Internasional

Paus Leo XIV Beri Peringatan Keras soal AI: Mesin Tak Boleh Mengambil Alih Kendali Manusia

30
×

Paus Leo XIV Beri Peringatan Keras soal AI: Mesin Tak Boleh Mengambil Alih Kendali Manusia

Sebarkan artikel ini

Sulut1News.com – Vatikan – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menghadirkan tantangan besar bagi masa depan umat manusia. Di tengah perlombaan negara dan perusahaan teknologi mengembangkan sistem AI semakin canggih, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan.

Pesan tegas itu disampaikan Paus Leo XIV dalam sebuah pertemuan internasional di Aula Paus, Vatikan, Jumat (30/10/2026), yang mempertemukan para ilmuwan, peneliti, dan pemikir teknologi dari berbagai negara.

Dalam forum bertema “Masa Depan Kecerdasan Buatan: Dialog antara Vatikan dan Dunia Ilmiah” tersebut, Paus menyampaikan lima prinsip penting yang menurutnya harus menjadi pedoman manusia dalam mengembangkan dan menggunakan teknologi AI.

Pernyataan Paus ini menjadi sorotan karena tidak hanya membahas kemampuan teknologi, tetapi juga mempertanyakan siapa yang harus memegang kendali ketika mesin semakin mampu mengambil keputusan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (2/11/2026), Paus menegaskan bahwa masa depan AI bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan. Arah perkembangannya sepenuhnya bergantung pada pilihan dan tanggung jawab manusia.

Paus Leo XIV menegaskan bahwa perkembangan AI bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Teknologi tersebut diciptakan manusia sehingga arah penggunaannya juga harus ditentukan berdasarkan kepentingan manusia.

Baca Juga:  Putin: Hubungan Rusia-China Jadi "Penstabil Dunia" di Tengah Gejolak Global, Sebut Xi "Sahabatku"

Menurutnya, pertanyaan mendasar dalam pengembangan AI bukan hanya tentang kemampuan teknologi, melainkan tujuan yang ingin dicapai.

Ia mengingatkan bahwa jika AI hanya dipandang sebagai perlombaan untuk memenangkan persaingan teknologi, ada risiko masyarakat yang tertinggal justru semakin terabaikan.

Prinsip kedua menekankan perbedaan mendasar antara manusia dan mesin.

“Mesin adalah alat, bukan insan,” tegas Paus.

Ia mengingatkan bahwa AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan sukacita maupun penderitaan, serta tidak memahami kasih, persahabatan, pekerjaan, dan tanggung jawab sebagaimana manusia.

Karena itu, teknologi tidak boleh ditempatkan seolah-olah memiliki kedudukan dan tanggung jawab moral yang sama dengan manusia.

Paus juga mengingatkan bahwa tanggung jawab atas dampak penggunaan AI harus tetap berada pada manusia, bukan dialihkan kepada sistem yang tidak memiliki kesadaran dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara moral.

Inilah salah satu peringatan paling serius yang disampaikan Paus Leo XIV.

Ia menegaskan bahwa keputusan yang menyangkut nyawa manusia, kebebasan, serta penggunaan kekuatan senjata tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

Paus bahkan mendesak negara-negara yang akan bertemu di Jenewa pada November 2026 untuk mengambil langkah konkret melarang penggunaan senjata mematikan yang dapat beroperasi secara mandiri tanpa kendali manusia.

Baca Juga:  AS, Rusia, dan Ukraina Dijadwalkan Bertemu di Uni Emirat Arab

Menurutnya, teknologi harus dibatasi agar tidak memiliki kewenangan menentukan hidup dan mati seseorang tanpa keputusan manusia yang sadar dan bertanggung jawab.

Peringatan ini menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi militer yang semakin mengandalkan sistem otomatis dan kecerdasan buatan.

4. Manfaat AI Harus Dirasakan Semua Kalangan

Paus juga mengingatkan bahwa kecerdasan buatan tidak boleh hanya menjadi instrumen untuk memperbesar kekayaan dan kekuasaan kelompok tertentu.

Manfaat teknologi harus dapat dinikmati secara merata, terutama oleh masyarakat yang paling membutuhkan.

Kemajuan AI seharusnya membantu mempersempit kesenjangan sosial, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi sejati bukan diukur dari seberapa canggih mesin yang diciptakan, melainkan dari kemampuannya mempererat persaudaraan dan kebersamaan umat manusia.

Prinsip terakhir menyangkut pentingnya tata kelola teknologi pada tingkat internasional.

Paus menilai, prinsip moral saja tidak cukup untuk memastikan AI digunakan secara bertanggung jawab. Dibutuhkan lembaga yang mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi aturan dan pengawasan nyata.

Hal itu mencakup standar internasional yang disepakati bersama, pengawasan independen, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas dan adil.

Baca Juga:  Inggris Buka Semua Pangkalan untuk AS, Konflik dengan Iran Meluas hingga Samudra Hindia

Dengan demikian, perkembangan AI tidak hanya dikendalikan oleh kepentingan perusahaan teknologi atau negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer besar.

Pidato Paus Leo XIV mendapat perhatian dari kalangan pemikir teknologi. Ilmuwan kognitif dari Universitas New York, Gary Marcus, bahkan menyebut Paus sebagai salah satu pemimpin dunia yang memiliki pandangan paling jernih mengenai persoalan AI saat ini.

Sementara itu, pakar kecerdasan buatan Oren Etzioni menyatakan sependapat dengan empat prinsip pertama, meskipun ia mempertanyakan apakah lembaga internasional dapat bergerak cukup cepat untuk mengimbangi perubahan teknologi yang berlangsung dalam hitungan bulan.

Pesan yang disampaikan dari Vatikan tersebut memperlihatkan bahwa perdebatan mengenai AI kini tidak lagi sebatas persoalan inovasi, efisiensi, dan kecanggihan mesin.

Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana memastikan teknologi tetap berada dalam kendali manusia, menghormati martabat kehidupan, serta memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia.

Sebab, ketika teknologi semakin pintar, tantangan terbesar bukan sekadar menciptakan mesin yang mampu melakukan lebih banyak hal, melainkan memastikan manusia tidak kehilangan kendali atas masa depannya.

Redaksi Sulut1News