Ekonomi & BisnisJakarta

IHSG Bangkit Usai Terpukul Gejolak Timur Tengah, Investor Mulai Berburu Saham Big Caps

164
×

IHSG Bangkit Usai Terpukul Gejolak Timur Tengah, Investor Mulai Berburu Saham Big Caps

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Setelah terpukul tajam sehari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Penguatan ini menandai mulai pulihnya kepercayaan investor, meskipun pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

Pada penutupan perdagangan sesi kedua, IHSG tercatat menguat 1,41% atau naik 103 poin ke level 7.440,91. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat melesat hingga 2,2% dan hampir menyentuh level psikologis 7.500, sebelum akhirnya mengalami aksi ambil untung di akhir sesi.

Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai. Sebanyak 534 saham menguat, 190 saham melemah, dan 93 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp19,16 triliun dengan volume perdagangan 336,26 miliar saham dalam 2,03 juta kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp13.338 triliun.

Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pendorong utama penguatan indeks. Beberapa emiten yang berkontribusi signifikan antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Baca Juga:  Diam-Diam Manis: Ancaman Konsumsi Minuman Berpemanis yang Mengintai Kesehatan Masyarakat Indonesia

Pulih Setelah Koreksi Tajam

Penguatan ini terjadi setelah IHSG mengalami tekanan besar pada perdagangan Senin (9/3/2026). Saat itu indeks sempat terjun hingga -5,2% ke level 7.156, sebelum akhirnya menutup perdagangan dengan pelemahan 3,27% atau turun 248 poin ke level 7.337,37.

Koreksi tajam tersebut dipicu oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasar energi dunia.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pasar saham Indonesia masih sangat sensitif terhadap dinamika global, khususnya gangguan pasokan minyak dari jalur strategis dunia.

“Pelemahan pasar modal domestik dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama gangguan produksi dan distribusi minyak dari kawasan Selat Hormuz,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, yang menyebut koreksi IHSG sejalan dengan pelemahan bursa global dan regional Asia.

“Eskalasi konflik di Timur Tengah serta dampak dari penutupan Selat Hormuz masih menjadi sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan pasar,” kata Herditya.

Baca Juga:  6 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 101 Triliun Akan Dibangun Februari 2026, Investasi Luar Negeri Masuk Besar

Harga Minyak Melonjak, Pasar Global Waspada

Ketegangan geopolitik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak sempat melonjak tajam sebelum akhirnya turun dari level tertinggi intraday.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$94,77 per barel, naik sekitar 4,3%, sementara minyak Brent berakhir di US$98,96 per barel atau melonjak 6,8%.

Namun, harga tersebut sebenarnya jauh lebih rendah dibandingkan posisi tertinggi dalam perdagangan harian, ketika WTI sempat menyentuh US$119 per barel dan Brent mencapai US$119,50 per barel. Lonjakan ini bahkan menjadi yang pertama kalinya harga minyak menembus US$100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Situasi ini dipicu oleh ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi rute sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan langkah untuk mengambil alih kendali keamanan jalur tersebut.

Baca Juga:  Momentum Ramadan: Wartawan PWI Pusat Bersatu dalam Kegiatan Buka Puasa

Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan CBS News, Trump mengatakan kapal-kapal mulai kembali melintas di jalur tersebut, namun situasi masih belum sepenuhnya stabil.

Ia juga mengindikasikan bahwa konflik kemungkinan akan segera berakhir serta membuka opsi pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia guna membantu menurunkan harga energi global.

Menurut analis energi dari perusahaan konsultan Kpler, Matt Smith, saat ini hanya segelintir kapal komersial yang masih berani melintasi Selat Hormuz akibat risiko keamanan yang tinggi.

Investor Masih Waspada

Meski IHSG berhasil rebound, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena dinamika geopolitik berpotensi kembali memicu volatilitas.

Jika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat atau pasokan energi global terganggu lebih besar, dampaknya bisa kembali menekan pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.

Namun untuk sementara, rebound IHSG menunjukkan bahwa investor mulai memanfaatkan koreksi tajam sebelumnya sebagai momentum akumulasi saham-saham unggulan, terutama di sektor perbankan dan energi.

Redaksi Sulut1News 

Sumber CNBC Indonesia