InternasionalJakarta

Israel Ancam Serang Bandara Lebanon Jika Hezbollah Terlibat Perang AS–Iran

189
×

Israel Ancam Serang Bandara Lebanon Jika Hezbollah Terlibat Perang AS–Iran

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com | Manado – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah melayangkan peringatan keras kepada . Pemerintah Israel disebut mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran, termasuk menargetkan infrastruktur sipil seperti bandara, apabila kelompok terlibat dalam potensi perang antara dan .

Informasi tersebut diungkapkan dua pejabat senior Lebanon pada Selasa waktu setempat. Mereka menyebut pesan Israel disampaikan secara tidak langsung melalui jalur diplomatik. Hingga berita ini diturunkan, kantor Perdana Menteri Israel maupun pihak kepresidenan Lebanon belum memberikan tanggapan resmi.

Bayang-Bayang Perang di Tengah Diplomasi Nuklir

Ancaman ini muncul di tengah rencana putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, Kamis mendatang. Pertemuan tersebut telah dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Oman , yang berperan sebagai mediator.

Meningkatnya suhu politik ini mempertegas rapuhnya stabilitas kawasan, terlebih setelah konflik besar antara Israel dan Hezbollah pada 2024. Dalam perang tersebut, Hezbollah mengalami pukulan telak, termasuk tewasnya pemimpin mereka saat itu, , bersama ribuan pejuang lainnya. Sebagian besar persenjataan kelompok itu juga dilaporkan hancur.

Baca Juga:  GUBERNUR YULIUS SELVANUS BERSAMA KETUA TP-PKK SULUT HADIRI PERAYAAN PMKK DI JAKARTA

Perdana Menteri Lebanon, , mengingatkan agar negaranya tidak kembali terseret dalam konflik baru.

“Petualangan (Israel) di Gaza memberikan dampak biaya yang besar bagi Lebanon. Kami berharap kita tidak akan terseret ke dalam petualangan lainnya,” ujarnya dalam wawancara dengan harian lokal Nida al-Watan.

Sikap Hezbollah: Tidak Netral

Hezbollah, yang diyakini memiliki hubungan historis dengan sejak berdirinya pada 1982, sebelumnya menegaskan tidak akan bersikap netral jika konflik pecah.

Pemimpin baru Hezbollah, , dalam pidato televisi bulan lalu menyatakan pihaknya siap membela diri dari setiap bentuk agresi.

“Kami bertekad untuk membela diri. Kami akan memilih pada waktu yang tepat bagaimana cara bertindak, apakah akan melakukan intervensi atau tidak,” tegasnya.

AS Tarik Personel dari Beirut

Situasi keamanan yang memanas juga mendorong Departemen Luar Negeri AS mulai menarik personel pemerintah yang tidak esensial beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut. Seorang pejabat senior AS mengonfirmasi langkah evakuasi tersebut pada Senin.

Baca Juga:  BGN Buka Seleksi PPPK Tahap Ketiga dan Keempat dengan Total 64.920 Formasi, Rencananya Kuartal I-2026

Langkah ini memperkuat indikasi kekhawatiran Washington terhadap potensi eskalasi konflik di Lebanon, terutama jika Hezbollah benar-benar terlibat dalam konfrontasi regional yang lebih luas.

Gencatan Senjata Rapuh

Meski gencatan senjata yang didukung AS antara Israel dan Lebanon telah disepakati pada 2024, Israel masih rutin melancarkan serangan terhadap target yang diklaim sebagai aset Hezbollah. Tel Aviv menuduh kelompok itu berupaya membangun kembali kekuatan militernya.

Data otoritas Lebanon mencatat sekitar 400 orang tewas akibat serangan-serangan tersebut sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.

Di sisi lain, Hezbollah menyatakan telah mematuhi kesepakatan di Lebanon selatan. Pada Januari lalu, militer Lebanon yang didukung AS mengumumkan telah mengambil alih kendali operasional di wilayah selatan sebagai bagian dari upaya menegakkan monopoli senjata di tangan negara. Namun Israel menilai langkah itu masih jauh dari cukup.

Baca Juga:  Paripurna DPR Resmi Tetapkan Sari Yuliati sebagai Wakil Ketua DPR, Tandai Regenerasi Kepemimpinan Golkar

Risiko Konflik Regional

Dengan ketegangan Israel–Iran yang belum mereda dan posisi Hezbollah yang tidak sepenuhnya netral, Lebanon kembali berada di garis depan potensi konflik regional. Setiap langkah yang diambil para pihak dalam beberapa hari ke depan, terutama terkait pembicaraan nuklir di Jenewa, akan menjadi penentu arah stabilitas kawasan Timur Tengah.

(EL)
Sumber: CNBC Indonesia / AFP