Ekonomi & BisnisJakarta

Obsesi Uang Tak Selalu Membawa Bahagia: Fenomena Money Worship dan Dampaknya bagi Keuangan Pribadi

137
×

Obsesi Uang Tak Selalu Membawa Bahagia: Fenomena Money Worship dan Dampaknya bagi Keuangan Pribadi

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Jakarta – Uang kerap dipandang sebagai kunci untuk meraih hampir semua hal dalam hidup, mulai dari rasa aman hingga kebahagiaan. Namun di balik keyakinan tersebut, para ahli psikologi keuangan mengingatkan adanya pola pikir yang justru dapat menjerumuskan seseorang pada masalah finansial dan tekanan psikologis. Fenomena ini dikenal dengan istilah money worship.

Dalam pandangan ini, kekayaan dianggap sebagai sumber utama kebahagiaan, rasa aman, bahkan harga diri. Akibatnya, semakin banyak uang yang dimiliki, semakin besar pula keyakinan bahwa hidup akan menjadi lebih baik.

Padahal, menurut para peneliti di bidang psikologi finansial, hubungan emosional yang tidak sehat dengan uang justru dapat memicu perilaku konsumtif, utang, hingga stres finansial.

Empat Pola Psikologi Uang

Psikolog keuangan Brad Klontz, peneliti di bidang financial psychology sekaligus anggota CNBC Financial Advisor Council, menjelaskan bahwa perilaku finansial manusia sering kali dipengaruhi oleh keyakinan yang terbentuk sejak masa kecil.

Ia mengelompokkan cara pandang manusia terhadap uang ke dalam empat pola utama yang disebut money scripts, yaitu:

  1. Money Avoidance – menganggap uang sebagai sesuatu yang buruk atau tidak penting.
  2. Money Worship – percaya bahwa semakin banyak uang, semakin besar kebahagiaan.
  3. Money Status – menjadikan uang sebagai simbol status sosial.
  4. Money Vigilance – sangat berhati-hati dan cenderung khawatir terhadap keuangan.
Baca Juga:  Gubernur Yulius Selvanus: Komitmen untuk Legalisasi Pertambangan Rakyat di Sulawesi Utara

Di antara keempat pola tersebut, money worship dinilai paling sering memicu perilaku keuangan yang tidak sehat.

“Para pemuja uang percaya bahwa kekayaan adalah kunci untuk menyelesaikan semua masalah mereka dan menemukan kebahagiaan,” ujar Klontz dalam laporan CNBC Make It.

Mendorong Perilaku Konsumtif

Salah satu dampak paling nyata dari pola pikir money worship adalah meningkatnya perilaku konsumtif. Individu dengan pola ini sering mengaitkan kebahagiaan dengan kemampuan membeli barang atau meningkatkan gaya hidup.

Namun kepuasan tersebut biasanya hanya bersifat sementara.

Penelitian yang dilakukan oleh Brad Klontz bersama pakar keuangan keluarga Sonya Britt menemukan bahwa individu dengan pola money worship cenderung memiliki utang kartu kredit lebih tinggi serta kekayaan bersih yang lebih rendah dibandingkan orang dengan pola keuangan yang lebih sehat.

Baca Juga:  Bansos Dipercepat! Data Diterima Tiap Tanggal 10, Penyaluran Lebih Cepat

Selain itu, hubungan emosional yang tidak seimbang dengan uang juga dapat memicu tekanan psikologis.

Terapis keluarga sekaligus pendiri Financial Psychology Center, Dr. Alex Melkumian, menilai banyak orang tidak menyadari bahwa keputusan finansial mereka sering didorong oleh emosi.

“Jika kita tidak menyadari apa masalahnya, kita tidak bisa mengubahnya,” ujar Melkumian dalam pembahasan mengenai psikologi keuangan, Senin (9/3/2026).

Akibatnya, banyak orang terjebak dalam siklus konsumsi yang berulang: membeli sesuatu untuk merasa bahagia, tetapi ketika efek emosionalnya hilang, rasa tidak puas kembali muncul.

Fenomena yang Banyak Terjadi di Kota Besar

Fenomena money worship juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan pekerja muda di kota-kota besar.

Banyak dari mereka mengejar gaji tinggi dengan bekerja lembur hampir setiap hari demi meningkatkan pendapatan. Tujuannya sering kali berkaitan dengan target gaya hidup, seperti membeli rumah, mobil, atau mengikuti tren sosial.

Namun peningkatan penghasilan tidak selalu diikuti peningkatan tabungan.

Sebaliknya, pengeluaran justru meningkat karena gaya hidup ikut berubah. Kondisi ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu ketika pengeluaran meningkat seiring kenaikan pendapatan sehingga kondisi finansial tidak benar-benar membaik.

Baca Juga:  Polri Luncurkan Super App Pelaporan Online, Wujudkan Layanan Cepat, Transparan, dan Tanpa Batas

Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Uang

Para pakar menegaskan bahwa solusi dari fenomena money worship bukan berarti menganggap uang tidak penting. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah membangun hubungan yang lebih sehat dengan keuangan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Mengenali keyakinan tentang uang
Memahami bagaimana seseorang memandang uang dapat membantu mengevaluasi apakah pola pikir tersebut membantu atau justru merugikan kondisi finansial.

2. Menetapkan tujuan hidup yang lebih luas
Kebahagiaan tidak hanya berasal dari kekayaan. Hubungan sosial, kesehatan, serta kepuasan hidup juga memainkan peran penting dalam kualitas hidup seseorang.

3. Meningkatkan literasi keuangan
Pengetahuan tentang pengelolaan uang, menabung, dan berinvestasi dapat membantu mencapai stabilitas finansial tanpa harus terjebak dalam obsesi terhadap kekayaan.

Pada akhirnya, para ahli menilai uang memang penting untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun menjadikannya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan justru berisiko membuat seseorang terjebak dalam siklus finansial yang tidak sehat.

Redaksi Sulut1News