InternasionalJakarta

Trump Buka Opsi “Pengayaan Simbolis” Iran, Namun Skenario Militer Termasuk Targetkan Khamenei Ikut Disiapkan

350
×

Trump Buka Opsi “Pengayaan Simbolis” Iran, Namun Skenario Militer Termasuk Targetkan Khamenei Ikut Disiapkan

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Ketegangan antara dan Teheran memasuki babak baru. Di tengah ancaman operasi militer, Presiden Amerika Serikat itu dikabarkan siap mempertimbangkan proposal yang memungkinkan Iran tetap melakukan pengayaan uranium dalam skala “simbolis” — selama tidak menyisakan celah menuju pembuatan senjata nuklir.

Informasi tersebut diungkap seorang pejabat senior AS kepada . Langkah ini disebut sebagai upaya mencapai kesepakatan yang dapat membatasi kemampuan nuklir Iran sekaligus mencegah perang terbuka di Timur Tengah.

Namun, di saat yang sama, Gedung Putih juga menerima berbagai opsi militer terhadap Iran. Bahkan, salah satu skenario ekstrem yang diajukan kepada Trump mencakup kemungkinan menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Iran, , beserta lingkaran inti kekuasaan ulama di Teheran.

Standar Tinggi untuk Teheran

Pejabat senior AS itu menegaskan bahwa standar proposal Iran sangat tinggi. Rencana tersebut harus mampu meyakinkan kelompok skeptis di internal pemerintahan Trump maupun sekutu AS di kawasan.

Baca Juga:  Militer Tiongkok Luncurkan Latihan Tempur 2026, DF-17 Rudal Hipersonik Jadi Bintang Utama yang Tantang Pertahanan AS

“Presiden Trump siap menerima kesepakatan yang substansial dan bisa ia pertanggungjawabkan secara politik di dalam negeri. Jika Iran ingin mencegah serangan (AS), mereka harus mengajukan tawaran yang tak bisa kami tolak. Iran terus melewatkan jendela peluang. Jika mereka bermain-main, kesabaran tidak akan lama,” ujar pejabat tersebut.

Pernyataan ini mempertegas pendekatan “tekanan maksimal” yang selama ini menjadi ciri khas kebijakan Trump terhadap Iran: membuka ruang diplomasi, tetapi dengan ancaman militer yang nyata.

Iran Siapkan Proposal Final

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa proposal Teheran akan difinalisasi dalam dua hingga tiga hari ke depan. Tenggat waktu ini disebut-sebut bertepatan dengan batas yang ditetapkan Trump sebelum mempertimbangkan pengerahan militer AS.

Dalam wawancara dengan program , Araghchi menegaskan bahwa dalam perundingan di Jenewa, pihak AS tidak secara eksplisit meminta Iran menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya. Ia juga membantah bahwa Iran menawarkan penghentian sementara program tersebut.

Baca Juga:  Prabowo Hubungi Telepon dengan MBS: Dapat Dukungan Penuh Arab Saudi usai Bencana

“Yang kami bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya,” ujarnya.

Teheran, lanjut Araghchi, bersedia mengambil “langkah-langkah pembangunan kepercayaan” sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi AS yang telah menekan ekonomi Iran selama bertahun-tahun.

Armada Militer dan Skenario Ekstrem

Di tengah negosiasi yang rapuh, Washington terus mengirim armada militer tambahan ke kawasan Timur Tengah. Meski demikian, bahkan sejumlah penasihat terdekat Trump mengakui belum mengetahui keputusan final presiden.

“Presiden belum memutuskan untuk menyerang. Ia mungkin tidak akan pernah melakukannya. Tapi ia juga bisa bangun besok dan berkata, ‘Sudah, kita lakukan,’” kata seorang penasihat senior.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Gedung Putih memiliki skenario untuk setiap kemungkinan, termasuk opsi yang mencakup eliminasi terhadap Khamenei dan putranya, . Mojtaba selama ini disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus kepemimpinan ulama Iran jika ayahnya lengser.

Baca Juga:  Serangan Udara Dekat Teheran, Alborz Dilaporkan Tewaskan 18 Warga

Sumber kedua mengonfirmasi bahwa rencana tersebut telah diajukan kepada Trump beberapa pekan lalu. Namun hingga kini, belum ada keputusan resmi.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menolak mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut. “Media boleh berspekulasi sebanyak yang mereka mau tentang pemikiran presiden, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan atau tidak akan ia lakukan,” ujarnya.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Situasi ini menempatkan hubungan AS-Iran di titik krusial: antara kompromi terbatas yang bisa meredakan ketegangan, atau eskalasi militer yang berisiko mengguncang stabilitas kawasan dan pasar energi global.

Dengan waktu yang semakin sempit dan manuver militer yang terus berlangsung, keputusan akhir kini berada di tangan Trump — apakah memilih jalur diplomasi dengan konsesi terbatas, atau membuka babak baru konfrontasi langsung dengan Teheran.

(EL)
Sumber: CNBC Indonesia