Sulut1news.com, Manado – Di saat banyak daerah berjibaku menahan laju kenaikan harga pangan, Provinsi Sulawesi Utara justru tampil sebagai contoh keberhasilan pengendalian inflasi di kawasan timur Indonesia. Di bawah kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, Sulut berhasil mencatat inflasi terendah di seluruh Regional Sulawesi pada Maret 2026.
Data resmi (BPS) yang dirilis 1 April 2026 menunjukkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Sulawesi Utara berada di angka 2,20 persen. Capaian ini jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sulawesi, bahkan terpaut signifikan dari wilayah dengan inflasi tertinggi yang menyentuh 4,50 persen.
Namun lebih dari sekadar angka statistik, capaian ini mencerminkan arah kepemimpinan yang menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama pembangunan daerah.
Kepemimpinan Lapangan, Bukan Sekadar Kebijakan
Sejak awal masa jabatannya, Yulius Selvanus menekankan pendekatan kepemimpinan yang berbasis kerja nyata di lapangan. Pengendalian inflasi tidak hanya dipandang sebagai tugas teknokratis, melainkan agenda strategis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Melalui penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Pemprov Sulut secara aktif mengawal pergerakan harga, memastikan ketersediaan pasokan, serta menjaga kelancaran distribusi bahan pokok hingga ke wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Langkah ini terbukti efektif. Inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) Sulut pada Maret 2026 tercatat hanya 0,25 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 0,41 persen.
Antisipatif di Tengah Tekanan Pangan Nasional
Secara nasional, inflasi masih didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau—terutama komoditas seperti beras, cabai rawit, telur ayam ras, dan ikan segar. Namun Sulawesi Utara mampu meredam tekanan tersebut melalui strategi yang terintegrasi.
Pemerintah daerah secara rutin menggelar operasi pasar, memperkuat cadangan pangan, serta membangun koordinasi intensif dengan distributor dan pelaku usaha. Pendekatan ini memastikan gejolak harga dapat ditekan sebelum berdampak luas ke masyarakat.
Di sisi lain, kepemimpinan Yulius Selvanus juga menekankan pentingnya kecepatan respons. Setiap indikasi kenaikan harga langsung ditindaklanjuti melalui intervensi pasar yang terukur.
Sinergi dengan Kebijakan Nasional
Keberhasilan ini juga ditopang oleh kemampuan Pemprov Sulut dalam memanfaatkan kebijakan pusat. Paket Stimulus Ekonomi 1-2026 yang memberikan insentif di sektor transportasi turut membantu menekan biaya distribusi.
Penurunan tarif angkutan laut dan layanan logistik berdampak langsung pada stabilitas harga barang di pasar, khususnya di wilayah kepulauan yang selama ini rentan terhadap lonjakan biaya distribusi.
Fondasi Stabilitas untuk Pertumbuhan
Gubernur Yulius Selvanus menegaskan bahwa pengendalian inflasi bukan semata menjaga angka tetap rendah, tetapi memastikan daya beli masyarakat tetap kuat dan ekonomi daerah bergerak secara sehat.
Dengan inflasi yang terkendali, Sulawesi Utara kini memiliki ruang lebih luas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, membuka peluang investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Capaian ini sekaligus mempertegas bahwa di tangan kepemimpinan yang tegas, adaptif, dan berbasis kerja nyata, tantangan ekonomi dapat diubah menjadi kekuatan pembangunan.
Sulawesi Utara pun kini tidak hanya menjadi daerah yang stabil, tetapi juga semakin diperhitungkan sebagai model pengendalian inflasi di kawasan timur Indonesia.
(EL)






