InternasionalJakarta

IRGC Gelar Latihan Militer di Selat Hormuz Saat AS-Iran Siap Putaran Pembicaraan Baru di Jenewa

119
×

IRGC Gelar Latihan Militer di Selat Hormuz Saat AS-Iran Siap Putaran Pembicaraan Baru di Jenewa

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi sorotan dunia, dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggelar serangkaian latihan militer di Selat Hormuz yang disebutkan pemerintah melalui media resmi Senin (16/2/2026). Latihan ini berlangsung tepat jelang kedua negara memasuki putaran pembicaraan baru di Jenewa, Swiss, pada hari Selasa (17/2/2026) yang dimediasi oleh Oman.

Latihan Bertujuan Siapkan Tanggapan Cepat Hadapi Ancaman

Durasi latihan belum diumumkan secara rinci, namun dalam siaran televisi nasional, pemerintah Iran menyatakan bahwa kegiatan yang diawasi Kepala Garda Jenderal Mohammad Pakpour bertujuan untuk mempersiapkan IRGC menghadapi “potensi ancaman keamanan dan militer” di kawasan yang menjadi jalur strategis dunia.

“Latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IRGC untuk bereaksi dengan cepat,” demikian dikutip dari laporan media Iran yang diterbitkan oleh AFP.

Baca Juga:  PLN Hadirkan "Power Up EVent" di IIMS 2026 – Diskon 50% Tambah Daya Listrik dan Dorong Adopsi Kendaraan Listrik

Kondisi ini semakin menguatkan ketegangan mengingat AS telah mengerahkan kekuatan angkatan laut besar-besaran ke wilayah Timur Tengah. Dua kapal induk kelas besar, USS Abraham Lincoln dan Gerald R. Ford, telah ditempatkan di kawasan, sementara tambahan alutsista dan jet tempur terdeteksi melalui citra satelit di beberapa pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab seperti Qatar.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran kritis yang dilalui sekitar 20% produksi minyak dunia. Para politisi garis keras Iran telah berkali-kali mengancam akan memblokir jalur tersebut jika negara mereka menjadi sasaran serangan.

Pembicaraan di Jenewa Dorong Kesepakatan yang Menguntungkan Ekonomi Kedua Pihak

Sementara itu, suasana tatap muka di Jenewa diwarnai harapan akan kesepakatan nuklir yang tidak hanya menyelesaikan masalah program nuklir Iran, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak. Hal ini ditegaskan oleh diplomat Iran dalam pernyataan Minggu (15/2/2026) yang dimuat Reuters.

Baca Juga:  Gebrakan Prabowo: Bazar Rakyat dan Hiburan Gratis di Monas Diserbu 100 Ribu Warga

Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, menyatakan bahwa untuk keberlanjutan kesepakatan, sangat penting bagi AS juga mendapatkan keuntungan dengan pengembalian ekonomi yang tinggi dan cepat.

“Kepentingan bersama di ladang minyak dan gas, ladang bersama, investasi pertambangan, dan bahkan pembelian pesawat terbang termasuk dalam negosiasi,” ujar Ghanbari melalui kantor berita semi-resmi Fars, menambahkan bahwa pakta nuklir tahun 2015 dengan kekuatan dunia belum mampu mengamankan kepentingan ekonomi AS.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, juga mengisyaratkan kesiapan negaranya untuk berkompromi pada program nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, seperti yang dilaporkan BBC. “Bola berada di tangan Amerika untuk membuktikan bahwa mereka ingin melakukan kesepakatan,” tegasnya.

Baca Juga:  Dekat Taiwan, Jepang Pasang Sistem Rudal Modern Meski Dikecam Beijing

Iran Siap Kurangi Pengayaan Uranium, Tetapi Tolak Target Nol

Dalam perkembangan terbaru, Kepala Badan Energi Atom Iran pada hari Senin menyatakan bahwa negaranya siap mengurangi tingkat pengayaan uranium tertingginya sebagai bentuk fleksibilitas, dengan syarat sanksi diberikan dicabut. Namun, ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima permintaan untuk menghentikan pengayaan uranium sama sekali (pengayaan nol), meskipun Washington menganggap aktivitas pengayaan di Iran sebagai potensi jalan menuju pembuatan senjata nuklir.

Iran terus membantah tuduhan bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir.

Sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah menekankan agar Iran segera mencapai kesepakatan dengan AS, termasuk saat bertemu Presiden Israel Benjamin Netanyahu di Washington pekan lalu.
( EL)
Sumber CNBC Indonesia