Sulut1news.com, Jakarta — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, termasuk di Indonesia. Di tengah situasi tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dalam kondisi aman, meskipun cadangannya dinilai relatif terbatas.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa stok BBM nasional saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga sekitar 20–23 hari ke depan. Ia menegaskan bahwa angka tersebut masih berada di atas standar minimal cadangan energi nasional.
“Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana lazimnya,” ujar Bahlil, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Sekretariat Negara.
Meski demikian, pernyataan tersebut justru memunculkan pertanyaan dari publik. Pasalnya, jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang, cadangan energi Indonesia dinilai jauh lebih kecil. Jepang diketahui memiliki cadangan minyak strategis yang mampu bertahan hingga sekitar 254 hari.
Keterbatasan Tangki Penyimpanan
Bahlil menjelaskan, perbedaan tersebut disebabkan oleh keterbatasan kapasitas penyimpanan atau storage BBM di Indonesia. Menurutnya, daya tampung maksimal cadangan BBM nasional saat ini hanya mampu menampung persediaan sekitar 25 hari.
“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan infrastruktur penyimpanan menjadi salah satu faktor utama yang membuat Indonesia belum mampu menyimpan cadangan minyak dalam jumlah besar seperti negara-negara maju.
“Kalau kita mau stok sampai 60 hari misalnya, mau ditaruh di mana? Kita tidak punya storage yang cukup,” kata Bahlil.
Karena itu, pemerintah mengakui bahwa peningkatan kapasitas penyimpanan energi menjadi pekerjaan rumah penting yang harus segera dibenahi ke depan.
Dampak Konflik Global Tetap Diwaspadai
Meskipun kondisi pasokan energi nasional saat ini masih stabil, pemerintah tetap mewaspadai potensi dampak jika konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Bahlil menyebutkan bahwa gangguan terhadap jalur distribusi minyak dunia dapat memengaruhi pasokan energi bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
“Ke depan kalau perangnya berlangsung lama pasti akan berdampak. Sampai dengan satu sampai dua bulan ke depan insyaallah kita masih clear, tidak ada masalah,” ujarnya.
Pemerintah Siapkan Langkah Mitigasi
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai menyiapkan berbagai strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Upaya tersebut mencakup penguatan rantai pasok energi, peningkatan kapasitas cadangan nasional, serta koordinasi dengan berbagai pihak dalam menghadapi dinamika pasar energi global.
Situasi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional, terutama melalui pembangunan infrastruktur penyimpanan minyak yang lebih besar serta diversifikasi sumber energi.
Dengan langkah mitigasi yang tengah disiapkan, pemerintah berharap kebutuhan energi masyarakat dan industri di dalam negeri tetap dapat terpenuhi meskipun dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik.
(EL)






