Jakarta

Jelang Ramadan 2026, Gerhana Matahari Cincin Terjadi 17 Februari – Hanya Terlihat di Antartika, Waspada Bahaya Luka Bakar Retina

107
×

Jelang Ramadan 2026, Gerhana Matahari Cincin Terjadi 17 Februari – Hanya Terlihat di Antartika, Waspada Bahaya Luka Bakar Retina

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Sebelum umat Muslim memasuki bulan suci Ramadan tahun ini, langit akan menyuguhkan fenomena astronomis menarik: Gerhana Matahari Cincin yang terjadi pada hari Senin, 17 Februari 2026. Sayangnya, pemandangan penuh cincin cahaya Matahari hanya akan terlihat di sebagian wilayah terpencil di Antartika, dengan fase puncak bertepatan pada pukul 07:12 EST atau sekitar 19:12 WIB.

Wilayah lain seperti sebagian besar Antartika, Afrika selatan, dan Amerika Selatan bagian selatan masih dapat menyaksikan Gerhana Matahari Parsial. Bagi masyarakat di Indonesia dan wilayah lain di dunia yang tidak berada di zona pandang, fenomena ini tetap bisa dinikmati melalui siaran langsung resmi yang biasanya diselenggarakan oleh lembaga astronomi dan media terkait.

Apa Itu Gerhana Matahari Cincin?

Baca Juga:  LEBIH DARI 2.400 WNI TERDAMPAK PENINDAKAN SCAM KAMBOJA, KEMENLU SIAPKAN KESEHATAN DAN KEPULANGAN

Gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di posisi sejajar dengan Matahari dan Bumi pada fase Bulan baru, sehingga bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi. Berbeda dengan jenis lain:

– Gerhana Matahari Cincin: Terjadi saat Bulan hanya menutupi sekitar 96% bagian piringan Matahari, membuat lingkaran tipis cahaya seperti cincin mengelilingi bentuk Bulan yang menghalangi.
– Gerhana Matahari Total: Terjadi jika Bulan menutupi seluruh bagian piringan Matahari, sehingga hanya korona (lapisan luar Matahari) yang terlihat jelas.

WASPADA! Menatap Langsung Bisa Merusak Mata Secara Permanen

Meskipun menarik untuk disaksikan, Gerhana Matahari menyimpan risiko bahaya serius jika tidak diamati dengan benar. Peringatan untuk tidak melihat langsung ke arah Matahari – bahkan saat gerhana terjadi – bukan tanpa alasan. Cahaya Matahari yang sangat intens dapat membakar bagian dalam mata dan menyebabkan kerusakan permanen.

Baca Juga:  PWI Pusat: Kedaulatan Data dan Masa Depan Media Nasional dalam Era Digital

Profesor Ralph Chou dari School of Optometry & Vision Science, University of Waterloo, yang dikutip dari Space pada 2017, mengungkapkan pernah menangani kasus pasien dengan bekas luka bakar berbentuk Bulan sabit di bagian belakang mata. “Anda bisa langsung tahu kapan mereka melihatnya – tepat pada saat gerhana terjadi,” katanya.

Kerusakan ini terjadi karena reaksi kimia pada retina, bagian mata yang memiliki sel batang (untuk melihat dalam gelap) dan sel kerucut (untuk melihat warna). Radiasi Matahari yang mengenai retina akan merusak sel-sel tersebut, kondisi yang disebut cedera fotokimia retina atau retinopati surya.

Risiko kerusakan semakin tinggi jika seseorang melihat Matahari secara langsung dalam waktu lama, atau menggunakan alat seperti teleskop tanpa filter pelindung khusus. Hanya pada fase totalitas Gerhana Matahari Total – saat seluruh piringan Matahari tertutup dan hanya korona yang terlihat – yang diperbolehkan melihat tanpa alat bantu pelindung.

Baca Juga:  Mantan Perdana Menteri Iran dalam Tahanan Rumah Serukan Mundurnya Rezim Khamenei: "Permainan Ini Selesai"

Cara Aman Menyaksikan Gerhana Matahari

Untuk mengamati Gerhana Matahari secara langsung (khususnya untuk zona pandang parsial atau cincin), pastikan menggunakan:

– Kacamata pelindung gerhana matahari yang memiliki sertifikasi standar internasional.
– Filter khusus untuk kamera atau teleskop jika ingin menangkap gambar fenomena ini.
– Hindari menggunakan kacamata hitam biasa, kertas bolong, atau layar ponsel, karena tidak dapat melindungi mata dari radiasi berbahaya.

Redaksi Sulut1News