Sulut1news.com, Jakarta – Kabar yang dinantikan jutaan pengguna bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai terlihat di depan mata. Pemerintah memberi sinyal kuat bahwa harga Pertamax berpeluang mengalami penurunan dalam beberapa bulan ke depan seiring tren melemahnya harga minyak mentah dunia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimismenya bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi akan mengikuti perkembangan harga minyak global. Jika tren tersebut terus berlanjut, beban pengeluaran masyarakat diperkirakan akan berkurang sekaligus membantu meredam tekanan inflasi nasional.
Menurut Purbaya, penurunan harga minyak dunia yang terjadi secara bertahap akan memberikan ruang bagi penyesuaian harga Pertamax.
“Saya harapkan setelah harga minyak dunia turun pelan-pelan, harga Pertamax juga akan turun mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Dengan begitu, tekanan terhadap inflasi akan segera berkurang,” ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
Optimisme tersebut muncul setelah inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat meningkat. Namun, pemerintah menilai kenaikan tersebut lebih dipicu oleh faktor-faktor yang bersifat sementara, terutama penyesuaian harga energi dan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Purbaya menjelaskan, indikator inflasi inti (core inflation) yang masih berada di level 2,76 persen menunjukkan kondisi daya beli masyarakat masih relatif stabil. Dengan demikian, kenaikan inflasi saat ini bukan disebabkan oleh lonjakan permintaan masyarakat, melainkan akibat fluktuasi harga komoditas yang diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa bulan mendatang.
“Core inflation masih terkendali. Ini menunjukkan kenaikan inflasi bukan berasal dari permintaan yang terlalu tinggi, tetapi karena harga-harga yang sifatnya fluktuatif seperti minyak, BBM, dan pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen (month to month). Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi sebesar 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan harga bensin menjadi faktor dominan penyebab inflasi. Selain itu, tarif angkutan udara yang meningkat selama musim libur sekolah serta kenaikan harga pelumas kendaraan turut mendorong kenaikan indeks harga konsumen.
Menurut BPS, bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan oli mesin sebesar 0,01 persen.
Bagi masyarakat, terutama di daerah kepulauan seperti Sulawesi Utara yang sangat bergantung pada transportasi darat, laut, dan udara, penurunan harga Pertamax diharapkan tidak hanya mengurangi biaya operasional kendaraan, tetapi juga menekan ongkos distribusi barang dan jasa. Jika biaya logistik ikut turun, stabilitas harga kebutuhan pokok berpotensi semakin terjaga.
Pernyataan Menteri Keuangan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah optimistis gejolak inflasi akibat kenaikan harga energi hanya bersifat sementara. Dengan tren harga minyak dunia yang terus melandai, peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi menjadi harapan baru bagi masyarakat dan dunia usaha dalam menjaga daya beli serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Redaksi






