Sulut

Rona Budaya 2026: Gubernur Yulius Dorong Budaya Sulut Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif dan Identitas Daerah

367
×

Rona Budaya 2026: Gubernur Yulius Dorong Budaya Sulut Jadi Kekuatan Ekonomi Kreatif dan Identitas Daerah

Sebarkan artikel ini

Sulut1news.com, Manado – Halaman Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara berubah menjadi ruang perjumpaan budaya, kreativitas, dan ekonomi masyarakat, Sabtu (12/9/2026). Di tengah pertunjukan seni, pameran UMKM, hingga workshop kerajinan tradisional, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara membawa satu pesan penting: budaya tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi harus menjadi kekuatan untuk membangun masa depan daerah.

Pesan tersebut mengemuka dalam Rona Budaya Sulut 2026, kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-62 Provinsi Sulawesi Utara.

Mengusung tema “Merayakan Warisan Budaya, Merawat Keberagaman, Menguatkan Identitas”, kegiatan ini tidak sekadar menampilkan kesenian tradisional. Pameran ekonomi kreatif, diskusi sejarah, workshop kerajinan, pameran temporer hingga pagelaran seni dirancang menjadi satu ruang yang mempertemukan warisan leluhur dengan peluang ekonomi generasi masa kini.

Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, menegaskan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

Menurutnya, budaya memiliki dua fungsi strategis sekaligus. Di satu sisi menjadi benteng identitas masyarakat, sementara di sisi lain dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata.

“Kebudayaan bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia adalah benteng pertahanan jati diri dan mesin penggerak ekonomi kreatif serta pariwisata,” ujar Yulius.

Bagi Yulius, kekayaan budaya Sulawesi Utara merupakan modal besar yang tidak dimiliki semua daerah. Keragaman tradisi yang tumbuh di Nusa Utara, Minahasa Raya, dan Bolaang Mongondow Raya menjadi bagian dari identitas kolektif yang harus dipelihara, sekaligus dikembangkan agar memiliki nilai tambah.

Baca Juga:  Gubernur Yulius: Iman dan Karakter Adalah Senjata Pemuda Menaklukkan Tantangan Global

Karena itu, Gubernur mengingatkan generasi muda agar tidak melihat modernisasi sebagai alasan untuk meninggalkan akar budaya.

“Jadilah generasi yang modern, namun berakar kuat pada identitas leluhur. Bangga menjadi orang Sulawesi Utara, bangga dengan budayanya,” ajaknya.

Semangat tersebut terlihat sepanjang pelaksanaan Rona Budaya Sulut 2026. Sejak pagi, halaman museum dipenuhi aktivitas masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif.

Pameran UMKM berlangsung hingga malam hari. Pada saat bersamaan, pengunjung juga dapat menikmati Pameran Temporer Memoar serta pameran instalasi “Lapis Lapis Waktu” yang digelar di lantai dua museum dan area penonton.

Rangkaian kegiatan juga menghadirkan talkshow Perempuan Minahasa, Perjuangan, dan Warisan Nilai. Forum ini menjadi ruang untuk menggali kembali kontribusi dan nilai perjuangan perempuan Minahasa dalam perjalanan sejarah daerah.

Baca Juga:  30 Ribu Kursi Manager Kopdes Merah Putih Dibuka: Momentum Emas Anak Muda Bangun Ekonomi Desa

Tidak hanya berbicara tentang sejarah, masyarakat juga diajak mengenal langsung proses pelestarian kerajinan tradisional melalui workshop Gerabah Pulutan.

Dengan konsep tersebut, Rona Budaya tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai penonton. Warga diberikan ruang untuk melihat, belajar, berinteraksi, sekaligus mengenal potensi ekonomi yang dapat lahir dari kebudayaan.

Memasuki sore hingga malam hari, atmosfer Rona Budaya semakin semarak. Panggung utama menghadirkan beragam ekspresi seni dari sejumlah wilayah Sulawesi Utara.

Penampilan Kolintang dari Tomohon, Penyanyi 3 Daerah dari Minahasa Tenggara, serta Musik Bambu Minahasa membuka rangkaian pertunjukan.

Panggung budaya selanjutnya menampilkan sejumlah kesenian daerah, di antaranya Tari Maengket, Tari Kenari, Tari Baluat, Makaaruyen, dan Mawolay, serta penampilan penyanyi solo dan duet.

Keragaman pertunjukan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa identitas Sulawesi Utara tidak berdiri pada satu tradisi, melainkan dibangun dari berbagai kebudayaan yang hidup berdampingan.

Dalam momentum tersebut, Pemprov Sulut juga menetapkan Pekan Kebudayaan Daerah sebagai agenda yang akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

Baca Juga:   Viktor Mailangkay: Audit BPK Momentum Perkuat Sistem Pangan Sulawesi Utara

Kebijakan ini diarahkan agar pelestarian budaya tidak hanya berlangsung melalui kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi agenda berkelanjutan yang membuka ruang lebih besar bagi pelaku seni, komunitas budaya, UMKM dan ekonomi kreatif.

Langkah tersebut sekaligus mempertegas arah kebijakan Pemprov Sulut untuk menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi daerah.

Yulius pun mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Sulawesi Utara.

“Siapa lagi kalau bukan kita. Kita ini untuk itu,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur memberikan apresiasi kepada Kepala Dinas Kebudayaan Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengan, M.Tr.AP., atas inovasi yang dilakukan dalam mendorong kebangkitan budaya di daerah.

Rona Budaya Sulut 2026 akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk mengenang masa lalu. Lebih dari itu, kegiatan ini memperlihatkan upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk menjadikan budaya sebagai identitas yang tetap hidup, ruang kreativitas bagi generasi muda, sekaligus modal ekonomi kreatif yang dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat. (EL)