Sulut1news.com, Jakarta — Genap 25 tahun sejak serangan teror 11 September 2001 yang mengguncang Amerika Serikat, dunia tidak hanya mengenang korban jiwa yang hampir mencapai 3.000 orang, tetapi juga mencatat biaya raksasa yang harus dibayar untuk perang melawan terorisme yang meletus setelah peristiwa itu.
Serangan 9/11 mengubah peta geopolitik global secara mendadak. Sembilan belas anggota Al-Qaeda membajak empat pesawat komersial — dua menabrak Menara Kembar WTC di New York, satu menghantam Pentagon, dan satu lagi jatuh di Pennsylvania. Peristiwa itu menjadi pintu gerbang bagi rentetan perang dan operasi militer AS yang menyebar ke berbagai benua.
Berdasarkan temuan Proyek Costs of War dari Universitas Brown, total biaya perang AS pasca-9/11 telah menembus US$8 triliun atau setara Rp140.800 triliun (asumsi kurs Rp17.600 per dolar AS). Angka itu mencakup operasi militer di Afghanistan, Irak, Pakistan, Suriah, dan wilayah lain di dunia.
Namun, tagihan sebenarnya bisa jauh lebih besar. Perhitungan itu belum memasukkan bunga utang yang digunakan untuk membiayai perang, serta kewajiban jangka panjang perawatan veteran perang yang diperkirakan akan menelan biaya US$2,2–2,5 triliun hingga tahun 2050.
Biaya raksasa itu sejalan dengan jangkauan operasi yang sangat luas. Peneliti mencatat, sepanjang 2021–2023, AS masih menjalankan operasi kontra-terorisme di 78 negara, dengan pertempuran darat di sedikitnya sembilan negara dan serangan udara di empat negara. Angka ini memang turun dari periode 2018–2020 yang mencakup 85 negara, tetapi tetap menunjukkan skala global yang masif.
Direktur Proyek Costs of War, Stephanie Savell, menegaskan bahwa biaya perang tidak berhenti saat tembakan berhenti berbunyi. Perawatan korban, pemulihan wilayah, dan dampak ekonomi yang terganggu terus menjadi beban yang ditanggung masyarakat internasional.
Pengeluaran militer AS tidak hanya muncul saat konflik pecah. Ketegangan geopolitik juga memakan anggaran yang tidak kalah besar:
– Rivalitas militer dengan China: ±US$260 miliar per tahun sejak 2012
– Bantuan militer & operasi di Timur Tengah pasca-serangan ke Israel: US$31–34 miliar
– Konflik AS–Iran 2026: Diperkirakan US$37,5 miliar hingga September tahun ini
Angka-angka ini menunjukkan bahwa biaya pertahanan dan keamanan global tidak hanya berupa biaya perang, tetapi juga biaya ketegangan, persiapan, dan persenjataan yang terus berjalan.
Dari sudut pandang kita di Indonesia, angka-angka raksasa ini mengingatkan betapa mahalnya harga sebuah konflik bersenjata. Dana yang setara belasan ribu triliun rupiah itu, jika dialihkan, bisa membangun infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan di banyak negara berkembang selama puluhan tahun.
Peristiwa 9/11 menjadi pengingat: perang tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghisap sumber daya yang seharusnya bisa menyejahterakan kehidupan manusia. 25 tahun kemudian, pertanyaannya tetap relevan — apakah harga yang dibayarkan sudah sebanding dengan perdamaian yang dicapai?
Redaksi Sulut1News






