Internasional

Houthi Klaim Serang Jizan, Arab Saudi: Eskalasi Balas-Balasan yang Mengancam Stabilitas Laut Merah

108
×

Houthi Klaim Serang Jizan, Arab Saudi: Eskalasi Balas-Balasan yang Mengancam Stabilitas Laut Merah

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta — Ketegangan di kawasan Teluk dan Laut Merah kembali memanas. Milisi Houthi Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal yang menimbulkan kebakaran di wilayah Jizan, Arab Saudi, pada Sabtu (25/7/2026) waktu setempat. Langkah ini diklaim sebagai balasan langsung atas serangan udara koalisi pimpinan Saudi terhadap posisi militer Houthi di Hodeidah, Yaman, sehari sebelumnya.

Melansir laporan AFP, media resmi Houthi, Ansarollah, menyatakan serangan rudal Yaman menimbulkan kebakaran di Jizan. Sebelumnya, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan darurat bagi penduduk Jizan dan Yanbu terkait potensi bahaya, meski kemudian dicabut singkat setelahnya.

Eskalasi ini bermula Jumat (24/7), ketika serangan udara Saudi menggempur sejumlah pangkalan militer Houthi di kawasan Hodeidah dan Pulau Kamaran, menewaskan sedikitnya dua orang. Houthi menilai penyerangan terhadap fasilitas di kawasan padat penduduk itu sebagai “eskalasi berbahaya” yang memicu kewajiban untuk membalas.

Baca Juga:  Tarif Dagang 19% Jadi Ancaman PHK Massif – Apindo Minta Prabowo Borong Pasar Baru Saat Temui Trump

Yang menjadikan ketegangan ini bukan sekadar konflik bilateral adalah letak geografis kawasan yang strategis:

– Laut Merah adalah jalur vital ekspor minyak dan barang dagangan dunia
– Gangguan di Selat Bab al-Mandab dapat memengaruhi biaya logistik dan rantai pasok global
– Arab Saudi sendiri kini semakin bergantung pada rute Laut Merah untuk ekspor energi, di tengah ketidakpastian di Selat Hormuz

Sudut pandang: Setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi menutup atau menyempitkan jalur pelayaran internasional — yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga energi, biaya pengiriman, dan ketersediaan barang di pasar dunia, termasuk Indonesia.

Serangan ini mengikuti pola yang kian mengkhawatirkan: serangan udara memicu balasan rudal, yang kemudian memicu serangan lebih besar. Tanpa upaya penengahan, risiko meluasnya konflik menjadi kenyataan yang dapat mengganggu stabilitas energi dan perdagangan dunia.
Redaksi Sulut1News