Sulut1news.com, Manado — Dari jantung kawasan timur Indonesia, sebuah pesan kebangsaan bergema kuat: persatuan bukan sekadar wacana, melainkan energi hidup yang terus dirawat. Itulah narasi besar yang lahir dari Puncak Perayaan Paskah Nasional 2026 di Kota Manado, Rabu (8/4/2026), yang menyedot perhatian puluhan ribu umat Kristiani dari berbagai penjuru negeri.
Di tengah dinamika global yang kian kompleks—mulai dari konflik geopolitik hingga polarisasi sosial—Manado justru tampil sebagai panggung harmoni. Sekitar 60 ribu jemaat yang memadati lokasi perayaan tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga menjadi saksi hidup bagaimana keberagaman dapat dirajut dalam satu semangat kebersamaan.
Paskah sebagai Energi Kebangsaan
Mengusung tema “Supaya Kita Menjadi Satu” (Yohanes 17:21), perayaan ini melampaui makna ritual keagamaan. Ia menjelma menjadi refleksi kolektif tentang pentingnya merawat persatuan di tengah perbedaan yang kian nyata dalam kehidupan berbangsa.
Dalam khotbahnya Pendeta Dr. Adolf Katuuk Wenas, M.Th menekankan bahwa Paskah sejatinya adalah momentum kebangkitan—tidak hanya secara spiritual, tetapi juga dalam kesadaran sosial.
“Persatuan tidak dibangun dari kesamaan, melainkan dari kemauan untuk saling menerima dan menghargai. Inilah esensi Paskah dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya di hadapan jemaat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menolak intoleransi dan memperkuat moderasi beragama sebagai fondasi Indonesia yang damai.
Manado, Etalase Harmoni Indonesia
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus menyebut kepercayaan menjadikan Manado sebagai tuan rumah Paskah Nasional sebagai sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab strategis.
Menurutnya, antusiasme masyarakat bukan sekadar angka partisipasi, melainkan cerminan kuatnya budaya toleransi yang telah lama tumbuh di Sulawesi Utara.
“Ini adalah bukti nyata bahwa harmoni sosial bukan hanya konsep, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kami,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa momentum ini semakin mengukuhkan posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi terbaik di Indonesia.
Dari Lokal ke Global: Pesan Perdamaian
Utusan Khusus Presiden RI Hashim Djojohadikusumo, membawa perspektif yang lebih luas dengan mengaitkan perayaan ini dengan situasi dunia yang tengah dilanda ketidakpastian.
Menurutnya, ketika banyak negara terjebak dalam konflik dan perpecahan, Indonesia justru menunjukkan wajah berbeda—yakni persatuan dalam keberagaman.
“Di saat dunia terfragmentasi, Indonesia hadir dengan kekuatan persatuan. Ini adalah modal besar bangsa,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional melalui program-program pro-rakyat, termasuk inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi Besar, Simbol Persatuan
Ketua Panitia, Recky Langie mengungkapkan bahwa perayaan tahun ini menjadi salah satu yang terbesar, dengan melibatkan sekitar 165 denominasi gereja.
Keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan utama yang memperlihatkan wajah gereja Indonesia yang inklusif.
“Sulawesi Utara hari ini bukan hanya tuan rumah, tetapi menjadi laboratorium hidup kerukunan,” katanya.
Kesuksesan acara ini juga ditopang oleh kolaborasi lintas daerah, mulai dari Pemerintah Kota Manado hingga wilayah penyangga seperti Tomohon, Minahasa, dan Minahasa Utara—menunjukkan bahwa persatuan tidak hanya digaungkan, tetapi dipraktikkan secara nyata.
Tiga Arah Menjaga Keutuhan Bangsa
Mewakili Menteri Agama RI Staf Khusus Gugun Gumilar menyampaikan pesan Presiden yang menitikberatkan pada tiga hal utama:
- Memperkuat hubungan spiritual manusia dengan Tuhan sebagai fondasi moral
- Mengedepankan dialog antarumat beragama untuk menjaga toleransi
- Menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam sebagai tanggung jawab bersama
Dari Timur, Untuk Indonesia
Paskah Nasional 2026 di Manado bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia telah menjelma menjadi simbol kuat tentang bagaimana Indonesia seharusnya berdiri: kokoh dalam keberagaman, hangat dalam kebersamaan.
Dari timur Nusantara, pesan itu menggema tegas—bahwa persatuan bukan slogan kosong, melainkan praktik hidup yang terus dijaga oleh masyarakat yang memilih untuk tetap bersama, di tengah segala perbedaan.
EL






