Sulut1news.com, Jakarta – Pemerintah mengerahkan hingga 10.000 personel militer menyusul operasi besar yang menewaskan gembong kartel narkoba Nemesio “El Mencho” Oseguera. Kematian pemimpin (CJNG) itu memicu gelombang kekerasan di sedikitnya 20 negara bagian, berupa blokade jalan, pembakaran kendaraan, hingga penyerangan fasilitas publik.
Situasi keamanan memburuk hanya beberapa jam setelah operasi militer digelar. Dalam bentrokan dan operasi lanjutan, sedikitnya 27 aparat keamanan, 46 anggota kelompok kriminal, serta satu warga sipil dilaporkan tewas. Pemerintah menyebut kondisi di sejumlah wilayah masih siaga tinggi untuk mencegah eskalasi lanjutan.
Kerusuhan Meluas, Penjara Diserang
Kerusuhan besar terjadi di negara bagian Jalisco, basis utama CJNG. Di sebuah penjara setempat, kelompok bersenjata menyerang fasilitas tersebut hingga menyebabkan sedikitnya 23 narapidana melarikan diri.
Pemerintah pusat segera mengirim tambahan 2.500 tentara ke Jalisco, sehingga total pasukan yang dikerahkan mencapai 10.000 personel. Langkah ini diambil untuk memulihkan keamanan di wilayah yang juga menjadi salah satu tuan rumah ajang tahun ini.
Di Guadalajara, ibu kota Jalisco, sekolah-sekolah diliburkan dan sebagian besar layanan transportasi umum dihentikan. Warga berbondong-bondong menimbun bahan makanan. Antrean panjang terlihat di sejumlah toko kecil, terutama penjual tortilla.
“Hampir semuanya tutup,” ujar seorang warga Guadalajara, Juan Soler, kepada AFP.
“Saya tidak bisa tidur. Sekarang saya sedikit lebih tenang, tetapi masih merasa takut,” kata warga lainnya, Maria de Jesus Gonzalez.
Blokade juga dilaporkan terjadi di Aguililla, negara bagian Michoacan—kampung halaman El Mencho. Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap hitam membumbung di atas desa pegunungan tersebut.
Detik-detik Operasi dan Tewasnya El Mencho
El Mencho (59) dilaporkan terluka dalam baku tembak dengan tentara di Tapalpa, Jalisco, pada Minggu. Ia kemudian diterbangkan ke Mexico City, namun meninggal dunia dalam perjalanan akibat luka tembak.
Ia dikenal sebagai salah satu gembong narkoba paling brutal di Meksiko sekaligus pendiri CJNG pada 2009. Di bawah kepemimpinannya, kartel itu berkembang menjadi salah satu organisasi kriminal paling kuat dan ekspansif di Amerika Latin.
Dalam operasi tersebut, dua anggota kartel ditangkap dan sejumlah senjata berat disita. Tangan kanan Oseguera, Hugo H. alias “El Tuli”, turut tewas dalam baku tembak.
Sejumlah analis keamanan memperingatkan bahwa kematian El Mencho berpotensi memicu perebutan kekuasaan internal di tubuh CJNG, yang dapat memperpanjang siklus kekerasan di wilayah barat Meksiko.
Peran Amerika Serikat dan Tekanan Politik
Pemerintah Meksiko mengakui operasi penangkapan El Mencho mendapat dukungan intelijen dari . Gedung Putih mengonfirmasi pemberian informasi tambahan, namun Presiden menegaskan tidak ada pasukan AS yang terlibat langsung di lapangan.
Menurut pejabat pertahanan AS, pelacakan terhadap Oseguera dilakukan melalui salah satu kekasihnya yang membantu mengungkap lokasi persembunyiannya.
CJNG sendiri telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah AS dan dituduh menjadi salah satu pemasok utama narkotika ke wilayahnya. Operasi ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan politik dari Presiden AS yang mendesak Meksiko menghentikan arus penyelundupan narkoba atau menghadapi ancaman tarif perdagangan tinggi.
Ujian Stabilitas Keamanan
Gelombang kekerasan pasca-tewasnya El Mencho menjadi ujian serius bagi pemerintahan Meksiko dalam menjaga stabilitas keamanan nasional. Meski pemerintah menyatakan situasi mulai terkendali, aparat tetap disiagakan penuh di berbagai titik rawan.
Kematian satu figur sentral dalam jaringan kartel raksasa itu belum tentu menjadi akhir dari kekuatan CJNG. Justru, seperti yang dikhawatirkan banyak pihak, fase transisi kepemimpinan berpotensi membuka babak baru konflik bersenjata di negeri tersebut.
(EL)
Sumber CNN Indonesia






