JakartaTerkini

INGGRIS TUDUH KREMLIN BUNUH NAVALNY DENGAN RACUN KATAK PANAH: “SARANA, MOTIF, DAN KESEMPATAN ADA DI SANA”

53
×

INGGRIS TUDUH KREMLIN BUNUH NAVALNY DENGAN RACUN KATAK PANAH: “SARANA, MOTIF, DAN KESEMPATAN ADA DI SANA”

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta- Pemerintah Inggris resmi menuding Kremlin sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny, yang dinyatakan tewas akibat racun yang berasal dari toksin katak panah (dart frog). Penegasan ini datang tepat dua tahun setelah Navalny ditemukan meninggal dunia di koloni penjara Siberia, dan diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada Sabtu (14/2) dalam acara Konferensi Keamanan Muenchen.

Berdasarkan analisis mendalam terhadap sampel material yang diambil dari jasad Navalny, pihak kantor Kementerian Luar Negeri Inggris (Foreign Office) mengidentifikasi keberadaan zat epibatidine – salah satu komponen toksin paling mematikan dari katak panah yang dikenal memiliki efek fatal pada sistem saraf manusia.

Baca Juga:  Pendidikan Ramah & Bermutu: Bitung Susun Langkah Strategis, Hilangkan Sekat Antar Sekolah Demi Kemajuan Serentak

“Hanya Pemerintah Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan toksin mematikan ini terhadap Alexei Navalny selama masa pemenjaraannya,” tegas Cooper dalam pidatonya, seperti dilansir Sky News.

Menurut pihak Inggris, tidak ada penjelasan medis atau faktor lingkungan yang dapat menjelaskan keberadaan zat beracun tersebut di tubuh Navalny, sehingga menyimpulkan bahwa kematiannya merupakan “upaya pembunuhan yang disengaja”.

Pernyataan penting ini dikeluarkan setelah Cooper melakukan pertemuan pribadi dengan Yulia Navalnaya, janda mendiang Navalny. Pertemuan tersebut memiliki makna khusus karena tepat pada hari yang sama dua tahun lalu (2024), Yulia juga telah mengumumkan berita kematian suaminya di forum yang sama.

Selama dua tahun terakhir, pemerintah Inggris mengaku telah melakukan upaya penuh untuk mengungkap fakta di balik kematian Navalny. Dalam pernyataannya, Cooper juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai rencana “barbar” dari Kremlin untuk membungkam suara oposisi dalam negeri.

Baca Juga:  Serangan Militer AS di Nigeria: Peringatan Keras bagi Teroris ISIS

“Penggunaan racun jenis ini bukan hanya tindakan keji untuk melenyapkan ancaman politik, tetapi juga menjadi bukti rasa takut yang luar biasa dari pemerintah Rusia terhadap suara-suara yang berbeda pendapat,” ujarnya.

Sejak pertama kali mengumumkan kematian Navalny, otoritas Rusia secara konsisten membantah setiap tuduhan terkait keterlibatan mereka. Hingga saat ini, Kremlin belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan zat epibatidine yang diumumkan oleh pihak intelijen dan laboratorium Inggris.
(EL)
Sumber CNN Indonesia