Sulut1news.com, Jakarta – Pemerintah memastikan tetap melanjutkan rencana penguatan pertahanan udara di pulau terpencil yang berbatasan dekat dengan , meski mendapat peringatan keras dari .
Kementerian Pertahanan Jepang menargetkan sistem rudal tersebut mulai ditempatkan pada tahun fiskal 2030 dan operasional penuh pada 2031. Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Perdana Menteri tetap melaju dengan agenda penguatan pertahanan nasional di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Penempatan di Yonaguni, Dekat Taiwan
Menteri Pertahanan menyatakan pemerintah berencana mengerahkan sistem rudal permukaan-ke-udara Type 03 Chu-SAM ke , yang berada di Prefektur Okinawa. Pulau tersebut hanya berjarak sekitar 70 mil atau 112 kilometer dari pantai timur Taiwan, menjadikannya titik strategis dalam dinamika keamanan Selat Taiwan.
“Saat ini, kami sedang melanjutkan tugas-tugas yang diperlukan, seperti studi dasar mengenai peningkatan fasilitas untuk pengerahan pasukan ke sisi timur garnisun,” ujar Koizumi, dikutip dari , Jumat (27/2/2026).
Sistem Type 03 Chu-SAM dikenal sebagai salah satu andalan pertahanan udara Jepang. Rudal ini dipasang pada kendaraan taktis 8×8 dan dilengkapi radar phased-array yang mampu melacak hingga 100 target, termasuk pesawat tempur, rudal balistik, dan drone. Dalam satu waktu, sistem ini dapat menyerang sekitar selusin target secara simultan dengan jangkauan efektif sekitar 30 mil atau 48 kilometer.
China Sebut “Sangat Berbahaya”
Pemerintah China mengecam rencana tersebut dan menyebutnya sebagai langkah “sangat berbahaya”. Meski demikian, sejumlah analis menilai jangkauan rudal yang relatif terbatas tidak mencapai wilayah udara daratan China.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, , menuding Jepang semakin menjauh dari tatanan pascaperang.
“Langkah terbaru ini sekali lagi mengungkap ambisi kekuatan sayap kanan Jepang untuk melakukan remiliterisasi,” tegasnya.
Ketegangan antara Tokyo dan Beijing memang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pada November lalu, Takaichi menyatakan bahwa blokade hipotetis China terhadap Taiwan dapat dikategorikan sebagai keadaan darurat yang memerlukan respons atau intervensi. Beijing menilai pernyataan itu sebagai bukti remiliterisasi Jepang dan merespons dengan sejumlah langkah hukuman diplomatik.
Risiko Yonaguni Jadi Target Konflik
Di sisi lain, langkah Tokyo ini memicu kekhawatiran bahwa Yonaguni dapat menjadi target jika terjadi konflik terbuka yang melibatkan pasukan Amerika Serikat dan Jepang melawan China. Wilayah Okinawa sendiri menampung sekitar 70% instalasi militer Amerika Serikat di Jepang, menjadikannya titik vital dalam strategi pertahanan aliansi kedua negara.
Dalam pidato perdananya di parlemen, Takaichi menegaskan Jepang tengah menghadapi “lingkungan keamanan paling parah dan kompleks sejak Perang Dunia II.” Ia menyinggung meningkatnya aktivitas militer China di sekitar Taiwan, invasi Rusia ke Ukraina, serta perkembangan program nuklir Korea Utara sebagai faktor yang mendorong penguatan pertahanan nasional.
Keputusan ini menunjukkan bahwa Jepang kian tegas memperkuat postur militernya di tengah dinamika geopolitik Asia Timur yang memanas—sebuah langkah yang berpotensi memperdalam rivalitas strategis antara Tokyo dan Beijing.
(EL)
(Sumber: CNBC Indonesia)






