Jakarta

Di Tengah Gejolak Dunia, Prabowo Tekankan Kemandirian Pangan dan Energi Jadi Tameng Indonesia Hadapi Krisis

96
×

Di Tengah Gejolak Dunia, Prabowo Tekankan Kemandirian Pangan dan Energi Jadi Tameng Indonesia Hadapi Krisis

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Presiden mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian akibat meningkatnya konflik antar kekuatan besar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyeret banyak negara ke dalam krisis ekonomi, energi, hingga pangan.

Peringatan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan 218 jembatan bailey, armco, dan jembatan perintis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia secara virtual, Senin (9/3/2026).

“Saudara-saudara sekalian, kita berada dalam keadaan dunia yang penuh bahaya. Pihak-pihak kekuatan besar sedang bertikai dan bisa menyeret bangsa-bangsa lain ke dalam keadaan yang susah,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Indonesia Dinilai Memiliki Modal Kuat Hadapi Krisis

Meski mengakui situasi global tengah bergejolak, Prabowo menegaskan Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi berbagai kemungkinan dampak krisis.

Ia mengaku telah mempelajari berbagai data terkait potensi kekayaan sumber daya alam nasional yang dinilai sangat besar dan terus berkembang.

Baca Juga:  Dari Daendels ke Jokowi: Jejak Panjang Korupsi di Proyek Jalan Nasional

“Saya sudah melihat dan mempelajari angka-angka, data-data kekayaan kita. Setiap hari kita menemukan kekayaan-kekayaan baru,” katanya.

Namun demikian, Prabowo juga tidak menutup kemungkinan Indonesia tetap akan menghadapi tekanan ekonomi maupun geopolitik di masa depan.

“Kita akan mengalami kesulitan, saya tidak akan menutup-nutupi itu. Tapi kita punya kekuatan. Perkiraan saya, kita akan keluar dari krisis ini dalam keadaan lebih kuat, lebih makmur, lebih produktif, dan lebih mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujarnya.

Swasembada Pangan Jadi Benteng Utama

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya kemandirian pangan sebagai benteng utama menghadapi krisis global, terutama jika konflik dunia memicu lonjakan harga energi dan gangguan distribusi pangan.

Menurutnya, pemerintah telah memperjuangkan swasembada pangan sejak bertahun-tahun lalu, mengingat kebutuhan pokok seperti beras sangat rentan terdampak gejolak global.

Baca Juga:  Misteri Jenderal Quds: Selamat dari Serangan AS-Israel, Esmail Qaani Justru Dicurigai Agen Mossad

“Apapun yang terjadi, ketika bangsa lain banyak yang mengalami kesulitan, minimal kita aman masalah pangan,” kata Prabowo.

Ia juga menyebut Indonesia tengah menuju tahap berikutnya, yakni memperkuat ketersediaan sumber protein nasional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara mandiri.

Target Swasembada Energi dari Tanaman

Selain pangan, Prabowo juga menyoroti pentingnya kemandirian energi nasional. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sendiri tanpa bergantung pada impor.

Menurutnya, bahan bakar alternatif dapat diproduksi dari berbagai komoditas pertanian yang melimpah di Indonesia.

“Masalah BBM juga bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Kita memiliki karunia besar bahwa nanti kita mampu memenuhi kebutuhan BBM kita bukan dari impor, bahkan dari tanaman-tanaman kita,” ujarnya.

Baca Juga:  Transisi Kompor Listrik Dinilai Lebih Hemat, Eddy Soeparno: Beban Impor LPG Bisa Dipangkas

Beberapa komoditas yang disebut memiliki potensi besar untuk energi nabati antara lain kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu.

Seruan Persatuan Hadapi Tantangan Global

Menutup pernyataannya, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan dan bekerja keras menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Ia menilai ketahanan nasional tidak hanya bergantung pada sumber daya, tetapi juga pada solidaritas dan kerja sama seluruh rakyat Indonesia.

“Kita harus kerja keras, kita harus rukun, kita harus bersatu menghadapi krisis,” tegasnya.

Peresmian ratusan jembatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat konektivitas antarwilayah, khususnya di daerah terpencil, guna mendukung distribusi logistik, memperlancar mobilitas masyarakat, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.

Redaksi Sulut1News