Sulut1news.com, China – Militer Tiongkok (People’s Liberation Army/PLA) membuka tahun 2026 dengan latihan tempur yang menampilkan kekuatan senjata paling canggihnya, dengan rudal hipersonik DF-17 sebagai daya tarik utama yang diperkirakan mampu mengubah peta kekuatan di kawasan Pasifik.
Latihan kesiapan tempur yang dimulai pada Minggu (5/1/2026) dilakukan setelah seluruh pasukan PLA langsung keluar dari “status liburan” menjelang awal tahun baru, sebagaimana ditampilkan dalam video resmi berjudul “Training Never Stops” yang dirilis Kementerian Pertahanan Tiongkok.
Selain DF-17 dari Pasukan Roket, latihan juga memamerkan jet tempur siluman J-20 dan kapal perusak Tipe 055. Laporan tahunan Pentagon bahkan menyatakan bahwa Tiongkok kini memiliki arsenal rudal hipersonik terkemuka di dunia.
DF-17: Teknologi yang Sulit Dicegat
Berbeda dengan rudal balistik konvensional yang memiliki lintasan parabola dapat diprediksi, DF-17 membawa Hypersonic Glide Vehicle (HGV) sebagai hulu ledak. Teknologi ini memungkinkan rudal untuk melakukan manuver ekstrem saat memasuki atmosfer kembali, membuatnya sangat sulit untuk dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan udara maupun radar lawan.
Dengan kecepatan melebihi Mach 5 (lima kali kecepatan suara), senjata ini dapat mencapai target dalam waktu singkat, memberikan ruang reaksi yang sangat minim bagi musuh. Menurut data dari Missile Defense Project pada Center for Strategic and International Studies (CSIS), DF-17 memiliki jangkauan maksimum sekitar 2.500 km (1.553 mil), dirancang secara strategis untuk menyerang pangkalan militer asing dan armada kapal induk di Pasifik Barat.
Rekaman terbaru menunjukkan DF-17 ditempatkan di atas kendaraan peluncur (Transporter Erector Launcher) dalam posisi tegak, yang menurut para pengamat militer menandakan tingkat kesiapan tempur yang lebih matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hubungan dengan Simulasi Blokade Taiwan dan Ketegangan Regional
Latihan ini digelar hanya beberapa hari setelah Tiongkok melakukan simulasi blokade skala besar di sekitar Taiwan pada akhir Desember 2025. Beijing terus mempercepat modernisasi militernya, dengan laporan Pentagon menyebutkan bahwa investasi besar juga dilakukan pada teknologi lain seperti kecerdasan buatan (AI) dan bioteknologi, dengan tujuan akhir menggusur posisi Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan dominan dunia.
CSIS menambahkan bahwa pengembangan DF-17 bertujuan untuk memberikan kemampuan serangan presisi jarak jauh yang mampu menembus perisai pertahanan udara tercanggih. Langkah ini dinilai sebagai pesan langsung kepada Washington, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan, karena meningkatkan risiko bagi aset militer AS yang beroperasi di wilayah dekat pantai Tiongkok.
Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri Tiongkok belum memberikan komentar tambahan terkait detail latihan tersebut.
Redaksi Sulut1News






