Ekonomi & BisnisJakartaManadoTerkini

Dari Kroni Kekuasaan ke Target Amuk Massa: Runtuhnya Imperium Salim Group di Pusaran Krisis 1998

167
×

Dari Kroni Kekuasaan ke Target Amuk Massa: Runtuhnya Imperium Salim Group di Pusaran Krisis 1998

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Kejayaan Salim Group yang pernah merajai berbagai sektor strategis di Indonesia tak datang tanpa risiko. Di balik ekspansi bisnis yang masif selama era Orde Baru, tersimpan hubungan erat dengan kekuasaan yang pada akhirnya menjadi bumerang. Puncaknya terjadi saat krisis 1998, ketika imperium bisnis milik Sudono Salim—atau dikenal sebagai Liem Sioe Liong—luluh lantak dalam hitungan hari.

Jejak kebangkitan Salim Group tak bisa dilepaskan dari kedekatan pendirinya dengan Presiden kedua RI, Soeharto. Relasi keduanya terjalin sejak masa perang kemerdekaan, ketika Sudono Salim menjadi pemasok logistik bagi pasukan yang dipimpin Soeharto.

Hubungan tersebut berkembang menjadi simbiosis kuat saat Soeharto berkuasa pada pertengahan 1960-an. Dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016), penulis Richard Borsuk dan Nancy Chng menggambarkan bagaimana Salim menjadi bagian dari lingkaran elite bisnis yang menopang kekuasaan Orde Baru.

Selama lebih dari tiga dekade, Salim Group tumbuh menjadi konglomerasi raksasa dengan jaringan bisnis di sektor perbankan, industri semen, hingga pangan. Beberapa pilar utamanya antara lain Bank Central Asia (BCA), Indocement, Bogasari, dan Indofood.

Baca Juga:  Prabowo Bantah Boros; MBG Dibiayai dari Dana Hasil Efisiensi

Namun fondasi kuat itu mulai retak saat krisis ekonomi Asia melanda Indonesia pada 1997–1998.
Badai Krisis dan Ambruknya Kepercayaan
Krisis moneter yang mengguncang Indonesia berujung pada krisis kepercayaan publik terhadap sektor perbankan. BCA, sebagai bank swasta terbesar saat itu, menjadi salah satu yang paling terdampak.

Penarikan dana besar-besaran (rush) terjadi di berbagai cabang. Nasabah berbondong-bondong menguras tabungan mereka, memicu tekanan likuiditas yang serius. Situasi ini membuat BCA berada di ambang kehancuran.

Ketegangan ekonomi kemudian berubah menjadi krisis sosial-politik yang memuncak dalam kerusuhan besar pada Kerusuhan Mei 1998.

Kedekatan Salim dengan rezim Soeharto menjadikannya simbol ketimpangan ekonomi di mata publik. Sentimen anti-penguasa berubah menjadi kemarahan terhadap kelompok yang dianggap diuntungkan, termasuk etnis Tionghoa.

Rumah dan aset milik keluarga Salim menjadi sasaran amuk massa. Kediaman mewah di kawasan Roxy, Jakarta, dibakar dan dijarah. Mobil-mobil hangus, interior rumah dihancurkan, hingga simbol-simbol kekayaan dilenyapkan dalam sekejap.
Saat itu, Anthoni Salim—putra Sudono Salim—berada di Jakarta dan menyaksikan langsung situasi mencekam. Demi menghindari korban jiwa, ia bahkan memerintahkan pengamanan untuk tidak melawan massa yang masuk ke rumah keluarganya.

Baca Juga:  KPU Gandeng Pewarta Pemilu: Berita Baik Demokrasi Juga Harus Jadi Berita

Tak lama setelah itu, Anthoni memilih meninggalkan Indonesia menuju Singapura untuk mengamankan diri sekaligus memantau kondisi bisnis keluarga dari luar negeri.

Kerugian Besar dan Nasionalisasi BCA
Dampak kerusuhan terhadap Salim Group sangat besar. Tercatat ratusan fasilitas rusak, termasuk lebih dari 100 cabang BCA yang terdampak—sebagian di antaranya terbakar dan dijarah. Ratusan ATM dirusak, dengan kerugian miliaran rupiah.

Tak hanya itu, fasilitas produksi Indofood juga ikut menjadi sasaran, termasuk pabrik di Solo dan pusat distribusi di Tangerang.
Puncaknya, setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) mengambil alih BCA dengan status Bank Taken Over (BTO). Langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan sistem perbankan nasional dari kehancuran lebih dalam.
Sejak saat itu, BCA resmi lepas dari kendali keluarga Salim.

Baca Juga:  Delegasi Rusia-Ukraina Bertemu di Jenewa Hari Ini, Bahas Isu Wilayah yang Lebih Luas

Meski kehilangan salah satu aset terbesarnya, Salim Group tidak sepenuhnya runtuh. Mereka bertahan dengan mengandalkan Indofood sebagai tulang punggung bisnis.

Dalam dua dekade terakhir, di bawah kepemimpinan Anthoni Salim, grup ini berhasil bangkit dan melakukan diversifikasi ke berbagai sektor, termasuk energi, infrastruktur, hingga teknologi data center.

Kini, berdasarkan daftar Forbes, keluarga Salim kembali masuk jajaran orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan mencapai lebih dari US$ 12 miliar.

Kisah Salim Group menjadi cermin bagaimana kedekatan antara bisnis dan kekuasaan dapat menjadi pedang bermata dua. Dari puncak kejayaan hingga titik nadir di tengah krisis, perjalanan konglomerasi ini menegaskan bahwa stabilitas bisnis tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga dinamika politik dan kepercayaan publik.

Sulut1news.com