 2025 hidup dari gaji ke gaji, dengan biaya kebutuhan pokok menghabiskan lebih dari 95% pendapatan mereka.


Kelompok Bawah Bergantung pada Utang

Tekanan ekonomi paling terasa di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah.

Banyak dari mereka kini semakin bergantung pada kartu kredit serta layanan cicilan Buy Now, Pay Later (BNPL) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Survei Federal Reserve (The Fed) menunjukkan 59% pemegang kartu kredit dengan pendapatan US$25.000–US$49.999 membawa saldo utang dari bulan ke bulan.

Baca Juga:  Prabowo Tanggapi Kritik Media Asing: Demokrasi Butuh Masukan, Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh

Selain itu, survei LendingTree menemukan 25% pengguna BNPL pada 2025 menggunakan layanan tersebut untuk membeli bahan makanan, naik signifikan dari 14% pada 2024.

Data tersebut memperlihatkan semakin beratnya tekanan biaya hidup bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.


Harapan Sementara dari Pengembalian Pajak

Di tengah tekanan tersebut, musim pajak 2026 diperkirakan memberi sedikit ruang bernapas bagi sebagian rumah tangga.

Survei Intuit TurboTax menunjukkan sekitar 35% warga Amerika yang menerima pengembalian pajak berencana menggunakan dana tersebut untuk melunasi utang.

Namun para ekonom menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara.

“Kembalian pajak bisa membantu dalam jangka pendek, tetapi tidak menyelesaikan persoalan utama, yaitu tingginya biaya hidup dibandingkan pendapatan,” kata Long.


Ketimpangan Jadi Tantangan Baru

Fenomena E-shaped economy menegaskan bahwa tantangan utama ekonomi AS saat ini bukan lagi sekadar inflasi atau pertumbuhan, melainkan ketimpangan daya beli yang semakin melebar.

Selama konsumsi masih bergantung pada kelompok kaya sementara kelas menengah dan bawah terus tertekan, para ekonom menilai stabilitas ekonomi jangka panjang AS bisa menghadapi risiko baru.

Redaksi Sulut1News