BitungSulutTerkini

YSK Dorong Ekosistem K3 Profesional untuk Topang Sulut Sebagai Poros Maritim

288
×

YSK Dorong Ekosistem K3 Profesional untuk Topang Sulut Sebagai Poros Maritim

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Bitung – Komitmen menjadikan Sulawesi Utara sebagai kawasan industri dan maritim yang maju tidak bisa dilepaskan dari satu fondasi utama: keselamatan kerja. Di tengah geliat aktivitas logistik dan ekspor-impor di Pelabuhan Bitung, Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK), memimpin langsung Apel Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 di PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung, Rabu (25/02/2026).

Apel ini bukan sekadar seremoni tahunan. Di lokasi yang menjadi simpul penting rantai pasok kawasan timur Indonesia itu, Gubernur YSK mengirim pesan tegas: pertumbuhan ekonomi Sulut tidak boleh dibayar dengan risiko nyawa pekerja.

Kegiatan tersebut turut dihadiri para kepala daerah kabupaten/kota se-Sulawesi Utara, unsur Forkopimda, pimpinan dunia usaha, serta perwakilan pekerja dari berbagai sektor industri dan jasa.

Dalam kapasitasnya sebagai Inspektur Upacara, Gubernur YSK membacakan sambutan resmi Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Disebutkan, Indonesia saat ini memiliki 146,54 juta pekerja yang tersebar di berbagai sektor dengan tingkat risiko beragam—mulai dari industri, konstruksi, pertambangan, transportasi, perkebunan, hingga jasa dan ekonomi digital.

Baca Juga:  Gubernur Yulius Selvanus Dorong Kebangkitan Pariwisata Sulut di Tengah Lonjakan Wisman Oktober 2025

“Di sinilah aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja menjadi fondasi yang sangat penting,” demikian sambutan yang dibacakan YSK.

Data nasional tahun 2024 mencatat 319.224 kasus kecelakaan kerja yang terlapor. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada pekerja yang kehilangan kemampuan kerja, bahkan kehilangan nyawa. Ada keluarga yang kehilangan sumber penghidupan. Perusahaan pun menanggung gangguan produktivitas serta beban sosial dan ekonomi yang tidak kecil.

“Kecelakaan kerja adalah alarm keras bahwa masih ada celah dalam sistem kita, baik di tingkat korporasi maupun nasional,” tegas YSK.

Bagi Sulawesi Utara, isu ini menjadi semakin relevan. Dengan berkembangnya Kawasan Ekonomi Khusus, aktivitas pelabuhan internasional, serta meningkatnya investasi sektor industri dan maritim, potensi risiko kerja ikut meningkat. Karena itu, penguatan sistem K3 harus berjalan beriringan dengan akselerasi pembangunan.

Baca Juga:  Braien Waworuntu: Kepemimpinan Baru GMIM Akan Membangun Sinergitas dengan Pemerintah

Mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, Bulan K3 Nasional 2026 diarahkan pada perubahan paradigma.

Menurut YSK, K3 tidak boleh lagi dipandang sebagai kewajiban administratif semata atau sekadar pemenuhan regulasi.

“K3 adalah nilai. Nilai bahwa setiap pekerja berhak pulang dengan selamat. Nilai bahwa produktivitas dan keselamatan harus berjalan beriringan. Dan ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa membangun ekosistem K3 berarti menciptakan keterhubungan utuh antar pemangku kepentingan. Pemerintah bertindak sebagai regulator dan fasilitator. Dunia usaha sebagai pelaksana sekaligus inovator. Pekerja sebagai subjek utama dan mitra aktif. Akademisi serta asosiasi profesi sebagai penjaga standar praktik terbaik. Media pun memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi dan kesadaran publik.

Dipilihnya Terminal Petikemas Bitung sebagai lokasi apel memiliki makna simbolis. Pelabuhan ini merupakan salah satu pintu gerbang utama arus barang dan perdagangan Sulawesi Utara. Setiap hari, aktivitas bongkar muat, distribusi logistik, hingga operasional alat berat berlangsung dengan intensitas tinggi—sebuah ekosistem kerja dengan risiko yang tidak kecil.

Baca Juga:  Langkah Cepat Gubernur Yulius Selvanus Amankan Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri

Dengan memusatkan peringatan di kawasan ini, Pemerintah Provinsi Sulut menegaskan bahwa keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama di titik-titik strategis ekonomi daerah.

Momentum Bulan K3 Nasional 2026 ini diharapkan menjadi titik tolak penguatan komitmen bersama—bukan hanya mengurangi angka kecelakaan kerja, tetapi membangun budaya kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

Di tengah ambisi menjadikan Sulut sebagai poros maritim dan industri di kawasan timur Indonesia, satu pesan menjadi jelas: pertumbuhan harus sejalan dengan perlindungan. Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan diukur bukan hanya dari angka investasi dan produksi, tetapi dari seberapa banyak pekerja yang dapat kembali ke rumah dengan selamat setiap hari.
(EL)