Sulut1news.com, Manado – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) menegaskan bahwa setiap aspirasi masyarakat bukan sekadar catatan, melainkan bahan bakar utama dalam mempercepat realisasi program strategis daerah. Di tengah derasnya arus kritik dan masukan publik—baik di ruang langsung maupun media sosial—pemerintah justru mengonsolidasikannya menjadi langkah konkret yang kini mulai menunjukkan hasil terukur.
Di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur , arah pembangunan Sulut difokuskan pada eksekusi program yang konsisten, berbasis data, serta berdampak langsung bagi masyarakat.
Salah satu indikator kuat terlihat dari capaian makro ekonomi. Pada Triwulan IV 2025, ekonomi Sulut tumbuh 5,66 persen (c-to-c) dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 204,75 triliun. Angka ini menjadi sinyal bahwa stabilitas pembangunan tetap terjaga di tengah dinamika global.
Namun, Pemprov menekankan bahwa angka bukan tujuan akhir. Fokus utama adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dirasakan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Infrastruktur Jadi Tulang Punggung, Logistik Ditekan
Di sektor infrastruktur, percepatan perbaikan jalan provinsi terus digenjot, terutama pada jalur distribusi logistik dan akses ekonomi warga. Pemeliharaan rutin hingga rekonstruksi di titik terdampak cuaca ekstrem kini berlangsung bertahap.
Lebih dari sekadar perbaikan jalan, Sulut tengah diarahkan menjadi simpul logistik internasional di kawasan timur Indonesia. Integrasi transportasi udara, laut, dan darat diproyeksikan mampu menekan biaya logistik sekaligus membuka peluang investasi baru.
SDM Unggul, Investasi Mengalir
Transformasi ekonomi Sulut juga ditopang peningkatan kualitas sumber daya manusia. Investasi di sektor pariwisata dan industri pengolahan tumbuh hampir 10 persen, menciptakan ribuan lapangan kerja baru.
Program vokasi menjadi salah satu strategi kunci. Ratusan lulusan SMK dan mahasiswa telah diberangkatkan magang ke Jepang, memperkuat daya saing tenaga kerja Sulut di level global.
Di sisi lain, pembangunan SMA Taruna Nusantara di Langowan serta pembukaan Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri Manado (UNIMA) menjadi fondasi jangka panjang dalam mencetak SDM unggul.
Petani dan Nelayan Naik Kelas
Sektor pertanian dan kelautan yang menjadi urat nadi ekonomi daerah turut menunjukkan progres signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 naik menjadi 128,50—indikator meningkatnya kesejahteraan petani.
Distribusi alat mesin pertanian modern, optimalisasi 2.000 hektare lahan padi, hingga penguatan sektor perikanan melalui armada tangkap dan cold storage, mendorong lonjakan ekspor hingga 28,42 persen.
Langkah ini menandai pergeseran strategi dari sekadar produksi menuju hilirisasi dan ekspor langsung.
Layanan Dasar Diperluas Hingga Kepulauan
Di sektor kesehatan dan pendidikan, Pemprov Sulut menegaskan tidak ada kompromi terhadap kualitas layanan dasar.
Keberhasilan meraih UHC Award 2026 menjadi bukti komitmen menghadirkan jaminan kesehatan menyeluruh. Layanan diperkuat dengan kapal klinik untuk wilayah kepulauan seperti Sangihe dan Talaud, ambulans pelosok, serta pengembangan fasilitas medis seperti gedung kanker terpadu di RSUP Kandouw.
Sementara itu, di sektor pendidikan, revitalisasi fasilitas sekolah dan pemberian ribuan beasiswa terus dilakukan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Jaga Daya Beli, Hadirkan Keadilan Energi
Menghadapi tekanan ekonomi global, Pemprov Sulut aktif menjaga stabilitas harga melalui Gerakan Pangan Murah yang telah menjangkau 190 titik di seluruh daerah.
Di saat yang sama, kehadiran listrik 24 jam di enam pulau terluar pada 2025 menjadi simbol nyata pemerataan pembangunan—bahwa negara hadir hingga ke wilayah paling terpencil.
Dari Aspirasi ke Kebijakan Nyata
Pemprov Sulut menegaskan bahwa kritik dan aspirasi masyarakat bukan hambatan, melainkan bagian dari mekanisme kontrol sosial yang memperkuat arah pembangunan.
Dengan semangat mapalus—gotong royong khas Sulawesi Utara—pemerintah optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan secara inklusif.
Pendekatan ini menandai perubahan pola kepemimpinan: dari sekadar merespons aspirasi, menjadi mengintegrasikannya langsung ke dalam kebijakan dan eksekusi program.
Sulut kini tidak hanya bergerak, tetapi berakselerasi—dengan masyarakat sebagai mitra utama pembangunan.
(EL)






