Sulut1news.com, Taipei — Pendaki ekstrem legendaris asal Amerika Serikat, Alex Honnold (40), kembali mencuri perhatian dunia setelah sukses menaklukkan Taipei 101, gedung pencakar langit ikonik di Taipei, Taiwan, dalam sebuah aksi panjat urban yang menegangkan dan bersejarah.
Honnold berhasil mencapai puncak gedung setinggi 1.667 kaki tersebut dalam waktu 1 jam 31 menit 35 detik. Setibanya di puncak, ia sempat melakukan swafoto menggunakan ponselnya, yang langsung disambut aplaus dan sorakan meriah dari masyarakat serta para saksi yang menyaksikan aksi berani tersebut dari bawah.
Taipei 101 yang saat ini menempati posisi gedung tertinggi ke-11 di dunia, dikenal memiliki struktur arsitektur kompleks dengan permukaan vertikal yang tidak dirancang untuk aktivitas panjat. Hal ini menjadikan pendakian tersebut sebagai tantangan ekstrem, bahkan bagi pendaki profesional sekaliber Honnold.
Pendakian ini tidak semata-mata mengandalkan kecepatan, tetapi juga menuntut ketahanan fisik, fokus mental tingkat tinggi, serta penguasaan teknik panjat yang presisi. Berbeda dengan tebing alami, panjat urban mengharuskan pendaki beradaptasi dengan permukaan beton, baja, dan elemen bangunan modern yang minim celah pijakan alami.
Alex Honnold dikenal luas sebagai salah satu pendaki paling berpengaruh di dunia. Namanya melejit setelah melakukan aksi free solo climbing, yakni memanjat tanpa tali pengaman, di tebing legendaris El Capitan, Taman Nasional Yosemite, Amerika Serikat. Aksi ekstrem tersebut kemudian diabadikan dalam film dokumenter Free Solo yang meraih Academy Award (Oscar).
Keberhasilan menaklukkan Taipei 101 semakin mengukuhkan reputasi Honnold sebagai ikon olahraga ekstrem dunia. Aksi ini juga mencerminkan berkembangnya tren panjat tebing urban, yang kini mulai diakui sebagai bentuk baru eksplorasi olahraga ekstrem di kawasan metropolitan.
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Honnold, tetapi juga menambah catatan penting dalam sejarah panjat tebing modern, sekaligus menunjukkan bagaimana lanskap kota dapat menjadi arena tantangan ekstrem kelas dunia.
(EL)






