Sulut1news.com, Jakarta – Operasi penegakan hukum terhadap kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua Pegunungan memasuki babak baru. berhasil meringkus dua anggota KKB yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) prioritas di Kabupaten Yahukimo, sebuah wilayah yang dalam dua bulan terakhir mencatat lonjakan signifikan gangguan keamanan.
Dua DPO yang diamankan adalah Homi Heluka dan Simak Kipka. Keduanya diduga memiliki peran penting dalam sejumlah aksi kekerasan bersenjata yang terjadi sepanjang 2022 hingga awal 2026.
Peran Sentral dalam Serangkaian Aksi Kekerasan
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Faisal Ramadhani, menjelaskan bahwa Homi Heluka diduga terlibat dalam sejumlah tindak pidana berat, mulai dari penembakan anggota Polri di Jalan arah Logpon pada 2022 yang menyebabkan korban meninggal dunia, hingga pembakaran mobil Sat Binmas di Jalan Paradiso pada 28 Januari 2025.
Selain itu, ia juga disebut terlibat dalam pembunuhan warga pendulang emas pada April 2025, penembakan anggota Kodim Serka Segar Mulyana pada 16 Juni 2025, serta penganiayaan berat terhadap warga sipil dan penembakan terhadap warga bernama Suwono pada 12 Februari 2026.
Sementara itu, Simak Kipka diduga terlibat dalam pembakaran mobil Mitsubishi Triton milik Kepala Desa Almadi pada 18 Februari 2026 di sekitar Kantor DPRD Yahukimo.
Saat ini, keduanya menjalani pemeriksaan intensif di Polres Yahukimo untuk pendalaman jaringan, termasuk kemungkinan keterlibatan aktor lain dalam rangkaian aksi bersenjata tersebut.
Lonjakan Kekerasan: 3 Kasus Jadi 23 Kasus
Penangkapan ini tidak berdiri sendiri. Data yang dipaparkan aparat menunjukkan eskalasi kekerasan yang mencolok di Yahukimo.
Pada periode Januari–Februari 2025, tercatat tiga gangguan keamanan. Namun pada periode yang sama di tahun 2026, jumlah tersebut melonjak menjadi 23 kejadian hingga pertengahan Februari.
Lonjakan tersebut disebut telah diprediksi aparat sejak kaburnya Kopi Tua Heluka dari Lapas Wamena pada 25 Februari 2025. Sejak peristiwa itu, aktivitas kelompok bersenjata di wilayah Yahukimo disebut semakin agresif dan terorganisir.
Strategi Tekan Ruang Gerak
Mengantisipasi eskalasi, Satgas Damai Cartenz melakukan penguatan personel secara signifikan. Pada Januari 2026, jumlah pasukan ditingkatkan dari sekitar 80 menjadi 150 personel. Februari 2026 kembali ditambah 50 personel, sehingga total kekuatan mencapai sekitar 250 personel yang difokuskan untuk langkah pencegahan dan pengejaran DPO prioritas.
Langkah ini dinilai sebagai respons taktis atas perubahan pola pergerakan kelompok bersenjata yang dinilai semakin berani menyasar aparat maupun warga sipil.
Ujian Stabilitas Keamanan Papua Pegunungan
Situasi di Yahukimo menjadi cerminan tantangan keamanan di wilayah pegunungan Papua yang masih menghadapi dinamika konflik bersenjata. Penangkapan dua DPO prioritas ini diharapkan dapat mempersempit ruang gerak jaringan dan menurunkan intensitas serangan dalam waktu dekat.
Namun, peningkatan signifikan jumlah insiden menunjukkan bahwa pendekatan keamanan perlu berjalan beriringan dengan strategi sosial dan pembangunan agar stabilitas jangka panjang dapat terwujud.
Satgas Damai Cartenz memastikan operasi akan terus dilakukan secara terukur dengan fokus pada penegakan hukum dan perlindungan masyarakat sipil.
Redaksi Sulut1News






