DaerahEkonomi & BisnisJakarta

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, BRIN Soroti Kombinasi Tufa Rapuh, Gempa dan Irigasi

271
×

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, BRIN Soroti Kombinasi Tufa Rapuh, Gempa dan Irigasi

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Fenomena lubang raksasa yang muncul di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, memicu spekulasi publik sebagai sinkhole. Namun penjelasan ilmiah dari (BRIN) mengungkap fakta berbeda: ini adalah proses longsoran geologi yang berkembang perlahan selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan kawasan tersebut tidak tersusun atas batu gamping—material yang lazim memicu sinkhole akibat pelarutan bawah tanah. Sebaliknya, wilayah itu didominasi tufa, material vulkanik muda hasil aktivitas yang kini tidak aktif.

“Tufa ini belum terpadatkan dengan baik. Kekuatannya rendah dan mudah tergerus, sehingga yang terjadi adalah longsoran bertahap, bukan amblesan mendadak seperti sinkhole,” jelas Adrin, Sabtu (21/2/2026).


Proses Panjang yang Terbaca dari Satelit

Analisis citra satelit sejak 2010 menunjukkan area tersebut sudah memiliki lembah kecil yang perlahan melebar akibat erosi. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, proses alam itu terus menggerus lereng hingga akhirnya membentuk lubang besar yang kini viral di media sosial.

Baca Juga:  Indonesia dan Inggris Jalin Kerja Sama Strategis dalam Pembangunan Kapal Perikanan

Artinya, fenomena ini bukan kejadian instan.

“Ini akumulasi proses geologi yang berlangsung lama. Ada tahapan pelemahan, penggerusan, lalu keruntuhan bertahap,” ungkapnya.

BRIN menduga gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 turut mempercepat ketidakstabilan lereng. Getaran gempa berpotensi melemahkan struktur tufa yang memang sudah rapuh.


Hujan Lebat dan Irigasi Perkebunan Jadi Faktor Kritis

Selain faktor gempa, hujan lebat menjadi pemicu utama. Tufa yang rapuh mudah menyerap air dan cepat jenuh, sehingga kehilangan daya ikat. Ketika daya dukung melemah, lereng runtuh secara progresif.

Menariknya, BRIN juga menyoroti peran saluran irigasi perkebunan yang terbuka di sekitar lokasi. Air yang terus meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa, mempercepat proses keruntuhan.

Baca Juga:  LEBIH DARI 11 RIBU ORANG DAPAT KEWARGANEGARAAN KOREA SELATAN TAHUN 2025, CAPAIAN TERTINGGI SEJAK PANDEMI

“Air adalah faktor kunci. Jika terus masuk ke lapisan yang sudah rapuh, stabilitasnya makin berkurang,” kata Adrin.

Hipotesis lain menyebut adanya aliran air tanah yang menggerus batas antara lapisan tufa rapuh dan batuan lebih padat di bawahnya. Ketika penyangga alami hilang, bagian atas lereng perlahan runtuh.


Pola Geologi yang Mirip Wilayah Lain

Fenomena serupa, menurut Adrin, bisa ditemukan di wilayah dengan batuan gunung api muda. Ia mencontohkan di Sumatera Barat, yang terbentuk melalui proses geologi panjang terkait aktivitas .

Artinya, lubang raksasa di Aceh Tengah bukan fenomena unik, melainkan bagian dari dinamika geologi kawasan vulkanik Indonesia yang aktif secara tektonik.


Alarm Mitigasi: Perbarui Peta Kerentanan

BRIN mengakui belum melakukan penelitian lapangan langsung dan masih mengandalkan analisis citra satelit serta data publik. Namun, lembaga tersebut mendorong pembaruan peta kerentanan gerakan tanah agar lebih operasional dan akurat.

Baca Juga:  PLN Sukses Terangi Idulfitri 1447 H, Listrik Andal di Seluruh Indonesia Tanpa Gangguan

Adrin juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tanda awal seperti retakan tanah, amblesan kecil, atau perubahan kontur lereng.

“Yang terpenting adalah memahami prosesnya. Dengan mitigasi tepat, risiko korban jiwa bisa dihindari,” tegasnya.


Catatan untuk Daerah Rawan Longsor

Kasus Aceh Tengah menjadi pengingat bahwa risiko bencana di kawasan vulkanik tidak selalu dramatis dan mendadak. Banyak di antaranya merupakan hasil proses lambat yang luput dari perhatian hingga akhirnya terlihat ekstrem.

Bagi daerah-daerah dengan karakter batuan serupa—termasuk sejumlah wilayah di Sulawesi Utara—pemantauan lereng, pengelolaan air permukaan, serta pengawasan tata guna lahan menjadi kunci utama pencegahan.

Lubang raksasa ini bukan sekadar fenomena viral, tetapi peringatan ilmiah bahwa alam bekerja dalam waktu panjang—dan manusia perlu membaca tanda-tandanya lebih dini.

Redaksi Sulut1News