Ekonomi & BisnisJakarta

RUPIAH REKOR TERLEMAH DI RP16.945/US$, KEPUTUSAN BI HARINI JADI PENENTU KESEIMBANGAN PASAR

168
×

RUPIAH REKOR TERLEMAH DI RP16.945/US$, KEPUTUSAN BI HARINI JADI PENENTU KESEIMBANGAN PASAR

Sebarkan artikel ini

Oleh Redaksi Sulut1news.com
Jakarta, 21 Januari 2026 07:30 WIB

Sulut1news.com, Jakarta – Pasar keuangan nasional menghadapi tantangan besar di tengah dinamika global yang tidak menentu: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan dengan kenaikan tipis, namun rupiah melorot hingga mencatat rekor terlemah sepanjang masa. Fokus seluruh pelaku pasar kini tertuju pada keputusan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang diumumkan hari ini, dengan harapan langkah kebijakan dapat mengembalikan stabilitas mata uang dan mendukung daya saing ekonomi nasional.

IHSG BERTAHAN DI ATAS 9.300, SEKTOR BARANG BAKU DAN PROPERTI UNGGUL

Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1), IHSG ditutup pada level 9.314,70 atau naik kurang dari satu poin setelah bergerak fluktuatif dalam rentang 9.120,15 hingga 9.174,47 sepanjang hari perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp29,57 triliun dengan volume perdagangan 72,93 miliar saham dalam 3,93 juta kali transaksi, sementara kapitalisasi pasar tercatat Rp16.590 triliun.

Baca Juga:  Prabowo Turun Tangan: Penertiban Tambang di Area Hutan Masuki Babak Serius

Sebanyak 336 saham mengalami kenaikan, 323 saham turun, dan 143 saham tidak bergerak. Mayoritas sektor perdagangan menguat, dengan sektor barang baku dan properti mencatatkan kenaikan tertinggi, sedangkan sektor energi dan infrastruktur menjadi yang paling lemah.

Lima saham utama yang menyokong kinerja IHSG adalah Bumi Resources Minerals (BRMS) dengan kontribusi 11,87 poin indeks, Merdeka Gold Resources (EMAS) 10,85 poin, Bukit Uluwatu Villa (BUVA) 6,05 poin, Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) 5 poin, dan XL SMART Telecom Sejahtera (EXCL) 4,06 poin. Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan nilai transaksi terbanyak sebesar Rp8,56 triliun, meskipun akhirnya hanya terapresiasi tipis setelah melonjak di sesi awal.

RUPIAH TERTEKAN MESKI DOLAR GLOBAL MENYUSUT

Merujuk data Refinitiv, rupiah berakhir terdepresiasi 0,06% ke level Rp16.945 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang sejarah mata uang lokal. Kondisi ini terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) terkoreksi cukup dalam sebesar 0,54% ke level 98,846 pada pukul 15.00 WIB kemarin.

Baca Juga:  Awal Manis FIFA Series 2026 di Jakarta, Erick Thohir: Momentum Bangkitnya Timnas Indonesia di Panggung Dunia

Pelemahan rupiah dipicu oleh fokus pasar pada hasil Rapat Dewan Gubernur BI. Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%, mengingat inflasi domestik yang relatif terkendali di kisaran 2,92% namun ruang pelonggaran suku bunga terbatas akibat tekanan eksternal dan kebutuhan menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing.

Di sisi global, pelemahan DXY terjadi setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland, yang memicu aksi jual pada aset AS dan menghidupkan kembali fenomena “Sell America”. Investor khawatir akan ketidakpastian kebijakan, perburukan hubungan aliansi, dan potensi percepatan tren dedolarisasi. Pasar juga masih bersikap hati-hati menjelang pembukaan kembali pasar AS pasca libur Martin Luther King Jr. Day serta menanti arah kebijakan moneter The Federal Reserve, yang diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan dengan probabilitas sekitar 94,5% menurut CME Group FedWatch Tool.

Baca Juga:  Pengadaan 105 Ribu Mobil Koperasi Rp 24,66 T, DPR Minta Utamakan Produk Dalam Negeri

PASAR OBLIGASI JUGA TERTEKAN, YIELD 10 TAHUN NAIK

Tekanan eksternal juga dirasakan di pasar obligasi nasional. Yield obligasi acuan Republik Indonesia untuk tenor 10 tahun (ID10Y) naik 0,31 poin ke posisi 6,32%. Kenaikan yield yang berbanding terbalik dengan harga menunjukkan kondisi harga obligasi sedang turun akibat tekanan jual dari investor yang masih berlanjut.

Performa pasar keuangan nasional diperkirakan akan terus terpengaruh oleh keputusan kebijakan BI hari ini serta perkembangan data ekonomi dan kebijakan moneter dari negara-negara utama di dunia. Selengkapnya mengenai proyeksi perkembangan pasar dapat dibaca pada bagian lanjutan artikel ini.
(€L)